Google PlayApp Store
Sampul cerita Awang Semaun dan Asal Brunei

Awang Semaun dan Asal Brunei

10 halaman2 menit 46 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Dahulu di sebuah kampung tinggal empat belas bersaudara. Yang paling tua bernama Awang Alak Betatar. Yang paling kuat bernama Awang Semaun. Kampung mereka kecil dan sudah sesak.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

"Kita cari tempat baru," kata Awang Alak Betatar. "Tempat yang airnya manis dan ikannya banyak," tambah Awang Semaun. Mereka menebang kayu dan membuat perahu besar.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Berhari-hari perahu itu menyusuri pantai. Mereka singgah di sebuah teluk, tetapi pantainya penuh batu karang dan airnya asin. "Ayo, terus," kata Awang Semaun sambil mendayung.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Suatu pagi perahu kandas di pasir dangkal. Semua turun dan mendorong. Perahu tidak bergerak sedikit pun. Awang Semaun memegang haluan seorang diri. Hup! Perahu meluncur lagi ke air dalam.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Mereka masuk ke sebuah muara yang lebar. Pohon bakau berdiri rapat di kiri dan kanan. Ikan melompat di depan perahu. "Airnya manis!" seru adik bungsu setelah mencicipi air sungai itu.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Awang Semaun menepuk lututnya dan berseru, "Baru nah!" Dalam bahasa mereka artinya "nah, ini dia!". Semua tertawa senang. Sejak itu tempat itu disebut Brunei.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Mereka menancapkan tiang-tiang di dalam air. Rumah panggung berdiri di atas sungai. Kampung seperti itu disebut kampung air. Anak-anak di sana belajar berenang sebelum belajar berjalan.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Awang Semaun memanggul balok besar seorang diri. "Pelan-pelan, nanti patah!" seru saudaranya. "Kalau patah, nanti kusambung," jawabnya sambil tertawa. Jembatan kayu itu pun selesai.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Perahu dagang mulai singgah. Mereka membawa kain dan garam. Pasar terapung ramai sejak subuh. "Yang tertua memimpin, yang lain membantu," kata Awang Alak Betatar.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Malam turun di atas sungai. Lampu-lampu rumah bergoyang di air. "Kita sampai juga," kata Awang Semaun pelan dari tangga rumahnya. Tempat terbaik adalah tempat yang dibangun bersama-sama. Tidurlah, lampunya masih menyala di air.

Tentang cerita ini

Ini legenda asal negeri Brunei di pulau Kalimantan: empat belas bersaudara berlayar mencari tempat tinggal baru, dan nama "Brunei" lahir dari seruan gembira "Baru nah!" — "nah, ini dia!". Tokoh-tokohnya, si sulung Awang Alak Betatar dan si kuat Awang Semaun, dikenal dalam tradisi lisan dan syair lama Brunei; versi kami mengambil sisi kesehariannya: mencari air manis, mendirikan rumah, membangun jembatan.

Jangkar nyatanya masih dihuni sampai sekarang: Kampong Ayer, kampung rumah panggung raksasa di atas Sungai Brunei di tengah ibu kota. Anak-anak di sana benar-benar tumbuh di atas air, dan lampu-lampu rumahnya memantul di sungai seperti halaman terakhir cerita ini.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Ini kisah yang terang, tanpa musuh — tantangannya alam dan kerja bersama. Bahan ngobrol: setiap saudara punya peran, "yang tertua memimpin, yang lain membantu"; tanyakan pada anak, peran apa yang paling ia sukai saat sekeluarga mengerjakan sesuatu bersama.

Untuk orang tua

Pesan moral

Tempat yang baik bukan yang paling megah, melainkan yang dibangun dan dijaga bersama-sama.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Mengapa empat belas bersaudara itu pergi mencari tempat baru?
  2. Dari kata apa nama Brunei berasal menurut cerita ini?
  3. Bagaimana Awang Semaun menolong ketika perahu kandas?
  4. Apa yang pernah kamu bangun atau kerjakan bersama-sama dengan orang lain?

Untuk kelas

sesakkandashaluanmuarabakaumemanggulterapung

Cerita lain: Melayu

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.