

Halaman 1
Di pondok tepi hutan tinggal seorang ibu dan dua putrinya. Di halaman tumbuh dua pohon mawar. Yang satu berbunga putih, yang satu berbunga merah. Karena itu anak-anak itu dipanggil Mawar Putih dan Mawar Merah.

Halaman 2
Mawar Putih suka duduk membaca di dekat perapian. Mawar Merah suka berlari di padang mengejar kupu-kupu. Tapi ke mana pun mereka pergi, tangan mereka selalu bergandengan. Hewan-hewan hutan pun tak pernah takut kepada mereka.
Halaman 3
Suatu malam musim dingin, terdengar ketukan di pintu. Tok, tok. "Siapa di luar?" tanya ibu. "Aku hanya beruang kedinginan," jawab suara berat. "Bolehkah aku menghangatkan diri?" Ibu membuka pintu, dan masuklah beruang besar berbulu hitam.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Anak-anak itu awalnya mundur. Tapi beruang berbaring di dekat perapian dan berkata, "Tenang saja, aku tidak akan menakuti siapa pun." Malam demi malam beruang datang. Mawar Putih dan Mawar Merah bermain, menyisir bulunya, dan tertawa bersamanya.
Halaman 5
Saat musim semi tiba, beruang berkata, "Aku harus pergi menjaga hartaku dari seorang kurcaci nakal." Ia melangkah ke hutan. Sepotong bulunya tersangkut di pintu, dan sekilas ada kilau emas di baliknya. Mawar Putih heran, tapi diam saja.
Halaman 6
Beberapa hari kemudian, kedua gadis pergi mencari kayu. Di dekat pohon tumbang, mereka melihat kurcaci tua. Janggutnya yang panjang terjepit di celah pohon! "Jangan berdiri saja! Lepaskan aku!" bentaknya, tanpa sedikit pun berkata dengan sopan.
Halaman 7
Mawar Putih mengeluarkan gunting kecil dan memotong ujung janggut itu. Kurcaci langsung melompat bebas. "Janggutku yang indah!" gerutunya. Ia menyambar karung emasnya dan pergi tanpa berterima kasih sama sekali.
Halaman 8
Suatu pagi, janggut kurcaci tersangkut kail di tepi sungai. Seekor ikan besar hampir menyeretnya ke air! Kedua gadis menolongnya lagi dengan sabar. Dan lagi-lagi kurcaci hanya menggerutu, "Anak ceroboh!" lalu pergi membawa permatanya.
Halaman 9
Suatu sore mereka melihat kurcaci menghitung permata di batu. Beruang hitam muncul dari balik pohon! Kurcaci menjerit, lalu melompat ke lubangnya dan tidak keluar lagi. Sihirnya pun luntur: bulu beruang rontok, dan berdirilah seorang pangeran.
Halaman 10
"Kurcaci itu menyihirku dan mencuri hartaku," katanya. "Terima kasih sudah menjadi sahabatku." Sejak itu dua pohon mawar ikut ditanam di halaman istana. Malam ini bunga menutup kelopaknya pelan. Tutup matamu juga, seperti mawar putih dan merah.
Ini salah satu dongeng Grimm yang paling hangat: beruangnya baik hati sejak halaman pertama. Dalam buku aslinya si sulung juga bernama "Putih Salju", sehingga sering tertukar dengan Putri Salju — padahal gadisnya berbeda dan kisahnya berbeda. Di versi kami keduanya dinamai menurut dua pohon mawar di halaman rumah.
Jangkarnya bisa dipetik di kios bunga terdekat: tunjukkan dua mawar berbeda warna, putih dan merah. Dua kakak beradik ini pun berbeda — satu suka membaca di dekat perapian, satu berlari mengejar kupu-kupu — tapi ke mana pun pergi, tangan mereka bergandengan.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Di buku tua kurcaci tamak itu binasa di akhir cerita; di versi kami ia melompat ke lubangnya dan tidak keluar lagi, lalu sihirnya luntur. Bahan ngobrol: dua kali kurcaci ditolong tanpa sekali pun berterima kasih — tanyakan pada anak, kenapa kakak beradik itu tetap mau menolongnya?
Kebaikan tetap kebaikan, meski orang yang kita tolong lupa berterima kasih.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.