

Halaman 1
Dewi Freya baik hati dan cantik jelita. Keretanya ditarik dua ekor kucing besar berbulu abu-abu. Ke mana pun ia pergi, bunga-bunga menoleh ke arahnya, dan burung-burung ikut bernyanyi.

Halaman 2
Suatu hari Freya berjalan di dekat bukit batu. Ting, ting, ting! Terdengar bunyi palu kecil dari bawah tanah. Ia mengintip ke dalam gua: empat kurcaci sedang menempa kalung emas yang indah luar biasa, berkilau seperti fajar.
Halaman 3
«Kalung itu indah sekali,» kata Freya. «Bolehkah kutukar dengan emas atau permata?» Kurcaci tertua menggeleng. «Kami hidup di dalam tanah, Nona. Emas kami sudah banyak. Tapi kami belum pernah melihat matahari...»
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Freya duduk di tengah gua, lalu bernyanyi. Ia bernyanyi tentang fajar di atas laut, tentang padang bunga musim panas, tentang salju yang berkilau. Tiga malam ia bernyanyi. Para kurcaci mendengarkan sambil berkaca-kaca.
Halaman 5
«Kalung ini milikmu,» kata para kurcaci. «Nyanyianmu membawa matahari masuk ke gua kami.» Freya memakai kalung itu. Namanya Brisingamen. Cahayanya lembut dan hangat — malam pun terasa terang.
Halaman 6
Loki melihat kalung itu dan gatal ingin iseng. Malam-malam ia berubah menjadi kutu kecil dan menyelinap ke kamar Freya. Di dalam ia kembali ke wujud aslinya, lalu — hup! — membawa kabur Brisingamen lewat jendela. Di tangan Loki, kalung itu meredup.
Halaman 7
Di jembatan pelangi, Heimdall mendengar semuanya — bahkan bunyi langkah kutu! «Loki! Kembalikan kalung itu!» Loki berubah jadi burung — Heimdall menjadi elang. Loki jadi ikan — Heimdall jadi anjing laut. Loki selalu ditemukan.
Halaman 8
Akhirnya Loki menyerah, terengah-engah. «Baik, baik! Ini kalungnya. Kutu pun kau dengar... aku kalah.» Heimdall tersenyum kecil dan membawa Brisingamen pulang. Loki ikut di belakang, menunduk, siap minta maaf.
Halaman 9
Saat kalung kembali ke leher Freya, cahayanya menyala hangat lagi. «Lihat, Loki,» kata Freya lembut. «Barang yang diambil diam-diam kehilangan cahayanya. Barang yang diberikan dengan tulus akan bersinar.» Loki mengangguk. «Maafkan aku, Freya.»
Halaman 10
Malam itu Brisingamen berkilau pelan di kamar Freya, seperti bara kecil yang hangat. Dua kucing besar meringkuk di kaki tempat tidur, mendengkur: rrr... rrr... Ikutlah mendengkur pelan seperti kucing... dan tidurlah nyenyak.
Kalung Brisingamen milik Freya disebut dalam puisi-puisi Nordik tua dan Edda, tetapi kisah lengkap empat kurcaci yang menempanya baru tercatat dalam naskah Islandia abad ke-14, Sorla thattr. Perebutan kalung antara Loki dan Heimdall — keduanya berwujud anjing laut — justru lebih tua: ia digambarkan seorang penyair Islandia abad ke-10.
Kilau emas yang ditempa tangan bisa dilihat tidak jauh dari rumah: di desa Celuk, Gianyar, Bali, para perajin masih membuat perhiasan emas dan perak dengan palu kecil dan api, seperti kurcaci di gua. Kucing yang mendengkur di kaki tempat tidur pun bisa dicoba malam ini — kereta Freya yang ditarik kucing memang detail asli Edda.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam kanon Freya membayar kalung itu dengan cara yang tidak untuk anak-anak, dan Loki mencurinya atas perintah Odin; versi kami menggantinya dengan tiga malam nyanyian dan kejar-kejaran berganti wujud yang berakhir dengan maaf. Bahan ngobrol: kenapa benda yang diambil diam-diam terasa "redup"?
Keindahan sejati diperoleh dengan ketulusan, bukan dengan mengambil milik orang lain.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.