

Halaman 1
Di tanah Banjar, di tengah hutan yang teduh, ada sebuah telaga kecil berair jernih. Di dekatnya tinggal seorang pemuda penjaga hutan bernama Awang Sukma. Ia hidup sendirian, dan sulingnya menjadi teman setianya setiap senja.

Halaman 2
Pada suatu malam bulan purnama, terdengar tawa riang dari arah telaga. Awang Sukma mengintip dari balik pohon. Tujuh gadis bercahaya turun dari langit, meletakkan selendang mereka di batu, lalu mandi sambil bermain air. Bidadari!
Halaman 3
Entah mengapa, tangan Awang Sukma bergerak sendiri. Diambilnya satu selendang yang berwarna paling lembut, lalu disembunyikannya di dalam lumbung padinya, tempat menyimpan hasil panen. Jantungnya berdebar-debar tak menentu.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Usai mandi, enam bidadari terbang ke langit. Yang bungsu tertinggal, mencari selendangnya sambil menangis. Awang Sukma datang seolah kebetulan. “Jangan menangis. Tinggallah dulu di gubukku,” katanya, meski dadanya sesak oleh rahasia.
Halaman 5
Putri Bungsu pun tinggal di bumi. Lama-kelamaan mereka saling menyayangi, lalu menikah. Setahun kemudian lahirlah bayi perempuan yang lucu. Setiap sore Awang Sukma meniup suling, dan anaknya tertidur dalam ayunan kain yang tenang.
Halaman 6
Suatu pagi, seekor ayam hitam mengais-ngais di atas lumbung padi. Sesuatu yang berkilau terjatuh: selendang itu! Putri Bungsu memungutnya dengan tangan gemetar. “Jadi selama ini... kanda yang menyimpannya,” bisiknya dengan mata berkaca-kaca.
Halaman 7
Awang Sukma menunduk dalam-dalam. “Maafkan aku. Aku takut kehilanganmu, sampai aku berani berbuat tidak jujur.” Putri Bungsu mengusap kepalanya. “Aku memaafkanmu. Tetapi aku anak langit; bila selendang kutemukan, aku harus pulang.”
Halaman 8
“Rawat anak kita baik-baik,” pesannya lembut. “Bila ia merindukanku, tiuplah suling di tepi telaga. Aku akan mendengarnya dari atas sana.” Selendang itu dikibaskan, dan tubuhnya terangkat perlahan, menyatu dengan cahaya bulan.
Halaman 9
Sejak itu, setiap purnama, Awang Sukma dan putrinya duduk di tepi telaga sambil meniup suling. Kadang seberkas pelangi tipis menyentuh air. “Ibu mendengar kita, Ayah?” tanya putrinya. “Selalu, Nak. Selalu,” jawabnya sambil tersenyum.
Halaman 10
Telaga di hutan itu kini disebut Telaga Bidadari, dan airnya tetap sebening dulu. Malam ini, biarkan suara suling yang jauh itu mengalun dalam anganmu, turun naik selembut angin. Pejamkan matamu. Sampaikan rindumu lewat mimpi.
Ini versi Banjar dari salah satu keluarga dongeng paling luas di Nusantara: tujuh bidadari yang turun mandi, dan selendang yang disembunyikan. Orang Jawa mengenal kerabatnya lewat kisah Jaka Tarub; di tanah Banjar, Kalimantan Selatan, tokohnya Awang Sukma dan telaganya diberi nama Telaga Bidadari.
Yang bisa ditunjukkan ke anak dari cerita ini: suling, alat musik tiup dari bambu yang benar-benar dipakai orang Banjar, dan kebiasaan menidurkan bayi dalam ayunan kain — sampai sekarang masih dilakukan banyak keluarga Indonesia.
Cocok untuk usia 5–8 tahun. Perpisahan dengan ibu adalah bagian yang paling menyentuh; adaptasi kami membuatnya selembut mungkin — Putri Bungsu memaafkan, dan suling menjadi cara ayah dan anak "mengirim rindu". Bahan ngobrol: Awang Sukma berbuat tidak jujur karena takut kehilangan — apakah menyimpan rahasia seperti itu pernah berakhir baik? Dan: rindu boleh, ada banyak cara menyampaikannya.
Kasih sayang yang dimulai dengan ketidakjujuran akan goyah; berterus teranglah sejak awal kepada orang yang kita sayangi.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.