Google PlayApp Store
Sampul cerita Legenda Danau Malawen

Legenda Danau Malawen

10 halaman3 menit 24 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Di tanah Barito, Kalimantan Tengah, hiduplah sepasang suami istri miskin di tepi hutan bersama anak lelakinya, Kumbang. Sebelum Kumbang pergi merantau, ayahnya memberi bekal satu-satunya: piring malawen, piring pusaka tua.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Kumbang berjalan berhari-hari menembus hutan hingga tersesat. Menjelang senja, ia mendengar bunyi gendang. Sampailah ia di Desa Sanggu yang sedang menggelar pesta adat: penari berputar, api unggun menyala, semua orang bergembira.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Di pesta itu Kumbang berkenalan dengan Intan, putri kepala desa. Mereka berbincang lama sekali dan menjadi akrab. “Besok datanglah lagi,” kata Intan tersenyum. Hari demi hari, keduanya pun saling menyayangi dengan tulus.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Namun kepala desa tidak setuju. “Anakku tidak boleh bersanding dengan perantau miskin!” katanya keras. Intan menangis. Suatu subuh, keduanya nekat pergi diam-diam, hendak meminta restu kepada orang tua Kumbang di seberang hutan.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Warga desa mengejar mereka. Di depan, terbentang sungai yang lebar tanpa satu perahu pun. Kumbang teringat bekalnya. “Piring ayahku!” Dilemparnya piring malawen ke air, dan piring itu membesar seperti rakit. “Naiklah, Intan!”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Mereka meluncur ke tengah sungai. Kepala desa tiba di tepian dengan napas memburu. Karena marahnya, keluarlah kata-kata yang keras, “Pergilah! Kalau berani hidup tanpa restu, jadilah kalian penunggu air ini selamanya!”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Langit mendadak kelam. Angin ribut datang, hujan tercurah, dan piring pusaka itu terbalik di tengah air. Ketika badai reda, Kumbang dan Intan tidak ada lagi. Dua ekor buaya muncul ke permukaan, yang satu gelap, yang satu pucat.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Air sungai meluas perlahan menjadi danau yang tenang. Kepala desa terduduk di tepian, menyesal sekali. “Maafkan Bapak, anak-anakku,” serunya dengan suara pecah. Dua buaya itu menundukkan kepala pelan. Mereka mendengar.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Danau itu dinamai Danau Malawen, mengikuti nama piring pusaka itu. Sepasang buaya penjaganya tidak pernah mengganggu siapa pun. “Di tepi danau ini kita bicara lembut,” pesan para tetua, “sebab kata-kata keras pernah membuat luka.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Malam ini permukaan Danau Malawen rata seperti kaca, dan dua penjaganya beristirahat di antara rumpun ilalang. Ucapkanlah selamat malam dengan suara yang paling lembut kepada orang di dekatmu. Lalu pejamkan mata. Tidur, ya.

Tentang cerita ini

Legenda ini berasal dari tanah Barito di Kalimantan Tengah dan menjelaskan asal Danau Malawen. Namanya diambil dari piring malawen — piring pusaka tua yang dalam tradisi Dayak memang benda berharga yang diwariskan turun-temurun dan dipakai pada upacara adat, bukan piring makan biasa.

Danau Malawen sungguh ada di wilayah Barito, dan buaya penjaga danau adalah cara orang setempat menuturkan rasa hormat pada airnya. Pesan para tetua dalam cerita ini pun masih hidup: di tepi danau orang berbicara lembut — kebiasaan kecil yang bisa ditiru di mana saja.

Cocok untuk usia 5–8 tahun. Akhirnya sedih-manis dan tidak kami hilangkan: Kumbang dan Intan tetap menjadi buaya, tetapi tak ada yang terluka, dan sang ayah yang menyesal didengar oleh keduanya. Inilah pintu masuk obrolan pentingnya: kata-kata keras yang keluar saat marah tidak bisa ditarik kembali — karena itu belajar berhenti sebentar sebelum bicara.

Untuk orang tua

Pesan moral

Kata-kata yang diucapkan saat marah sulit ditarik kembali; bicaralah lembut dan mintalah restu dengan sabar.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Bekal apa yang diberikan ayah Kumbang sebelum ia merantau?
  2. Bagaimana piring malawen menolong Kumbang dan Intan menyeberang?
  3. Apa yang terjadi setelah kepala desa mengucapkan kata-kata kerasnya?
  4. Mengapa para tetua berpesan agar bicara lembut di tepi danau?
  5. Pernahkah kamu menyesali kata-kata yang kamu ucapkan saat marah?

Untuk kelas

pusakarestunekattercurahredailalang

Cerita lain: Kalimantan

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.