

Halaman 1
Pagi di pantai Singapura selalu ramai. Nelayan menarik jala. Anak-anak bermain air. Perahu berjejer di pasir. Angin membawa bau garam.

Halaman 2
Tiba-tiba laut bergolak. Puluhan ikan todak melompat ke pantai — ikan laut bermoncong panjang seperti pedang. "Lari! Menjauh dari air!" teriak seorang nelayan.
Halaman 3
Jala robek. Perahu bocor. Payung-payung pasar tertusuk. Raja datang ke pantai dengan wajah cemas. "Bagaimana caranya menahan ikan-ikan ini?" tanyanya.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
"Kita buat dinding, Tuanku!" seru panglima. Para prajurit berdiri rapat dengan perisai. Ikan todak melompat lagi. Trak, trak! Moncongnya menancap di perisai. Dinding itu pun berantakan.
Halaman 5
Seorang anak menonton dari balik perahu bersama ibunya. Namanya Hang Nadim. Ia memperhatikan pohon pisang di belakang pantai. Lalu ia maju. "Tuanku, batang pisang lebih baik daripada perisai."
Halaman 6
Beberapa menteri tertawa. "Anak kecil tahu apa?" kata mereka. Tetapi raja menunduk mendengarkan. "Coba jelaskan," katanya. "Moncong ikan akan tersangkut di batang yang lembut," jawab Hang Nadim.
Halaman 7
Semalaman orang kampung memotong batang pisang. Mereka menyusunnya sepanjang pantai. Pagi-pagi ikan todak melompat lagi. Jleb! Moncongnya tertancap di batang pisang dan tidak bisa lepas.
Halaman 8
Penduduk melepaskan ikan-ikan itu kembali ke laut dalam. "Selamat jalan, jangan naik lagi ke pantai kami," kata seorang nelayan sambil tertawa lega. Sejak itu ikan todak tidak pernah naik lagi.
Halaman 9
Raja memanggil Hang Nadim ke depan orang banyak. "Terima kasih, anak cerdik," katanya sambil memberinya sebuah sampan baru. Beberapa menteri masam mukanya, tetapi mereka diam saja.
Halaman 10
Sore itu Hang Nadim sampai di rumah dengan sampan barunya. "Akal yang baik bisa datang dari orang yang paling kecil," kata ibunya di tangga. Tidurlah, dan simpan akalmu untuk esok.
Ini salah satu kisah paling terkenal dari Sejarah Melayu: episode "Singapura diserang todak", ketika ikan berpedang berloncatan ke pantai dan seorang anak bernama Hang Nadim menyelamatkan kota dengan akalnya. Orang Melayu memang gemar cerita tentang akal — kecerdikan yang menang tanpa kekerasan — dan menyimpannya dalam hikayat serta pantun; pantun bahkan diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.
Ikan todak nyata: ikan laut bermoncong panjang seperti pedang yang dikenal para nelayan. Ide Hang Nadim pun bisa "diuji" di dapur atau kebun: batang pisang memang lunak — benda runcing mudah menancap dan tertahan di dalamnya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam kanonnya kisah ini berakhir kelam: para pembesar yang iri mencelakai Hang Nadim. Versi kami berhenti di tempat yang terang — ia diberi sampan, dan para menteri hanya masam mukanya. Bahan ngobrol: ide bagus bisa datang dari yang paling kecil, asal ada yang mau menunduk dan mendengarkan seperti sang raja.
Dengarkan dulu idenya, jangan lihat siapa yang mengatakannya; akal yang baik bisa datang dari anak sekalipun.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.