

Halaman 1
Dahulu di sebuah kampung tinggal empat belas bersaudara. Yang paling tua bernama Awang Alak Betatar. Yang paling kuat bernama Awang Semaun. Kampung mereka kecil dan sudah sesak.

Halaman 2
"Kita cari tempat baru," kata Awang Alak Betatar. "Tempat yang airnya manis dan ikannya banyak," tambah Awang Semaun. Mereka menebang kayu dan membuat perahu besar.
Halaman 3
Berhari-hari perahu itu menyusuri pantai. Mereka singgah di sebuah teluk, tetapi pantainya penuh batu karang dan airnya asin. "Ayo, terus," kata Awang Semaun sambil mendayung.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Suatu pagi perahu kandas di pasir dangkal. Semua turun dan mendorong. Perahu tidak bergerak sedikit pun. Awang Semaun memegang haluan seorang diri. Hup! Perahu meluncur lagi ke air dalam.
Halaman 5
Mereka masuk ke sebuah muara yang lebar. Pohon bakau berdiri rapat di kiri dan kanan. Ikan melompat di depan perahu. "Airnya manis!" seru adik bungsu setelah mencicipi air sungai itu.
Halaman 6
Awang Semaun menepuk lututnya dan berseru, "Baru nah!" Dalam bahasa mereka artinya "nah, ini dia!". Semua tertawa senang. Sejak itu tempat itu disebut Brunei.
Halaman 7
Mereka menancapkan tiang-tiang di dalam air. Rumah panggung berdiri di atas sungai. Kampung seperti itu disebut kampung air. Anak-anak di sana belajar berenang sebelum belajar berjalan.
Halaman 8
Awang Semaun memanggul balok besar seorang diri. "Pelan-pelan, nanti patah!" seru saudaranya. "Kalau patah, nanti kusambung," jawabnya sambil tertawa. Jembatan kayu itu pun selesai.
Halaman 9
Perahu dagang mulai singgah. Mereka membawa kain dan garam. Pasar terapung ramai sejak subuh. "Yang tertua memimpin, yang lain membantu," kata Awang Alak Betatar.
Halaman 10
Malam turun di atas sungai. Lampu-lampu rumah bergoyang di air. "Kita sampai juga," kata Awang Semaun pelan dari tangga rumahnya. Tempat terbaik adalah tempat yang dibangun bersama-sama. Tidurlah, lampunya masih menyala di air.
Ini legenda asal negeri Brunei di pulau Kalimantan: empat belas bersaudara berlayar mencari tempat tinggal baru, dan nama "Brunei" lahir dari seruan gembira "Baru nah!" — "nah, ini dia!". Tokoh-tokohnya, si sulung Awang Alak Betatar dan si kuat Awang Semaun, dikenal dalam tradisi lisan dan syair lama Brunei; versi kami mengambil sisi kesehariannya: mencari air manis, mendirikan rumah, membangun jembatan.
Jangkar nyatanya masih dihuni sampai sekarang: Kampong Ayer, kampung rumah panggung raksasa di atas Sungai Brunei di tengah ibu kota. Anak-anak di sana benar-benar tumbuh di atas air, dan lampu-lampu rumahnya memantul di sungai seperti halaman terakhir cerita ini.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Ini kisah yang terang, tanpa musuh — tantangannya alam dan kerja bersama. Bahan ngobrol: setiap saudara punya peran, "yang tertua memimpin, yang lain membantu"; tanyakan pada anak, peran apa yang paling ia sukai saat sekeluarga mengerjakan sesuatu bersama.
Tempat yang baik bukan yang paling megah, melainkan yang dibangun dan dijaga bersama-sama.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.