

Halaman 1
Dahulu kala di Jepang, hiduplah pasangan petani yang lama sekali merindukan anak. Akhirnya harapan mereka terkabul: lahirlah bayi laki-laki yang sehat — tapi kecilnya hanya sebesar ibu jari! Mereka menamainya Issunboshi, si anak sejari.

Halaman 2
Issunboshi kecil, tapi semangatnya besar. Ia tidur di mangkuk, mandi di cangkir, dan berayun di sendok. «Suatu hari aku akan berpetualang ke kota!» katanya. Ayah dan ibunya tersenyum bangga.
Halaman 3
Ketika sudah cukup umur — walau tetap sejari — Issunboshi berpamitan. Ibunya memberinya jarum sebagai pedang, sarungnya dari sebatang jerami. Perahunya mangkuk sup, dayungnya sumpit. «Hati-hati, Nak!» Ia pun berlayar menyusuri sungai.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Sungai itu luas sekali bagi Issunboshi. Ikan-ikan besar lewat seperti kapal. Katak melompat, byur! Perahu mangkuknya oleng ke kiri dan ke kanan, tapi ia terus mendayung. Berhari-hari kemudian, sampailah ia di kota yang ramai.
Halaman 5
Issunboshi mengetuk pintu rumah paling besar. «Permisi! Aku ingin bekerja!» Seorang tuan menunduk mencari-cari suara itu, lalu terbelalak. «Kecil sekali! Tapi matamu berani. Baiklah, temanilah putriku.» Sejak itu Issunboshi menemani sang putri.
Halaman 6
Issunboshi dan putri menjadi sahabat. Ia menari di atas meja dan bercerita dari bahu putri. Suatu hari mereka pergi jalan-jalan. Tiba-tiba muncul oni hijau — raksasa bertanduk — menghadang jalan! «Serahkan putri itu!»
Halaman 7
«Langkahi dulu aku!» seru Issunboshi sambil menghunus pedang jarumnya. Oni tertawa. «Hah? Mana orangnya?» Lalu — hap! — oni menelannya bulat-bulat. Di dalam perut oni yang gelap, Issunboshi tidak takut. Ia menusuk-nusuk dengan jarumnya. Cus! Cus!
Halaman 8
«Aduh! Geli! Ampun!» Oni menggeliat-geliat, lalu — hatsyii! — bersin besar sekali. Issunboshi terlempar keluar dan mendarat mulus di rumput. Oni lari terbirit-birit sambil memegangi perutnya, meninggalkan sebuah palu kecil yang jatuh berdenting.
Halaman 9
«Itu Palu Ajaib!» seru putri. «Palu ini bisa mengabulkan permintaan. Apa permintaanmu, Issunboshi?» Issunboshi menegakkan badannya. «Aku ingin tumbuh besar!» Putri mengayunkan palu. Tok! Tok! Dan Issunboshi tumbuh menjadi pemuda gagah yang tinggi!
Halaman 10
Ia menjemput ayah ibunya ke kota, dan mereka hidup bahagia. Kecil atau besar, hati pemberani tetap sama. Sekarang kecilkan suaramu, kecilkan lampunya, dan biarkan mimpi membawamu berlayar seperti perahu mangkuk. Selamat berlayar ke pulau mimpi.
Issunboshi, "anak setinggi satu sun" atau sekitar tiga sentimeter, adalah dongeng Jepang yang tercatat dalam kumpulan cerita zaman Muromachi, sekitar abad ke-15 sampai ke-16, dan sejak itu terus diceritakan ulang. Palu ajaib yang ditinggalkan oni adalah benda terkenal dalam cerita rakyat Jepang.
Perlengkapan si anak sejari ada di setiap dapur: mangkuk sup, sumpit, jarum jahit, sebatang jerami. Ajak anak membayangkan rumah dari sudut pandang makhluk sekecil ibu jari: seberapa tinggi meja, seberapa besar seekor kucing. Cerita rakyat Nusantara pun mengenal anak sekecil jari, misalnya Si Kelingking dari Sumatra.
Cocok untuk usia 4–7 tahun. Dalam sebagian versi lama Issunboshi memakai tipu daya agar sang putri diusir dari rumahnya; versi kami menghilangkan itu dan menjadikan mereka sahabat sejak awal, sedangkan perut oni dan bersin besarnya dibiarkan lucu, bukan seram. Bahan ngobrol: apa yang bisa dilakukan orang kecil yang tidak bisa dilakukan orang besar?
Tubuh kecil bukan halangan — hati yang berani membuat kita besar.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.