

Halaman 1
Di Pulau Sumbawa ada tanjung yang menjorok ke laut. Ombak berdesir pelan di kakinya dari pagi sampai senja. Namanya Tanjung Menangis. Nama itu lahir dari kisah seorang putri dan seorang tabib muda. Beginilah ceritanya.

Halaman 2
Putri raja Sumbawa jatuh sakit. Ia tidak mau makan dan badannya selalu lemas. Tabib istana sudah mencoba segala obat, tetapi sang putri belum juga pulih. Raja sangat sedih dan cemas.
Halaman 3
Raja mengirim kabar ke seluruh negeri: “Siapa dapat menyembuhkan putriku akan menjadi tamu kehormatan istana.” Dari seberang lautan datanglah seorang tabib muda, membawa tas ramuan dan senyum yang ramah.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Tabib muda meracik daun-daun harum dan menyanyikan pantun laut yang jenaka. Sang putri tersenyum untuk pertama kalinya. Hari demi hari ia mulai mau makan, lalu berjalan, lalu tertawa lagi.
Halaman 5
Sang putri dan tabib muda menjadi bersahabat. Mereka menanam bunga di taman dan memberi makan rusa istana. Namun beberapa orang istana iri melihatnya. “Ia hanya orang biasa,” bisik mereka.
Halaman 6
Orang-orang yang iri itu menghasut. “Tuanku, tabib itu harus segera pulang ke negerinya,” kata mereka kepada raja. Raja yang sedang banyak pikiran mengangguk saja. Perahu pun disiapkan di pantai.
Halaman 7
Mendengar itu, sang putri berlari ke tanjung. “Jangan pergi! Engkau sahabat terbaikku!” serunya. Namun layar sudah terkembang. Putri duduk di ujung tanjung dan menangis. Air matanya jatuh ke laut.
Halaman 8
Raja menyusul putrinya ke tanjung. Melihat anaknya menangis, hatinya tersadar. “Maafkan Ayah, Nak. Orang baik tidak boleh diusir.” Ia memerintahkan perahu tercepat untuk mengejar tabib muda itu.
Halaman 9
Perahu tabib muda pun kembali ke pantai. Sang putri menyambutnya dengan gembira, dan orang-orang yang iri meminta maaf. Sejak itu sang tabib tinggal di Sumbawa, menolong siapa saja yang sakit.
Halaman 10
Tanjung itu tetap bernama Tanjung Menangis, agar orang selalu ingat: jangan biarkan iri hati mengusir kebaikan. Malam ini ombak di tanjung berdesir tenang. Ikutlah tenang: tarik napas pelan, dan tidurlah.
Legenda ini menjelaskan nama sebuah tanjung di Pulau Sumbawa: Tanjung Menangis. Ia termasuk keluarga besar legenda asal-usul nama tempat di Nusantara — cerita yang dititipkan pada peta supaya nilainya tidak hilang; di sini, tentang iri hati yang hampir mengusir kebaikan.
Dua hal dari cerita ini gampang dibawa ke dunia nyata. Pertama, peta: tunjukkan bentuk tanjung — daratan yang menjorok ke laut — lalu cari bersama tanjung-tanjung lain dan nama-namanya yang unik. Kedua, pantun: tabib muda menghibur sang putri dengan pantun laut, dan berbalas pantun sederhana sebelum tidur bisa menjadi permainan keluarga yang persis sama.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Nama tanjungnya tetap "menangis", tetapi versi kami memberi akhir yang hangat: perahu dikejar, sahabat kembali, yang iri meminta maaf. Bahan ngobrol: bagaimana rasanya ketika teman dijauhkan dari kita, dan keberanian raja mengakui kesalahannya kepada anaknya sendiri.
Iri hati menjauhkan orang baik; hati yang jujur berani meminta maaf.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.