

Halaman 1
Sungai Barito di dekat Banjarmasin lebar sekali, seperti lautan yang tenang. Dahulu, kapal-kapal dagang dari jauh berlayar masuk lewat muaranya. Ada yang membawa kain, ada yang membawa guci, ada pula yang membawa rempah-rempah.

Halaman 2
Suatu malam, datanglah kapal tua milik seorang kapten dari negeri seberang. Muatannya istimewa: karung-karung berisi biji bunga dan biji pohon berbunga harum. Namun badai turun mendadak, dan kapal itu kandas di gosong pasir tengah sungai.
Halaman 3
Orang-orang kampung berdatangan dengan jukung, sampan kecil mereka. “Naiklah, semua akan selamat!” seru mereka menembus hujan. Seluruh awak kapal tertolong sampai ke tepian. Hanya kapal tua dan muatannya yang tertinggal di pasir.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Musim hujan datang dan pergi. Kapal yang kandas itu perlahan dipeluk lumpur, dan gosong pasirnya makin luas. Diam-diam, biji-biji bunga dari muatan kapal mulai tumbuh: melati, kenanga, tanjung, menjalar dan merimbun ke segala arah.
Halaman 5
Bertahun-tahun kemudian, gosong itu telah menjadi pulau kecil yang hijau. Pohon-pohonnya berbunga sepanjang tahun, dan harumnya tercium sampai ke tengah sungai. Perahu-perahu yang lewat selalu melambat untuk memandanginya.
Halaman 6
Lalu datanglah penghuni baru: kera-kera berekor panjang menyeberang dari hutan, berloncatan dari dahan ke dahan. Mereka betah sekali di pulau itu. Anehnya, kera-kera itu tidak merusak bunga, seakan tahu sedang menjaga sebuah taman.
Halaman 7
Suatu hari, kapten tua itu berlayar kembali melewati Barito. Ia memandang bingung. “Pulau apa ini? Dulu kapalku kandas di sini,” katanya. Ia turun, dan di tengah rimbunan bunga ia menemukan tiang kapalnya terbungkus tanaman menjalar.
Halaman 8
Kapten tua tersenyum lebar. “Kapalku telah berubah menjadi taman! Biarlah pulau ini menjadi rumah bagi kera dan bunga-bunga.” Ia membagikan pisang kepada kera-kera, dan sejak itu ia selalu singgah setiap kali berlayar lewat.
Halaman 9
Orang-orang menamainya Pulau Kembang, pulau bunga. Sampai sekarang, perahu yang lewat suka melempar bunga atau pisang sebagai salam. “Selamat pagi, penunggu pulau!” seru anak-anak di atas jukung, dan kera-kera menjawab riuh dari dahan.
Halaman 10
Malam ini di Pulau Kembang, bunga-bunga menguncupkan kelopaknya dan kera-kera tidur meringkuk di cabang pohon. Kuncupkan juga matamu pelan-pelan, seperti kelopak melati. Besok pagi, mekarlah lagi dengan segar. Selamat tidur.
Cerita ini dari Sungai Barito dekat Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Orang Banjar menuturkan bahwa Pulau Kembang — "pulau bunga" — tumbuh dari kapal dagang yang kandas di tengah sungai: gosong pasirnya memeluk kapal, lalu biji-biji dari muatannya menghijaukan tempat itu.
Pulaunya sungguh ada dan bisa dikunjungi dengan perahu dari Banjarmasin. Penghuninya persis seperti dalam cerita: kera ekor panjang yang berloncatan di dahan, dan pengunjung memang biasa membawakan mereka pisang. Melati, kenanga, dan tanjung — bunga-bunga dalam cerita — semuanya bunga harum Nusantara yang nyata.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Ini salah satu cerita paling lembut dalam seri Kalimantan: tidak ada tokoh jahat, badai pun berubah menjadi taman. Bahan ngobrol: bagaimana pertolongan warga menyelamatkan semua awak kapal, dan bagaimana sesuatu yang tampak rusak — kapal kandas — bisa menjadi awal sesuatu yang indah.
Dari peristiwa yang tampak buruk bisa tumbuh sesuatu yang indah, bila kita menerimanya dengan hati yang lapang.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.