

Halaman 1
Dahulu di pesisir utara Jawa Tengah ada tanah luas di antara laut dan perbukitan. Tanahnya subur, tetapi belum banyak penghuninya. Ke sanalah datang rombongan yang dipimpin orang bijak bernama Ki Ageng Pandanaran.

Halaman 2
“Di sinilah kita akan tinggal,” kata Ki Ageng. Namun tanah itu masih berawa-rawa dan penuh nyamuk. Sebagian orang ingin menyerah. “Sabar,” kata Ki Ageng. “Tanah yang baik lahir dari tangan yang rajin.”
Halaman 3
Mereka bergotong royong membuat parit untuk mengalirkan air rawa, menimbun tanah, dan membangun rumah-rumah panggung. Lama-kelamaan ladang menghijau, dan perahu-perahu nelayan mulai berlabuh di muara sungai.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Suatu pagi Ki Ageng Pandanaran berjalan mengelilingi ladang. Ia melihat pohon-pohon asam tumbuh di sana-sini, tetapi letaknya berjauhan. “Lihat,” katanya, “pohon asamnya tumbuh arang-arang — jarang-jarang.”
Halaman 5
“Kalau begitu, kita namai tempat ini Asem Arang!” kata penduduk sambil tertawa senang. Nama itu terus dipakai, dan lama-kelamaan orang mengucapkannya menjadi lebih singkat: Semarang.
Halaman 6
Kampung itu tumbuh menjadi kota pelabuhan yang ramai. Kapal-kapal datang membawa kain dan rempah-rempah. Orang-orang dari berbagai negeri singgah, lalu tinggal dan hidup rukun berdampingan di sana.
Halaman 7
Anak-anak suka bermain di bawah pohon asam. Kadang mereka mencicipi buahnya yang masam, lalu wajah mereka mengerut lucu dan semua tertawa terpingkal-pingkal. “Masam sekali! Tapi enak untuk bumbu sayur, kata Ibu!”
Halaman 8
Ki Ageng Pandanaran selalu berpesan, “Rajinlah bekerja dan rukunlah dengan tetangga. Kota ini milik kita bersama.” Pesan itu dijaga penduduk turun-temurun, dan Semarang pun semakin ramai dan tenteram.
Halaman 9
Kini Semarang menjadi kota besar. Ada pelabuhan yang sibuk, gedung-gedung tua berpintu banyak, dan lumpia yang lezat. Namun namanya tetap mengingatkan pada pohon asam yang dulu tumbuh jarang-jarang itu.
Halaman 10
Malam ini kota sudah tenang. Lampu-lampu berkelip lembut, dan pohon-pohon asam tua bergoyang pelan ditiup angin laut. Seperti kota yang terlelap dengan damai, pejamkan matamu dan tidurlah nyenyak.
Cerita ini menjelaskan asal nama Semarang, kota pelabuhan besar di pesisir utara Jawa Tengah. Menurut tuturan yang diwariskan turun-temurun, Ki Ageng Pandanaran melihat pohon asam yang tumbuh jarang-jarang — asem arang — dan dari situlah nama Semarang lahir.
Jejak ceritanya masih ada di kota itu sendiri: nama Pandanaran kini menjadi salah satu jalan utama Semarang, kotanya dikenal dengan gedung-gedung tua bersejarah dan lumpia yang lezat — persis seperti di halaman penutup cerita kami. Seru juga mengajak anak mencicipi buah asam: wajah mengerut yang lucu itu dijamin sama dengan anak-anak dalam cerita.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Ini cerita yang tenang, tanpa tokoh jahat — kotanya dibangun dengan kesabaran dan gotong royong. Bahan ngobrol: nama-nama tempat di sekitar kita sering menyimpan cerita; coba cari bersama asal nama kampung atau jalan tempat tinggal kalian. Dan pesan Ki Ageng layak diulang: rajin bekerja, rukun dengan tetangga.
Dengan kerja sama, kesabaran, dan hidup rukun, tempat kecil pun tumbuh menjadi kota besar.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.