Identitas
- Kelompok usia: 4–6 tahun (TK A/B)
- Topik: Lingkunganku · Subtopik: Membangun tempat tinggal bersama
- Alokasi waktu: 60 menit (satu blok dalam hari belajar; bisa dibagi dua hari)
- Cerita: Awang Semaun dan Asal Brunei (cerita rakyat Melayu, 10 halaman, 3 menit)
- Dimensi profil lulusan: Kolaborasi, Kewargaan, Kreativitas
Tujuan pembelajaran
- Anak menyebutkan mengapa empat belas bersaudara pergi mencari tempat baru.
- Anak menceritakan bagaimana Awang Semaun menolong ketika perahu kandas.
- Anak menyebutkan asal nama Brunei dari seruan «Baru nah!».
- Anak membangun rumah panggung dari balok bersama kelompok dan menyebut tugasnya.
Alat dan bahan
- Cerita Awang Semaun dan Asal Brunei: pemutar «Putar di kelas» di laptop/proyektor, atau dibacakan guru.
- Kartu diskusi & kosakata (cetak 1 lembar untuk guru).
- Lembar mewarnai halaman 4 atau 7 (cetak sesuai jumlah anak).
- Balok kayu atau plastik; kain biru sebagai sungai.
Pembukaan (10 menit)
- Salam, doa pembuka sesuai kebiasaan sekolah, absen.
- Pertanyaan pemantik: «Siapa yang pernah membangun rumah-rumahan dari balok bersama teman?»
- Tunjukkan gambar halaman 1: «Kampung ini sesak. Kalau rumah terlalu sempit, apa yang bisa dilakukan?»
- Perkenalkan 3 kata: kandas, muara, bakau.
Inti (40 menit)
- Memahami: Putar atau bacakan halaman 1 sampai 4. Berhenti saat perahu meluncur lagi ke air dalam. Tanya: «Tempat seperti apa yang akan mereka temukan?»
- Memahami: Lanjutkan sampai halaman 6. Jeda: «Apa yang diseru Awang Semaun?» Lalu halaman 10.
- Mengaplikasi: «Perahu kandas»: anak duduk berbaris dan menghitung sampai empat belas. Aba-aba guru: mendayung (tangan mengayuh), «kandas!» (semua mendorong: satu, dua, tiga, hup!), «airnya manis!» (tersenyum), «Baru nah!» (semua berseru). Tanya: «Siapa yang memegang haluan seorang diri?»
- Mengaplikasi: «Membangun kampung air»: kelompok empat anak, kain biru sebagai sungai. Satu anak memimpin: tiang dulu, lantai di atasnya, lalu jembatan ke kelompok sebelah. Tanya: «Tugasmu apa? Mengapa rumahnya bertiang?»
- Mengaplikasi: Mewarnai halaman 7 atau 4. Tanya: «Anak-anak di kampung air belajar apa dulu?»
- Merefleksi: Duduk melingkar. Bahas: «Mengapa empat belas bersaudara itu pergi mencari tempat baru?», «Dari kata apa nama Brunei berasal menurut cerita ini?», «Bagaimana Awang Semaun menolong ketika perahu kandas?»
Penutup (10 menit)
- Recalling: Bergiliran, anak menyebutkan apa yang kelompoknya bangun dan tugasnya.
- Ulangi kata baru: kandas, muara, bakau, sesak, memanggul.
- Pesan untuk di rumah: dengarkan cerita lagi bersama orang tua (kode PR dari guru), lalu kerjakan satu hal bersama seisi rumah.
- Doa penutup dan salam.
Asesmen (observasi)
- Sebab pergi: anak menyebutkan kampung sesak dan tempat yang dicari: air manis.
- Menolong: anak menceritakan Awang Semaun memegang haluan sendirian sampai perahu lepas.
- Nama Brunei: anak menyebutkan seruan «Baru nah!» sebagai asal nama.
- Membangun bersama: anak menyebutkan tugasnya dan ikut menyusun tiang atau lantai.
- Dokumentasi: foto bangunan, hasil karya, catatan anekdot saat membangun.
Catatan untuk guru
- Untuk kelompok A (4 tahun): berhenti di halaman 7, cukup satu ragam main («Membangun kampung air»), refleksi cukup: apa yang diseru Awang Semaun.
- Menghitung sampai empat belas boleh dibantu guru; kelompok A cukup sampai lima.
- Brunei Darussalam adalah negara kecil di pulau Kalimantan. Kampong Ayer sungguh ada: ribuan rumah panggung di atas Sungai Brunei. Asal nama dari «Baru nah» adalah cerita rakyat, bukan sejarah.