

Halaman 1
Di pantai barat Bali ada batu karang besar di tengah laut. Namanya Tanah Lot. Saat air pasang, batu itu tampak seperti pulau kecil yang mengapung. Setiap senja, ombak di sekelilingnya berkilau keemasan. Inilah kisahnya.

Halaman 2
Dahulu, seorang pengembara bijak bernama Nirartha berjalan menyusuri pantai-pantai Bali. Ia suka menolong orang dan bercerita tentang kebaikan. Anak-anak desa selalu mengikutinya ke mana-mana.
Halaman 3
Suatu senja, Nirartha melihat batu karang indah di tengah ombak. “Alangkah tenangnya tempat itu. Di sana aku bisa duduk mendengarkan laut,” katanya. Para nelayan mengantarnya dengan perahu kecil.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Nirartha duduk di puncak karang semalaman. Ia mendengarkan ombak, memandang bintang, dan memikirkan hal-hal baik. Paginya wajahnya cerah sekali. “Tempat ini membuat hati damai,” katanya.
Halaman 5
Warga desa mulai ikut datang ke pantai. Mereka duduk di pasir, mendengar cerita Nirartha tentang menjaga laut dan saling menyayangi. Tempat itu menjadi tempat berkumpul yang indah dan tenang.
Halaman 6
Namun ada yang tidak suka, namanya Bendesa Beraban. “Ini pantaiku! Pergilah dari sini!” serunya. Nirartha tidak marah. “Baiklah. Aku hanya akan menempati batu karang itu,” jawabnya dengan tenang.
Halaman 7
Nirartha memejamkan mata dan memusatkan hatinya. Perlahan-lahan, batu karang itu bergeser menjauhi pantai, dikelilingi air laut. Orang-orang terpana. Batu itu kini benar-benar berdiri di tengah laut.
Halaman 8
Lalu Nirartha meletakkan selendangnya di pasir. Selendang itu berubah menjadi ular-ular laut belang hitam putih. “Jagalah batu ini dan pantai ini dengan lembut,” pesan Nirartha kepada mereka.
Halaman 9
Bendesa Beraban tertegun, lalu menunduk malu. “Maafkan aku. Ajari kami kebaikan juga,” katanya. Nirartha tersenyum dan mengulurkan tangannya. Sejak itu mereka menjaga pantai bersama-sama.
Halaman 10
Sampai kini ular-ular kecil itu tidur nyenyak di sela batu karang Tanah Lot. Ombak datang dan pergi, berdesir pelan seperti nyanyian. Seperti ular penjaga yang terlelap, kini saatnya kamu memejamkan mata.
Legenda ini menjelaskan asal Tanah Lot, batu karang termasyhur di pesisir barat Bali. Tokohnya, Nirartha, dalam catatan Bali adalah tokoh bersejarah; di cerita kami ia hadir sebagai pengembara bijak yang mengajarkan kebaikan dan cara menjaga laut.
Tanah Lot sungguh ada di Kabupaten Tabanan dan menjadi salah satu tempat yang paling sering difoto di Bali: pura di atas batu karang yang dikelilingi air saat pasang, dengan matahari terbenam yang terkenal indah. Di celah-celah batunya memang hidup ular laut belang hitam-putih, dan warga setempat menyebut mereka penjaga tempat itu — persis seperti dalam cerita.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Kami menuturkan warisan budaya ini tanpa sisi ritualnya: Nirartha di sini guru kebaikan, bukan pemuka agama. Bahan ngobrol: menyelesaikan pertengkaran tanpa membalas marah — Nirartha memilih mengalah dan pindah ke batu karang, dan justru itu yang meluluhkan Bendesa Beraban.
Ketenangan dan kelembutan lebih kuat daripada kemarahan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.