

Halaman 1
Dahulu kala di Jepang, saat salju turun tebal, seorang kakek berjalan pulang dari pasar. Di tengah sawah bersalju, ia melihat seekor bangau putih terjerat perangkap. Bangau itu mengepak-ngepak lemah. «Kasihan sekali kau,» kata kakek.

Halaman 2
Dengan hati-hati kakek melepaskan jeratnya. «Terbanglah. Hati-hati, ya.» Bangau itu berputar tiga kali di atas kepala kakek, seperti mengucapkan terima kasih, lalu menghilang di balik salju yang turun.
Halaman 3
Malamnya — tok, tok, tok! Pintu diketuk. Seorang gadis berdiri di tengah salju, memakai kimono putih — kimono itu baju panjang khas Jepang. «Bolehkah saya menumpang bermalam? Salju terlalu tebal.» «Masuklah,» kata nenek. «Duduklah dekat api.»
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Gadis itu rajin dan lembut. Ia memasak, menyapu, dan membuat kakek nenek tertawa. Mereka menyayanginya seperti anak sendiri. Suatu hari ia berkata, «Aku ingin menenun kain untuk kalian jual. Tapi berjanjilah: jangan mengintip saat aku menenun.»
Halaman 5
Dari balik pintu terdengar tak-tak-tak, suara alat tenun. Semalaman gadis itu menenun. Paginya ia keluar membawa kain yang berkilau seperti awan dan salju. Di pasar, kain itu laku sangat mahal. «Kain terindah yang pernah kulihat!» kata pedagang.
Halaman 6
Begitu terus berkali-kali. Tapi kakek dan nenek mulai bertanya-tanya. «Bagaimana ia menenun kain seindah itu? Benangnya dari mana?» Suatu malam, rasa penasaran mereka menang. Pelan-pelan mereka menggeser pintu... dan mengintip.
Halaman 7
Di dalam, bukan gadis yang menenun — melainkan bangau putih! Ia mencabuti bulunya sendiri yang paling lembut dan menenunnya menjadi kain. «Ah!» Kakek dan nenek terkejut. Bangau itu menoleh dengan mata yang sedih.
Halaman 8
Gadis itu kembali ke wujudnya dan menunduk. «Akulah bangau yang Kakek tolong. Aku ingin membalas budi. Tapi rahasiaku sudah terlihat, jadi aku harus pulang ke langit.» «Maafkan kami,» bisik nenek. «Jangan pergi...»
Halaman 9
«Jangan sedih,» kata gadis bangau lembut. «Aku selalu ingat kehangatan rumah ini.» Ia menjelma bangau putih dan terbang ke langit senja. Tapi setiap musim dingin, ia terbang rendah di atas rumah itu — kaok! kaok! — menyapa kakek dan nenek.
Halaman 10
Kakek dan nenek selalu membalas melambai ke langit. Selembar kain bulu bangau mereka simpan; hangatnya tak pernah hilang — seperti kebaikan yang pernah diberikan. Sekarang tarik selimutmu sampai ke dagu. Hangat, kan? Tidurlah, selembut bulu bangau.
"Tsuru no Ongaeshi", bangau yang membalas budi, adalah salah satu dongeng rakyat Jepang yang paling disayangi. Ia hidup dari tradisi lisan dalam dua bentuk: bangau yang datang ke pasangan tua, seperti versi kami, dan bangau yang menjadi istri pemuda. Burungnya adalah bangau mahkota merah, burung besar berbulu putih yang di Jepang melambangkan umur panjang dan dikenal lewat origami.
Bangau mahkota merah tidak ada di Indonesia, tapi burung putih berkaki panjang mudah dilihat di sawah: kuntul yang mengikuti kerbau untuk mencari serangga, dan bangau tongtong di rawa. Alat tenun yang berbunyi tak-tak-tak juga masih hidup di sini, dari tenun ikat di Nusa Tenggara sampai songket di Sumatra.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Cerita aslinya berakhir dengan bangau pergi selamanya; versi kami membiarkan ia kembali setiap musim dingin dan mengubah rasa bersalah menjadi kesempatan berpamitan. Bahan ngobrol: kenapa kakek dan nenek akhirnya mengintip, dan apa yang membuat menepati janji itu sulit?
Janji yang sudah kita ucapkan harus dijaga, walaupun rasa ingin tahu menggoda.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.