

Halaman 1
Dahulu kala, ketika sawah belum ada, orang-orang di Pulau Jawa hidup dari umbi-umbian hutan. Kalau musim kering datang, umbi sulit dicari, dan anak-anak sering tidur dengan perut lapar.

Halaman 2
Dari langit yang tinggi, seorang putri bernama Dewi Sri sering memandang ke bumi. Selendangnya hijau berkilau keemasan. Hatinya sedih melihat manusia bekerja keras namun tetap kekurangan makanan.
Halaman 3
Maka turunlah Dewi Sri ke bumi. Ia menyamar menjadi gadis desa. “Bolehkah aku tinggal di sini?” tanya gadis itu ramah. Para petani menyambutnya. Tak ada yang tahu siapa dia, tetapi semua senang berada di dekatnya.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Dewi Sri mengajari penduduk banyak hal. Mereka belajar membuat petak-petak tanah berundak di lereng bukit, mengalirkan air dari sungai, dan merawat tanah dengan sabar. “Tanah yang disayangi akan menyayangi kita kembali,” katanya.
Halaman 5
Musim demi musim, penduduk semakin pandai bercocok tanam. Namun suatu malam, langit memanggil Dewi Sri pulang. Ia memandang desa yang sudah dicintainya itu, dan air matanya jatuh satu per satu ke tanah yang basah.
Halaman 6
Ajaib! Di tempat air mata itu jatuh, tumbuh tanaman baru yang belum pernah ada: batangnya ramping, daunnya panjang, dan bulir-bulirnya kelak berisi beras yang pulen. Itulah padi yang pertama.
Halaman 7
“Rawatlah tanaman ini seperti aku merawat kalian,” pesan Dewi Sri lembut. “Bila sawah menguning, ingatlah aku sedang tersenyum.” Lalu ia naik ke langit, dan selendang emasnya berkelebat seperti cahaya senja.
Halaman 8
Penduduk merawat padi dengan sabar. Sawah pun menghijau, lalu menguning keemasan seperti selendang Dewi Sri. Untuk pertama kalinya, semua orang makan nasi hangat sampai kenyang. Tak ada lagi malam yang lapar.
Halaman 9
Sampai kini para petani Jawa mengenang kebaikan Dewi Sri setiap kali panen tiba. Burung pipit menari di atas sawah, orang-orangan sawah bergoyang pelan, dan bulir padi menunduk seperti mengucap terima kasih.
Halaman 10
Malam ini, bayangkan sawah yang menguning berayun pelan ditiup angin... berbisik pelan seperti lagu tidur. Perutmu kenyang, hatimu hangat. Pejamkan matamu, dan tidurlah nyenyak sampai pagi.
Dewi Sri adalah tokoh yang dihormati dalam tradisi tani di Jawa, Sunda, dan Bali sebagai pelindung padi dan kesuburan. Cerita tentang asal-usul padi darinya hidup dalam banyak versi, dan semuanya menyatukan satu hal: beras bukan sekadar makanan, melainkan titipan yang harus dirawat.
Jejaknya mudah ditunjukkan kepada anak: sawah berundak di lereng-lereng bukit yang persis seperti dalam cerita, dan upacara panen yang sampai kini digelar masyarakat desa sebagai ungkapan terima kasih. Lain kali makan nasi hangat, ingatkan: setiap butir pernah menjadi bulir yang menunduk di sawah.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam mitos-mitos tua, padi tumbuh dari tubuh sang dewi setelah kematiannya — versi kami memilih gambar yang lebih lembut: air mata perpisahan yang menumbuhkan tanaman baru. Bahan ngobrol: dari mana nasi di piring kita berasal, dan siapa saja yang bekerja sebelum nasi itu sampai ke meja. Kalimat Dewi Sri enak dibawa tidur: tanah yang disayangi akan menyayangi kita kembali.
Kebaikan yang kita tanam akan terus tumbuh dan memberi manfaat bagi banyak orang.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.