

Halaman 1
Antara bumi dan Asgard membentang jembatan pelangi bernama Bifrost. Warnanya merah, biru, dan emas. Penjaganya adalah Heimdall, dewa berjubah putih. Di pinggangnya tergantung terompet besar bernama Gjallarhorn.

Halaman 2
Mata Heimdall paling tajam di seluruh dunia. Ia bisa melihat sampai ke ujung laut, siang maupun malam. Telinganya lebih hebat lagi: ia bisa mendengar rumput tumbuh dan bulu domba memanjang. Sungguh!
Halaman 3
Suatu malam, kabut tebal menutupi jembatan pelangi. Heimdall memejamkan mata dan mendengarkan. Tap... tap... tap... Langkah kaki kecil! Ada yang menyelinap di ujung Bifrost. «Hmm,» gumam Heimdall, «ini bukan langkah dewa.»
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Heimdall berjalan tanpa suara, lalu menyalakan lenteranya. «Berhenti, tamu kecil.» Di depannya berdiri seorang anak raksasa, gemetar ketakutan. Badannya baru sebesar beruang — kecil sekali untuk ukuran raksasa. «A-ampun, Pak Penjaga...»
Halaman 5
«Siapa namamu? Mau apa ke Asgard?» «Namaku Snorri. Aku... aku cuma ingin melihat kota emas dari dekat. Kata semua orang, Asgard itu indah sekali. Tapi raksasa tidak boleh masuk...» Ia menunduk sedih.
Halaman 6
Heimdall menatapnya lama. Anak itu jujur — telinga Heimdall yang tajam bisa mendengar detak jantung yang tidak berbohong. «Baiklah. Duduklah di sini bersamaku sampai pagi. Dari tengah jembatan, pemandangannya paling bagus.»
Halaman 7
Saat fajar, kabut terbuka. Atap-atap emas Asgard berkilau kena matahari. «Waaah,» bisik Snorri. Heimdall memberinya roti madu hangat. «Lain kali jangan menyelinap. Datanglah ke gerbang dan ketuklah. Tamu yang sopan selalu disambut.»
Halaman 8
Snorri pulang sambil melompat-lompat riang. Di negeri raksasa ia bercerita: «Penjaga jembatan itu tegas, tapi baik hati!» Sejak itu, raksasa yang ingin melihat Asgard datang ke gerbang dan mengetuk dengan sopan. Dan Heimdall menyambut mereka.
Halaman 9
Malam kembali turun. Heimdall berdiri di jembatan pelangi, menjaga seperti biasa. Karena ada penjaga yang setia, semua orang bisa terlelap dengan tenang. Kamu juga. Pejamkan matamu — malam ini semuanya aman. Selamat tidur.
Heimdall adalah penjaga Bifrost, jembatan pelangi menuju Asgard, dalam mitologi Nordik. Gambaran dirinya — mata yang melihat sangat jauh, telinga yang mendengar rumput tumbuh dan bulu domba memanjang, terompet Gjallarhorn — diambil dari Edda Prosa Snorri Sturluson. Akan tetapi kisah anak raksasa yang menyelinap adalah karangan kami sendiri.
Pelangi bisa dibuat sendiri: semprotkan air dari selang membelakangi matahari sore, dan lengkungan warna muncul di butir airnya. Penjaga malam pun bukan hal asing — di banyak kampung masih ada ronda dengan kentongan. Heimdall pada dasarnya petugas ronda Asgard: tegas pada yang menyelinap, ramah pada yang mengetuk.
Cocok untuk usia 3–7 tahun. Dalam kanon, Heimdall dan terompetnya dikaitkan dengan pertempuran akhir para dewa; versi kami hanya mengambil sosoknya sebagai penjaga yang setia — nama si tamu kecil kami pinjam dari Snorri, penulis Edda. Bahan ngobrol: kenapa bertamu harus lewat pintu, dan bagaimana Heimdall tahu bahwa Snorri jujur?
Peraturan dijaga dengan tegas, tapi hati tetap boleh ramah — dan bertamu itu lewat pintu, bukan menyelinap.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.