

Halaman 1
Dahulu kala di laut Jawa Timur hiduplah seekor hiu besar bernama Sura. Di muara sungai tinggal seekor buaya kuat bernama Baya. Keduanya sama-sama gagah, sama-sama cepat, dan sama-sama mudah lapar.

Halaman 2
Setiap kali mencari makan, mereka bertemu di tempat yang sama dan berebut. “Ikan ini milikku!” seru Sura. “Aku yang melihatnya duluan!” balas Baya. Air pun berputar-putar karena mereka berkejaran.
Halaman 3
Berhari-hari mereka beradu kuat. Sura cepat seperti anak panah, Baya kokoh seperti batang kayu besi. Tak ada yang menang, tak ada yang kalah. Keduanya hanya menjadi sangat, sangat lelah.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Akhirnya Sura punya usul. “Kita bagi saja daerahnya. Aku berburu di laut, kau berburu di sungai dan darat. Batasnya muara ini.” Baya setuju. “Baik. Tapi janji harus ditepati!” Mereka pun berpisah.
Halaman 5
Lama keduanya hidup tenang. Namun pada suatu musim, ikan di laut sulit dicari. Sura diam-diam berenang masuk ke sungai lewat muara. “Sedikit saja,” pikirnya, “Baya pasti tidak akan tahu.”
Halaman 6
Tentu saja Baya tahu. Air sungai menjadi keruh oleh kibasan ekor Sura. “Sura! Kau melanggar janjimu sendiri!” seru Baya. “Sungai ini kan menyambung ke laut,” jawab Sura mencari-cari alasan.
Halaman 7
Maka keduanya beradu kekuatan sekali lagi. Ombak besar naik, air sungai bergulung-gulung. Penduduk di tepian menonton dari jauh sambil berseru, “Lihat! Sura dan Baya! Sura dan Baya!”
Halaman 8
Sampai matahari condong ke barat, keduanya tetap sama kuat. Akhirnya mereka berhenti, terengah-engah. Sura berkata pelan, “Kau benar, Baya. Aku salah karena melanggar janji. Laut tempatku. Aku pulang.”
Halaman 9
Baya mengangguk dengan hormat. “Kau lawan yang hebat, Sura.” Muara itu pun dikenang orang sebagai tempat bertemunya dua yang gagah, dan dinamai Surabaya, kota besar yang ramai sampai sekarang.
Halaman 10
Kini lambang kota Surabaya bergambar hiu dan buaya yang gagah. Malam ini sungai mengalir tenang menuju laut yang teduh. Seperti Sura dan Baya yang sudah berdamai, hatimu pun tenang. Selamat tidur.
Cerita hiu Sura dan buaya Baya adalah legenda asal nama Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia. Dua nama hewan itu bergabung menjadi nama kota — dan sampai sekarang lambang resmi Kota Surabaya bergambar ikan sura dan buaya yang berhadapan.
Jangkarnya mudah ditunjukkan: di Surabaya berdiri Patung Sura dan Baya yang terkenal, salah satu penanda kota yang paling sering difoto. Kalau sekeluarga berkunjung ke sana, dua tokoh cerita malam ini benar-benar bisa "ditemui" — dan anak akan langsung mengenali siapa yang hiu dan siapa yang buaya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi lama pertarungan keduanya berakhir dengan luka dan tanpa perdamaian; versi kami memilih akhir yang lebih lapang: Sura mengakui kesalahannya dan pulang ke laut. Bahan ngobrol: soal berbagi wilayah dan menepati kesepakatan — seperti berbagi mainan atau kamar. Tanyakan: kenapa Sura melanggar janjinya, dan apa yang membuat Baya mau memaafkan?
Janji harus ditepati, dan berani mengakui kesalahan adalah tanda hati yang kuat.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.