

Halaman 1
Di sebuah kebun ada satu polong kacang. Di dalamnya duduk lima butir kacang kecil. Rumah mereka hijau dan hangat. "Dunia pasti seluruhnya hijau seperti ini," kata kacang pertama. Mereka tumbuh, dan polongnya ikut membesar.

Halaman 2
Lama-lama polong itu menguning dan mengering. "Wah, dunia berubah warna!" seru kacang kedua. Mereka merasakan polongnya dipetik oleh tangan seorang anak lelaki. Krek! Polong terbuka, dan cahaya masuk untuk pertama kalinya.
Halaman 3
Anak itu memasukkan kelima kacang ke dalam sedotan, lalu bersiap meniupnya. "Aku akan terbang paling jauh!" seru kacang pertama. "Aku sampai ke matahari!" kata yang kedua. Kacang kelima diam. "Aku ikut ke mana pun aku jatuh," katanya pelan.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Puff! Kacang pertama melesat ke atap rumah. Kacang kedua jatuh di talang air. Kacang ketiga dan keempat menggelinding jauh ke jalan berdebu. Semuanya berteriak gembira di udara, lalu satu per satu mendarat entah di mana.
Halaman 5
Kacang kelima terbang pelan dan jatuh di celah kayu jendela sebuah loteng tua. Di sana ada sedikit tanah dan lumut lembap. "Tempat ini cukup untukku," bisiknya. Ia menyusup ke tanah dan tidur di sana sepanjang musim dingin.
Halaman 6
Di dalam loteng itu tinggal seorang ibu dan anak perempuannya. Anak itu sudah lama sakit, badannya lemah dan pucat. Setiap hari ia berbaring memandang jendela. "Bu, semuanya kelihatan abu-abu," katanya lirih. Ibunya mengelus rambutnya.
Halaman 7
Suatu pagi di musim semi, anak itu berseru, "Bu, lihat! Ada yang hijau di jendela!" Sehelai tunas kecil muncul dari celah kayu. Ibunya tersenyum lebar. "Itu tanaman kacang! Ayo kita ikat tali supaya ia bisa memanjat."
Halaman 8
Setiap hari anak itu menunggu tunasnya tumbuh. Ia duduk lebih lama, lalu berdiri lebih sering. Daun-daun kacang memanjat tali sampai ke atas jendela. Wajah anak itu perlahan merona seperti daun yang menghijau di bawah matahari.
Halaman 9
Akhirnya muncul satu bunga kacang berwarna merah muda. Anak itu berdiri sendiri di depan jendela untuk melihatnya. "Aku sudah kuat, Bu!" katanya gembira. Ibunya memeluknya erat, dan matanya berkaca-kaca karena bahagia.
Halaman 10
Kacang yang tidak sombong itu ternyata yang paling berguna. Sore harinya, bunga kecil di jendela menutup pelan-pelan. Anak itu pun berbaring, tersenyum, dan menutup matanya. Seperti bunga kacang itu, pejamkan matamu. Selamat beristirahat, sayang.
Lima Kacang dalam Satu Polong adalah dongeng Hans Christian Andersen yang paling sederhana sekaligus paling menyentuh: dari satu polong hijau, kacang terkecil dan paling pendiam justru yang paling berguna. Andersen memang piawai menemukan keajaiban pada hal-hal paling biasa di sekitar rumah.
Keajaiban ini bisa ditanam sendiri: taruh sebutir kacang hijau di kapas basah dekat jendela, dan dalam beberapa hari tunasnya muncul — percobaan yang sudah lama disukai anak-anak sekolah di Indonesia. Sambil menunggu tunas naik, ingat-ingat bersama bagaimana tunas kecil di jendela loteng menguatkan anak yang sakit.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Kisah ini nyaris tidak kami ubah — ia memang lembut sejak awal. Bahan ngobrol: kacang-kacang yang berteriak paling keras hilang entah ke mana, sedangkan yang bersahaja menumbuhkan harapan. Tanyakan pada anak: bagaimana tanaman kecil di jendela bisa membuat seseorang ingin cepat sembuh?
Yang paling berguna bukan yang paling banyak bicara. Kebaikan kecil yang tumbuh diam-diam bisa mengubah hari seseorang menjadi cerah.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.