

Halaman 1
Pagi itu, seekor gagak menemukan sepotong keju di dekat rumah petani. Ia senang sekali. Dibawanya keju itu terbang ke dahan pohon yang tinggi, untuk sarapan dengan tenang.

Halaman 2
Di bawah pohon, lewatlah seekor rubah. Hidungnya mencium bau keju yang gurih. Ia mendongak dan melihat gagak. “Hmm,” pikir rubah, “keju itu harus menjadi milikku. Tapi bagaimana caranya?”
Halaman 3
Rubah berdehem, lalu berkata manis, “Selamat pagi, Gagak yang cantik! Bulumu hitam berkilau seperti langit malam penuh bintang!” Gagak menoleh. Belum pernah ada yang memujinya seperti itu.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
“Sayang sekali,” lanjut rubah sambil menghela napas, “burung secantik ini pasti tidak bisa bernyanyi. Andai suaramu semerdu bulumu, kamulah ratu semua burung!” Dada gagak mengembang bangga.
Halaman 5
“Tidak bisa bernyanyi? Akan kutunjukkan!” pikir gagak. Ia membuka paruhnya lebar-lebar. “Gaaak! Gaaak!” Dan saat itu juga — pluk! — keju itu jatuh dari paruhnya, tepat ke depan kaki rubah.
Halaman 6
Rubah menangkap keju itu. “Terima kasih atas lagunya!” katanya sambil tersenyum lebar. “Suaramu memang nyaring. Tapi lain kali, jangan buka paruhmu hanya karena pujian manis.” Lalu ia berlari masuk ke semak-semak.
Halaman 7
Gagak terdiam di dahannya. Malu rasanya. “Aku tertipu,” gumamnya. “Ia memujiku bukan karena tulus, tapi karena menginginkan kejuku.” Perutnya berbunyi pelan, tetapi kepalanya kini menjadi lebih pintar.
Halaman 8
Beberapa hari kemudian, gagak menemukan sepotong roti. Rubah lewat lagi. “Selamat pagi, Gagak tercantik di dunia!” serunya. Gagak menggigit rotinya kuat-kuat dan hanya mengangguk. Rubah tertawa. “Nah, sekarang kamu sudah pintar!”
Halaman 9
Sore turun perlahan di ladang. Gagak menghabiskan rotinya dengan tenang di dahan, tidak lagi terbujuk kata-kata manis. Matanya mulai terpejam mengantuk. Biarkan matamu ikut terpejam juga. Tidurlah yang tenang sampai pagi menjelang.
Gagak dan rubah adalah fabel tentang rayuan manis. Rubah dalam dongeng Barat memainkan peran yang di Nusantara dipegang Sang Kancil — si cerdik yang menang dengan akal, bukan otot; di perpustakaan kami keduanya bisa dibandingkan langsung dari cerita-cerita kancil.
Jangkar dunia nyatanya justru sangat masa kini: iklan dan bujukan. Anak-anak setiap hari mendengar kata-kata semanis rubah — "kamu hebat, ayo beli, ayo klik". Cerita ini cara yang aman untuk mulai belajar membedakan pujian yang tulus dari rayuan yang menginginkan "keju" kita.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi kami menambah babak kedua: gagak menemukan roti, rubah merayu lagi — dan kali ini gagak hanya mengangguk sambil menggigit rotinya kuat-kuat. Bahan obrolan: boleh senang dipuji, tidak perlu langsung menurut; apa bedanya teman yang memuji dan orang yang membujuk?
Berhati-hatilah dengan pujian yang berlebihan; sanjungan manis kadang menyembunyikan maksud tersembunyi.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.