

Halaman 1
Jauh di tengah Samudra Pasifik, ada deretan pulau bernama Hawaii. Orang Hawaii bercerita tentang Pele, dewi gunung berapi dalam legenda mereka. Rambut Pele hitam berombak seperti aliran lava. Di dalam hatinya menyala api yang hangat.

Halaman 2
Dahulu, Pele tinggal jauh di negeri seberang. Tapi api di hatinya butuh rumah: sebuah lubang yang dalam untuk menyimpan baranya. «Aku akan berlayar mencari rumah untuk apiku,» kata Pele. Ia naik perahu layar besar bersama adik-adiknya.
Halaman 3
Pele tiba di pulau pertama. Dengan tongkat penggalinya, ia menggali lubang yang dalam. Kruk, kruk, kruk! Tapi air laut merembes masuk dan memadamkan baranya. Psss! «Belum cocok,» kata Pele. «Lubangnya kurang dalam.» Ia berlayar lagi.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Di pulau kedua, Pele menggali lebih dalam. Air merembes lagi. Di pulau ketiga, keempat, kelima — sama saja. Psss, psss! Adik-adiknya mulai lelah. «Mungkin tidak ada rumah untuk kita,» keluh mereka. «Ada,» jawab Pele. «Kita hanya belum sampai.»
Halaman 5
Konon, lubang-lubang galian Pele itu masih ada sampai sekarang. Itulah kawah-kawah di puncak pulau-pulau Hawaii. Setiap pulau menyimpan satu kenangan tentang Pele yang pernah singgah mencari rumah untuk apinya.
Halaman 6
Akhirnya perahu Pele tiba di pulau paling besar. Di sana berdiri gunung tinggi menjulang. Pele menggali di lerengnya, dalam sekali, sampai air laut tidak bisa masuk. Ia meletakkan baranya di dasar lubang. Api menyala tenang. «Rumahku,» bisik Pele.
Halaman 7
Gunung itu bernama Kilauea. Sejak Pele tinggal di sana, puncaknya kadang menyala kemerahan. Orang Hawaii tersenyum melihatnya. «Pele sedang menyalakan perapiannya,» kata mereka. «Ia sedang memasak, atau menari di dekat apinya.»
Halaman 8
Pele juga suka mencipta. Kalau lava mengalir pelan ke laut, air mendesis dan lava mengeras menjadi batu. Sedikit demi sedikit, terbentuklah tanah baru. Pulau menjadi semakin luas. «Kubuatkan tanah baru untuk tumbuhan dan hewan,» kata Pele.
Halaman 9
Di atas batu lava yang sudah dingin, tumbuh bunga pertama: lehua yang merah menyala. Konon itu bunga kesayangan Pele. Bunga itu menandakan bahwa setelah panas, selalu datang hijau yang baru. Anak-anak Hawaii memandangnya sambil tersenyum.
Halaman 10
Malam ini Pele duduk tenang di tepi perapiannya. Cahaya kemerahan dari puncak Kilauea berpendar pelan, seperti lampu tidur raksasa. Pulau pun terlelap ditemani hangatnya. Biarkan lampu tidurmu menemanimu juga. Mimpi yang indah.
Pele adalah dewi gunung berapi dalam mitologi Hawaii, dan perjalanannya dari pulau ke pulau mencari rumah untuk apinya termasuk kisah yang paling sering dituturkan. Rumahnya dipercaya berada di kawah Halemaumau di puncak Kilauea, salah satu gunung berapi paling aktif di dunia; sebagian orang Hawaii masih meletakkan bunga di tepi kawah itu.
Banyak hal di sini nyata: bunga lehua merah memang tumbuhan pertama di lava yang baru dingin, dan helai kaca vulkanik tipis yang terbawa angin disebut para ahli "rambut Pele". Indonesia negeri gunung berapi juga — Anak Krakatau muncul dari laut pada 1927 dan terus tumbuh, persis seperti Pele yang "membuat tanah baru".
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi Hawaii, Pele dikejar kakaknya Namaka, dewi laut, yang membanjiri setiap lubang galiannya; versi kami mengganti pertengkaran itu dengan air laut yang merembes sendiri. Bahan ngobrol: Pele gagal lima kali dan tetap berlayar. Apa yang kamu coba berkali-kali sebelum akhirnya berhasil?
Jangan menyerah mencari tempat yang cocok untukmu — teruslah mencoba sampai menemukannya.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.