

Halaman 1
Di sudut Asgard ada kebun kecil yang harum. Penjaganya bernama Idun, dewi yang lembut hatinya. Di kebun itu tumbuh pohon apel emas. Siapa yang memakan buahnya akan selalu sehat, kuat, dan awet muda.

Halaman 2
Suatu hari Loki berjalan-jalan di hutan. Tiba-tiba seekor elang raksasa menyambar dan mencengkeram jubahnya, lalu membawanya terbang tinggi! Itu bukan elang biasa. Itu Thjazi, raksasa gunung es yang memakai jubah bulu elang.
Halaman 3
«Turunkan aku!» teriak Loki. «Boleh,» kata Thjazi, «asal kau berjanji membawa Idun dan keranjang apelnya keluar dari kebun. Aku juga ingin awet muda!» Loki ketakutan... dan berjanji. Janji yang salah.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Esoknya Loki merayu Idun. «Idun, di hutan ada pohon apel yang lebih indah dari punyamu. Ayo lihat! Bawa apelmu untuk membandingkan.» Idun yang baik hati percaya. Baru beberapa langkah di hutan — wusss! Elang raksasa membawanya ke gunung es.
Halaman 5
Hari berganti hari. Tanpa apel emas, Asgard berubah. Punggung Odin mulai pegal. Di rambut merah Thor muncul uban. Freya menguap terus. «Di mana Idun?» tanya semua. «Siapa yang terakhir bersamanya?» Semua mata menoleh... ke Loki.
Halaman 6
Loki mengaku sambil menunduk. «Akan kujemput dia kembali! Freya, pinjami aku jubah elangmu.» Ia terbang melewati laut dan gunung, sampai ke istana es Thjazi. Idun duduk di dekat jendela, memeluk keranjang apelnya.
Halaman 7
«Ssst, ini aku!» bisik Loki. Ia mengubah Idun dan keranjangnya menjadi sebutir kenari kecil, menggenggamnya erat, lalu terbang secepat badai. Tapi di belakang terdengar kepakan sayap raksasa. Thjazi mengejar!
Halaman 8
«Lebih cepat, Loki!» seru para dewa dari tembok Asgard. Thor memutar Mjolnir hingga angin utara berpusar kencang. Thjazi terdorong mundur, berputar-putar di udara, lalu menyerah dan pulang ke gunung esnya dengan sayap lelah.
Halaman 9
Idun kembali ke wujud aslinya dan tersenyum lega. Para dewa makan apel emas, dan uban pun hilang. «Maafkan aku, Idun,» kata Loki. Idun justru memberinya sebutir apel. «Untukmu. Lain kali, jangan mudah berjanji pada sembarang orang, ya.»
Halaman 10
Malam itu kebun Idun harum sekali. Apel-apel emas berkilau di antara daun, seperti lampu-lampu kecil yang mengantuk. Satu per satu cahayanya meredup, seperti matamu yang pelan-pelan terpejam. Selamat tidur, sayang.
Idun dan apel yang menjaga para dewa tetap muda adalah mitos Nordik yang dikenal dari puisi Haustlong karya seorang penyair Norwegia sekitar tahun 900, lalu diceritakan lengkap oleh Snorri Sturluson dalam Edda Prosa. Thjazi si elang, jubah bulu Freya, dan Idun yang diubah menjadi sebutir kenari — semuanya ada dalam sumber aslinya.
Apel bukan buah tropis, tapi Indonesia punya kebunnya sendiri: di Batu dan Malang, Jawa Timur, apel manalagi dan rome beauty tumbuh di lereng gunung dan bisa dipetik langsung oleh anak. Elang pun ada di langit kita — elang jawa yang berjambul, yang sering dianggap wujud nyata burung Garuda. Buah yang menyehatkan tentu bukan sihir.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam kanon, para dewa menyalakan api di tembok Asgard sehingga sayap Thjazi terbakar dan ia tewas; versi kami menggantinya dengan angin Thor yang mendorongnya pulang ke gunung es. Bahan ngobrol: kenapa Loki berjanji padahal tahu itu salah, dan apa yang bisa dilakukan kalau sudah terlanjur berjanji?
Jangan mudah berjanji karena takut atau terburu-buru — janji yang salah menyusahkan banyak orang.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.