

Halaman 1
Seorang raja punya dua belas putri. Setiap malam pintu kamar mereka dikunci rapat. Tapi setiap pagi, dua belas pasang sepatu mereka sudah robek, seperti habis menari semalaman. "Ke mana mereka pergi?" pikir raja bingung.

Halaman 2
Raja mengumumkan sebuah teka-teki. "Siapa bisa menjelaskan ke mana putri-putriku pergi, akan menjadi sahabat istana." Banyak orang mencoba. Semua tertidur pulas sebelum tengah malam, dan tak ada yang tahu jawabannya.
Halaman 3
Seorang prajurit muda pulang dari perjalanan jauh. Di jalan ia bertemu nenek yang membawa kayu bakar. Prajurit itu menolong memikulkan kayunya. "Kau baik hati," kata nenek. "Kuberi tahu satu rahasia: jangan minum minuman yang diberikan para putri."
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Nenek itu memberinya sehelai jubah tipis. "Pakai ini, dan kau tak akan terlihat," katanya. Malam itu, prajurit datang ke istana. Putri sulung membawakan secangkir minuman. Prajurit pura-pura meminumnya, lalu berbaring dan mendengkur keras-keras.
Halaman 5
"Dia sudah tidur," bisik putri sulung. Ia mengetuk tempat tidurnya tiga kali. Krek! Lantai kamar terbuka, dan muncul tangga menurun. Satu per satu, dua belas putri turun dengan gaun berkilauan. Prajurit memakai jubahnya dan mengikuti diam-diam.
Halaman 6
Tangga itu menuju hutan ajaib. Daun-daun pohonnya dari perak, lalu dari emas, lalu dari permata. Prajurit memetik satu ranting sebagai bukti. Krek! "Kakak, ada bunyi!" bisik si bungsu. "Ah, itu hanya ranting jatuh," jawab kakaknya.
Halaman 7
Di tepi danau, dua belas perahu menunggu. Setiap putri naik ke perahunya. Prajurit ikut naik bersama si bungsu tanpa terlihat. "Perahuku berat sekali malam ini," keluh si bungsu. "Mungkin airnya pasang," jawab kakaknya sambil mendayung.
Halaman 8
Di seberang danau berdiri istana yang bercahaya. Musik mengalun, dan dua belas putri menari sampai sepatu mereka robek. Prajurit menonton dari sudut ruangan. Menjelang subuh, mereka semua kembali, dan prajurit tiba lebih dulu di kamarnya.
Halaman 9
Pagi harinya, raja bertanya, "Apakah kau tahu jawabannya?" "Tahu, Baginda," jawab prajurit. Ia menceritakan tangga, hutan permata, dan danau. Lalu ia mengeluarkan ranting emas. Kedua belas putri berpandangan. "Benar semua, Ayah," aku si bungsu.
Halaman 10
Raja tertawa lega. "Menarilah, tapi di aula istana, dan sebelum tengah malam!" Sejak itu, sepatu mereka awet, dan istana ramai oleh musik setiap sore. Sekarang musiknya reda. Rentangkan kakimu, dan tidurlah seperti dua belas putri itu.
Dua Belas Putri Menari adalah dongeng teka-teki dari Jerman, dari kumpulan Grimm: sepatu-sepatu yang robek setiap pagi adalah misteri yang harus dipecahkan. Membacanya seperti cerita detektif pertama untuk anak — petunjuknya disebar dari tangga rahasia sampai ranting emas.
Jangkar paling dekat ada di rak sepatu: sol sepatu anak yang cepat menipis adalah "bukti" betapa jauh kaki kecil melangkah setiap hari. Ajak anak memeriksa sepatunya sendiri seperti raja memeriksa sepatu para putri — lalu menebak-nebak bersama, ke mana saja kaki ini pergi seharian?
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Di buku tua para penebak yang gagal kehilangan nyawanya; di versi kami mereka hanya tertidur pulas. Akhirnya pun hangat: raja tidak menghukum, melainkan mengizinkan menari — di aula istana, sebelum tengah malam. Bahan ngobrol: rahasia yang membebani terasa lebih ringan setelah diceritakan pada orang tua.
Kebaikan yang tulus mendatangkan pertolongan, dan rahasia selalu lebih baik dibicarakan terbuka.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.