

Halaman 1
Dahulu kala, ketika dunia masih muda, para dewa menciptakan perempuan pertama yang cantik dan cerdas bernama Pandora. Setiap dewa memberi hadiah: kecantikan, kepandaian, tutur kata manis... dan satu lagi — rasa ingin tahu yang besar sekali.

Halaman 2
Zeus, raja para dewa, memberi hadiah terakhir: kotak kayu berukir indah dengan kunci emas. «Kotak ini milikmu,» katanya, «tapi ada satu syarat: jangan pernah membukanya.» Pandora mengangguk sambil memandangi kotak itu penasaran.
Halaman 3
Pandora tinggal di rumah yang bahagia bersama suaminya, Epimetheus. Dunia saat itu tenteram: tidak ada pertengkaran, tidak ada sakit, tidak ada sedih. Tapi di sudut kamar, kotak berukir itu seakan berbisik: «Pandora... lihatlah isiku...»
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Setiap hari Pandora lewat di depan kotak itu. Ia mencoba tidak melihat. Ia menutupnya dengan kain. Ia memindahkannya ke gudang. Tapi rasa ingin tahunya tumbuh dan tumbuh. «Melihat sedikit saja... apa salahnya?» pikirnya suatu sore.
Halaman 5
Klik. Kunci emas berputar. Pandora mengangkat tutupnya sedikiiit saja — WUSSSH! Dari dalam menyembur bayangan-bayangan kelabu kecil yang mendesing seperti tawon: si Sedih, si Marah, si Sakit, si Bertengkar. Mereka terbang keluar ke seluruh dunia.
Halaman 6
Pandora membanting tutupnya. Terlambat! Bayangan-bayangan kelabu sudah menyebar ke mana-mana. Sejak hari itu, di dunia kadang ada yang bersedih, kadang ada yang sakit, kadang ada yang bertengkar. Pandora menangis di samping kotaknya.
Halaman 7
Lalu terdengar suara kecil dari dalam kotak. Tok, tok, tok. «Pandora, keluarkan aku juga!» Suaranya hangat dan lembut, sama sekali tidak menakutkan. Pandora ragu-ragu... lalu memberanikan diri membuka tutupnya sekali lagi.
Halaman 8
Dari dalam kotak terbang keluar cahaya kecil keemasan, hangat seperti pelukan. Namanya Harapan. «Para dewa menaruhku paling bawah,» katanya, «supaya aku keluar paling akhir dan tidak pernah hilang. Ke mana pun kesedihan pergi, aku menyusul.»
Halaman 9
Harapan terbang mengelilingi dunia, hinggap dari jendela ke jendela. «Besok bisa lebih baik,» bisiknya kepada yang sedih. «Kau akan pulih,» bisiknya kepada yang sakit. Dan hati orang-orang menjadi ringan lagi.
Halaman 10
Sejak itu, di setiap rumah di dunia tinggal secercah harapan — kecil, hangat, dan tidak pernah padam, seperti bintang di langit malam. Pejamkan matamu dan rasakan hangatnya. Besok adalah hari yang baru. Selamat tidur.
Ini salah satu mitos Yunani tertua yang tercatat: kisah Pandora dituliskan penyair Hesiodos hampir tiga ribu tahun lalu, dan sejak itu dikutip tanpa henti di seluruh dunia.
"Kotak Pandora" kini hidup sebagai ungkapan — muncul di berita dan percakapan untuk hal yang sekali dibuka susah ditutup lagi. Ada fakta lucu untuk dibagikan: dalam teks asli wadahnya bukan kotak, melainkan guci besar; "kotak" lahir dari terjemahan yang keliru ratusan tahun kemudian dan telanjur melekat sampai sekarang.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi kami lembut: kesedihan dan penyakit hanya bayangan kelabu sebesar tawon, tanpa wajah seram, dan cerita berakhir pada Harapan yang hangat — urutan yang memang begitu dalam mitos aslinya, sebab Harapan tertinggal paling bawah. Bahan ngobrol: rasa ingin tahu itu hadiah sekaligus tanggung jawab; dan pertanyaan manis sebelum tidur — apa yang keluarga kita harapkan untuk besok?
Sesulit apa pun keadaan, harapan selalu ada dan menemani kita.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.