

Halaman 1
Dahulu ada dua kerajaan di Jawa Timur. Di Bantarangin memerintah raja muda yang gagah, Klono Sewandono. Di Kediri tinggal putri yang cantik dan cerdas, Dewi Songgolangit. Sang raja ingin meminangnya.

Halaman 2
Dewi Songgolangit memberi syarat yang tak biasa. “Bawakan aku pertunjukan yang belum pernah ada di dunia: musik yang ramai, barisan penari berkuda, dan seekor hewan ajaib yang belum pernah dilihat orang.”
Halaman 3
Klono Sewandono pulang dan berpikir keras. Ia menyiapkan penabuh gamelan yang riuh rendah dan penari-penari berkuda yang tangkas. Namun hewan ajaib yang belum pernah dilihat orang? Ia belum menemukannya.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Rombongan berangkat ke Kediri melewati hutan Lodaya yang lebat. Tiba-tiba jalan mereka dihadang raksasa berkepala singa, Singo Barong, penjaga hutan itu. “Berhenti! Tak ada yang boleh melewati hutanku!”
Halaman 5
Klono Sewandono maju dengan cambuk saktinya, Pecut Samandiman. Suara cambuknya menggelegar seperti guntur. Namun Singo Barong berdiri kokoh seperti gunung. Lama keduanya sama kuat, sampai sama-sama berhenti terengah-engah.
Halaman 6
Saat itulah seekor burung merak turun dan hinggap di kepala Singo Barong. Ia mematuk-matuk rambut sang raksasa, lalu mengembangkan ekornya yang indah. Semua tertegun: singa dengan merak di kepalanya, megah sekali!
Halaman 7
Klono Sewandono tertawa gembira. “Itu dia! Hewan ajaib yang belum pernah dilihat orang!” Ia mengulurkan tangan. “Jangan kita berkelahi, Singo Barong. Menarilah bersama kami.” Raksasa itu setuju, sebab ia bosan sendirian.
Halaman 8
Sampailah rombongan di Kediri. Gamelan bertalu ramai, penari jathil berkuda berbaris rapi, dan Singo Barong menari gagah dengan merak di kepalanya. Dewi Songgolangit tersenyum takjub. “Syaratku terpenuhi.”
Halaman 9
Sejak itu pertunjukan tersebut dinamai Reog. Sampai sekarang Reog ditarikan di Ponorogo: topeng singa besar berhias bulu merak yang megah, diiringi gamelan dan penari berkuda, membuat semua yang menonton berdecak kagum.
Halaman 10
Kini pestanya usai. Gamelan sudah senyap, alun-alun sepi, dan burung merak melipat ekornya yang indah untuk tidur. Lipat juga selimutmu sampai hangat, pejamkan matamu, dan tidurlah dengan nyenyak.
Cerita ini menjelaskan asal-usul Reog Ponorogo — pertunjukan rakyat Jawa Timur yang termasyhur: topeng singa raksasa berhias kipas bulu merak, penari jathil berkuda, dan gamelan yang riuh. Legendanya menyimpan semua unsur itu: Singo Barong, burung merak, penari berkuda, dan raja yang memilih mengajak menari alih-alih berkelahi.
Reog bisa ditonton sungguhan sampai sekarang, terutama di Ponorogo — setiap tahun kota itu menggelar festival besar Grebeg Suro. Topeng dadak merak beratnya berpuluh-puluh kilogram, dan penarinya menahan topeng itu dengan kekuatan gigitannya. Anak yang sudah kenal ceritanya akan menonton dengan mata berbinar: ia tahu siapa singa bermahkota merak itu.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan ngobrol yang bagus: dua yang sama kuat tidak harus bertarung sampai ada yang kalah — Klono Sewandono dan Singo Barong berhenti, lalu justru menciptakan sesuatu yang indah bersama. Tanyakan pada anak: pernahkah bertengkar dengan teman lalu malah jadi sahabat?
Perselisihan bisa berubah menjadi keindahan bila kita mau bekerja sama.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.