

Halaman 1
Dalam pencariannya menemukan Dewi Sinta, Pangeran Rama bertemu pasukan kera dari Gunung Maliawan. Pemimpin pasukan itu adalah Hanoman, kera putih putra angin, yang dapat melompat sejauh awan berarak.

Halaman 2
“Aku akan mencari Dewi Sinta sampai ke Alengka,” kata Hanoman. Rama melepas cincinnya. “Bawalah ini. Bila Sinta melihatnya, ia akan tahu engkau utusanku.” Hanoman menyimpan cincin itu baik-baik.
Halaman 3
Hanoman berlari ke pantai selatan dan menatap laut yang luas. Ia mundur beberapa langkah, lalu melompat! Sang angin mengangkat tubuh putranya tinggi-tinggi hingga ia melayang di atas ombak menuju Alengka.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Alengka ternyata kota yang megah dan dijaga ketat. Hanoman mengecilkan tubuhnya, lalu menyelinap dari taman ke taman pada malam hari, mencari ke mana Sinta disembunyikan oleh Rahwana.
Halaman 5
Di Taman Argasoka, ia menemukan Dewi Sinta duduk sedih di bawah pohon nagasari. Hanoman menyerahkan cincin Rama. Wajah Sinta menjadi cerah. “Sampaikan pada Kakang Rama, aku menunggunya dengan setia.”
Halaman 6
Saat hendak pulang, Hanoman tertangkap para penjaga raksasa. Rahwana marah dan menyuruh membakar ekornya. Namun api tak melukai putra angin itu! Hanoman malah melompat-lompat lincah dari atap ke atap istana.
Halaman 7
Percikan api membuat seluruh istana geger. Semua penjaga sibuk berlarian memadamkan atap-atap yang menyala. Di tengah keributan itu, Hanoman terjun ke laut, memadamkan ekornya, lalu melompat pulang menemui Rama.
Halaman 8
“Dewi Sinta selamat dan setia menunggu,” lapor Hanoman. Maka Rama dan pasukan kera membangun jembatan batu melintasi laut. Beribu kera bekerja bersama, batu demi batu, hingga jembatan itu sampai ke Alengka.
Halaman 9
Di Alengka, Rama berhadapan dengan Rahwana. Panah cahaya Rama melesat, dan seketika kesaktian raja yang sombong itu lenyap. Rahwana tersungkur tak berdaya, dan pasukannya menyerah. Alengka pun menjadi tenang.
Halaman 10
Rama dan Sinta akhirnya berpelukan, lalu pulang bersama ke Ayodya. Rama merangkul Hanoman. “Engkau sahabat terbaik yang pernah kumiliki.” Hanoman tersenyum lebar, dan seluruh pasukan kera bersorak gembira.
Halaman 11
Sampai kini, kisah Hanoman dimainkan para dalang di layar wayang hingga larut malam. Kini layarnya sudah digulung, gamelannya sudah senyap. Seperti para penonton yang pulang dengan hati senang, tidurlah nyenyak.
Hanoman, kera putih putra angin, adalah salah satu tokoh paling dicintai dalam wayang Jawa — dan kisah keberaniannya dikenal jauh melampaui Indonesia, sampai ke India tempat Ramayana berasal. Episode ekor terbakar yang membuat geger istana Alengka termasuk adegan wayang yang paling ditunggu penonton.
Wayang kulit sendiri diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia: pertunjukan bayang-bayang dengan iringan gamelan yang bisa berlangsung semalam suntuk. Kalau ada pementasan di dekat Anda, tokoh malam ini bisa dilihat melompat-lompat di layar sungguhan.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi lama, perang Alengka panjang dan banyak korbannya; versi kami memilih akhir yang cepat dan lapang — panah cahaya melenyapkan kesaktian Rahwana, dan pasukannya menyerah. Bahan ngobrol: Hanoman menang bukan karena paling besar, melainkan karena cerdik, setia, dan tak gentar. Tanyakan pada anak: apa artinya menjadi sahabat yang bisa dipercaya memegang "cincin" — amanah dari orang lain?
Sahabat sejati menolong dengan berani, cerdik, dan setia sampai tugasnya selesai.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.