

Halaman 1
Dahulu, burung-burung dan binatang darat tinggal di satu lembah. Suatu ketika mereka berselisih. “Kami yang paling hebat!” kata burung-burung. “Tidak, kami!” kata binatang darat. Mereka pun mengadakan lomba besar.

Halaman 2
Ada lomba lari, lomba terbang, dan lomba mencari makanan. Semua hewan memilih regunya. Hanya kelelawar yang berdiri di tengah. Ia punya sayap seperti burung, tetapi juga punya gigi dan bulu halus seperti tikus.
Halaman 3
Ketika regu burung menang lomba terbang, kelelawar terbang mendekat. “Aku burung! Lihat sayapku!” katanya. Burung-burung menyambutnya dengan senang. “Ayo, rayakan kemenangan bersama kami!”
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Esoknya, regu binatang darat menang lomba lari. Kelelawar berjalan mendekat. “Aku binatang darat! Lihat bulu dan gigiku!” katanya. Binatang-binatang menyambutnya juga. “Ayo, makan bersama kami!”
Halaman 5
Begitu terus berhari-hari. Kelelawar selalu pindah ke regu yang menang. Lama-lama burung dan binatang saling bercerita. “Katanya dia burung?” “Katanya dia binatang darat?” Mereka pun tahu kelelawar tidak jujur.
Halaman 6
Saat pesta penutupan, kelelawar datang. Burung-burung diam. Binatang-binatang diam. “Kamu bukan bagian regu kami,” kata elang pelan. “Bukan bagian regu kami juga,” kata rusa. Kelelawar terbang menjauh dengan hati sedih.
Halaman 7
Kelelawar merenung di gua kecilnya. “Aku ingin selalu ikut menang, sampai lupa jujur tentang diriku sendiri,” bisiknya. “Sebenarnya aku bukan burung, bukan juga tikus. Aku... kelelawar.”
Halaman 8
Keesokan sorenya, kelelawar memberanikan diri datang ke lembah. “Maafkan aku,” katanya. “Aku berpindah-pindah supaya selalu ikut menang. Itu tidak jujur. Aku hanyalah kelelawar — dan aku ingin berteman dengan kalian semua.”
Halaman 9
Burung dan binatang saling berpandangan, lalu tersenyum. “Teman yang jujur selalu kami terima,” kata elang. Sejak itu kelelawar terbang saat senja: sore ia menyapa binatang darat, malam ia menemani burung hantu.
Halaman 10
Lihatlah langit senja: kelelawar menari di antara dua dunia, menjadi dirinya sendiri, disayangi semuanya. Lembah pun kembali tenang. Biarkan harimu juga menutup dengan damai seperti lembah itu. Tidurlah, sayang, sampai besok pagi.
Fabel kelelawar di antara burung dan binatang termasuk dongeng "asal mula": orang dahulu memakainya untuk menjelaskan mengapa kelelawar terbang saat senja. Tetapi inti ceritanya lebih dalam — tentang jujur pada diri sendiri, bukan berpindah-pindah kubu demi selalu ikut menang.
Kebingungan para tokoh sangat beralasan: kelelawar memang satu-satunya mamalia yang benar-benar bisa terbang — bersayap seperti burung, tetapi berbulu halus dan bergigi seperti tikus. Saat senja, ajak anak menengadah: di banyak tempat di Indonesia, kelelawar dan kalong terlihat melintas di langit sore.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi lama kelelawar diusir kedua kubu selamanya. Versi kami memberinya jalan pulang: ia mengakui kesalahannya, diterima kembali, dan senja menjadi waktunya menyapa dua dunia. Bahan obrolan: menjadi "campuran" bukan aib — dan minta maaf bisa membuka pintu yang tertutup.
Jujurlah tentang siapa dirimu; teman sejati menerima kita apa adanya, bukan karena kita ikut pihak yang menang.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.