

Halaman 1
Di Sumbawa hiduplah seorang ibu bernama Inaq Lembain. Ia bekerja menumbuk padi milik tetangga. Setiap pagi ia berangkat sambil membawa dua anaknya yang masih kecil.

Halaman 2
Sementara ibunya bekerja, kedua anak itu duduk di atas batu lebar yang datar. Batu itu halus dan hangat terkena sinar matahari. “Batu ini singgasana kita,” kata si kakak, dan adiknya tertawa senang.
Halaman 3
Suatu hari, pekerjaan sangat banyak. Inaq Lembain menumbuk dan menampi tanpa henti. Ia tidak menyadari sesuatu yang aneh: batu tempat anak-anaknya duduk perlahan-lahan bertambah tinggi.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
“Ibu, batunya naik!” seru si kakak. “Sebentar, Nak, sedikit lagi,” jawab ibunya sambil terus menumbuk. Padi riuh berjatuhan. Suara anak-anak makin sayup, dan batu itu terus meninggi.
Halaman 5
Ketika Inaq Lembain akhirnya menoleh, ia terkejut. Batu itu sudah menjulang melewati pucuk kelapa. Di atasnya, kedua anaknya melambai kecil. “Anak-anakku!” serunya. Ia berlari dan memeluk batu itu.
Halaman 6
Inaq Lembain menangis dan meminta tolong. Orang-orang datang membawa tangga dan tali, tetapi batu itu terlalu tinggi. “Maafkan Ibu, Nak. Ibu terlalu sibuk bekerja,” isaknya lirih.
Halaman 7
Langit senja berwarna jingga. Tiba-tiba dua burung kecil berbulu indah terbang berputar-putar dari puncak batu. Mereka hinggap di bahu Inaq Lembain. “Piyuu... piyuu...” bunyinya lembut sekali.
Halaman 8
Inaq Lembain memandang kedua burung itu, dan hatinya mengerti. “Anak-anakku sayang,” bisiknya. Kedua burung menggosokkan kepala ke pipinya, seakan berkata, “Kami baik-baik saja, Bu.”
Halaman 9
Sejak itu, setiap senja kedua burung itu datang ke rumah Inaq Lembain. Mereka bernyanyi di jendela sampai malam tiba. Dan Inaq Lembain selalu berhenti bekerja sebelum senja, untuk mendengarkan mereka.
Halaman 10
Batu tinggi itu masih berdiri di Sumbawa, namanya Batu Golog. Kalau kau mendengar burung bernyanyi senja-senja, itu lagu pengantar tidur dari dua kakak beradik. Dengarkanlah pelan-pelan, lalu tidurlah.
Legenda Batu Golog dituturkan di Nusa Tenggara Barat: kisah ibu penumbuk padi yang terlalu sibuk bekerja hingga batu tempat anak-anaknya duduk meninggi ke langit. Ini keluarga dongeng pengingat untuk orang tua — jarang-jarang sebuah cerita rakyat justru menegur orang dewasa, bukan anak.
Suasananya bisa dihidupkan lewat dua hal yang masih nyata: bunyi lesung dan alu penumbuk padi, yang kini jarang terdengar tetapi masih ada di desa-desa, dan kebiasaan burung berkicau ramai menjelang senja. Ajak anak diam sejenak saat sore turun untuk mendengarkan burung pulang — itulah "lagu kakak beradik" dari cerita ini.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Akhirnya sengaja kami buat sebagai sedih yang terang: kedua anak tetap menjadi burung, tetapi datang bernyanyi untuk ibunya setiap senja. Bahan ngobrol: perasaan anak ketika orang tua terlalu sering berkata "sebentar, Nak" — dan sebaliknya, janji kecil keluarga untuk berhenti bekerja sebelum gelap.
Pekerjaan itu penting, tetapi mendengarkan anak jauh lebih penting.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.