Google PlayApp Store
Sampul cerita Legenda Rawa Pening

Legenda Rawa Pening

10 halaman2 menit 56 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Dahulu di Jawa Tengah ada anak naga yang baik hati bernama Baru Klinting. Di lehernya tergantung lonceng kecil yang berbunyi klinting-klinting. Ia ingin sekali berteman dengan anak-anak manusia di desa.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Baru Klinting bertapa dengan tekun di lereng gunung hingga berubah menjadi anak laki-laki. Namun kulitnya masih tampak bersisik. Dengan gembira ia turun ke desa yang sedang bersiap merayakan pesta panen.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Bau masakan yang sedap tercium ke mana-mana. Baru Klinting lapar dan mengetuk sebuah pintu. “Bolehkah aku minta sedikit makanan?” Namun orang-orang mengusirnya. “Pergi! Anak kotor tidak boleh ikut pesta!”

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Dari rumah ke rumah ia ditolak. Di ujung desa, seorang nenek tua bernama Nyai Latung membuka pintunya. “Masuklah, Nak. Makananku sederhana, tapi mari kita makan bersama.” Baru Klinting pun tersenyum.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Sebelum pergi, Baru Klinting berpesan kepada nenek itu, “Kalau nanti air datang, naiklah ke dalam lesung kayu itu, Nek. Nenek pasti selamat.” Nyai Latung mengangguk walau belum mengerti maksudnya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Baru Klinting kembali ke tengah pesta. Ia menancapkan sebatang lidi ke tanah. “Siapa yang bisa mencabut lidi ini?” Orang-orang tertawa. “Mudah sekali!” Namun tak seorang pun berhasil mencabutnya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Orang paling kuat di desa mencoba sampai terengah-engah. Lidi kecil itu tetap tegak. Akhirnya Baru Klinting maju ke depan. Dengan sekali tarikan yang ringan saja, lidi itu tercabut dari tanah.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Dari lubang bekas lidi, air jernih menyembur dan mengalir ke mana-mana. Orang-orang berlari ke bukit dan selamat, sambil menyesal telah mengusir anak yang lapar. Air terus naik menggenangi desa.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Nyai Latung naik ke dalam lesung kayunya. Lesung itu terapung pelan seperti perahu dan membawanya ke tepian dengan selamat. Genangan air yang luas dan bening itu kini dikenal sebagai Rawa Pening.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Sejak itu orang-orang belajar berbagi kepada siapa pun yang datang. Malam ini, bayangkan air Rawa Pening yang tenang memantulkan cahaya bintang. Setenang itulah tidurmu malam ini. Selamat tidur.

Tentang cerita ini

Legenda Baru Klinting tumbuh di Jawa Tengah untuk menjelaskan asal-usul Rawa Pening — danau yang benar-benar ada di dekat Ambarawa, di cekungan antara gunung-gunung. Motif utamanya khas Jawa: anak yang ditolak orang sedesa, sebatang lidi yang tak bisa dicabut siapa pun, dan air yang menyembur dari bekas tancapannya.

Danaunya bisa dikunjungi sampai sekarang: nelayan mencari ikan di airnya yang tenang, dan permukaannya terkenal dipenuhi hamparan eceng gondok. Kalau sekeluarga lewat jalur Semarang–Salatiga, Rawa Pening terlihat dari jalan — dan anak bisa menunjuknya sambil berkata: itu danau dari cerita kita.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi lama, desa itu tenggelam bersama orang-orangnya yang pelit; dalam versi kami semua sempat berlari ke bukit dan belajar berbagi. Bahan ngobrol: kenapa hanya Nyai Latung yang membuka pintu, dan bagaimana rasanya menjadi anak yang ditolak di setiap rumah? Pertanyaan itu menumbuhkan empati dengan cara yang lembut.

Untuk orang tua

Pesan moral

Kebaikan tidak melihat rupa: siapa pun yang meminta tolong pantas disambut dengan baik.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Mengapa orang-orang desa mengusir Baru Klinting?
  2. Apa yang dilakukan Nyai Latung ketika Baru Klinting mengetuk pintunya?
  3. Apa yang terjadi setelah lidi dicabut dari tanah?
  4. Kalau ada teman baru yang tampak berbeda, bagaimana sebaiknya kita menyambutnya?

Untuk kelas

loncenglesunglidibersisikbertapamenyembur

Cerita lain: Jawa

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.