

Halaman 1
Dahulu, di tepi Kali Ciliwung, terhamparlah tanah yang subur dan hijau. Pohon salak dan duku tumbuh rimbun di sana. Tanah itu dipimpin oleh seorang pangeran yang baik hati. Namanya Pangeran Geger.

Halaman 2
Di dahi Pangeran Geger ada bekas luka kecil dari masa mudanya. Orang Betawi menyebut bekas luka itu codet. Maka warga memanggil beliau dengan sayang: Pangeran Codet. "Selamat pagi, Pangeran Codet!" sapa mereka setiap hari.
Halaman 3
Pangeran Geger tinggal bersama istrinya, Nyai Polong, dan putrinya, Maemunah. Maemunah rajin dan ramah. Ia suka membagikan buah duku kepada anak-anak kampung. Kabar tentang kebaikannya terdengar sampai jauh.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Dari seberang laut, dari tanah Makassar, datanglah pemuda bernama Astawana. Ia sopan dan memiliki kesaktian. Ia ingin meminang Maemunah. "Bolehkah saya melamar putri Pangeran?" tanyanya dengan hormat.
Halaman 5
Pangeran Geger tersenyum. "Putriku punya satu permintaan," katanya. Maemunah maju dan berkata lembut, "Bangunlah rumah dan balai peristirahatan di atas empang, kolam di tepi sungai. Tapi semua harus selesai dalam satu malam."
Halaman 6
Astawana tidak gentar. Malam itu, ia bekerja dengan seluruh kesaktiannya. Tangannya bergerak secepat angin. Kayu tersusun, atap terpasang, batu-batu tertata menjadi jalan. Bintang-bintang menemaninya sepanjang malam.
Halaman 7
Saat ayam berkokok, semuanya sudah berdiri! Sebuah rumah bagus di atas tanah berbatu, dan balai indah yang seakan mengambang di atas empang. "Luar biasa!" seru warga kagum. Maemunah tersenyum. Lamaran pun diterima.
Halaman 8
Pesta pengantin digelar sampai tujuh hari lamanya. Tanah berbatu itu dinamai Batu Ampar. Balai di atas empang dinamai Bale Kembang. Dua nama itu masih dipakai sampai sekarang di Jakarta.
Halaman 9
Dan seluruh tanah subur itu? "Ini kampungnya Pangeran Codet," kata orang-orang setiap kali lewat. Lama-kelamaan, sebutan itu berubah menjadi Condet. Sampai kini, Condet terkenal dengan buah salak dan dukunya yang manis.
Halaman 10
Malam turun di kebun-kebun Condet. Daun salak berdesir pelan. Empang yang tenang memantulkan bintang. Seperti Astawana yang terlelap setelah bekerja keras, kini saatnya kamu beristirahat. Tidur nyenyak, ya. Besok hari baru menantimu.
Ini legenda Betawi tentang asal nama Condet, kampung tua di Jakarta Timur. Tokoh-tokohnya — Pangeran Geger yang berjuluk Pangeran Codet karena bekas luka di dahinya, putrinya Maemunah, dan Astawana, pemuda sakti dari tanah Makassar — hidup dalam cerita rakyat setempat tentang lamaran dengan syarat "selesai dalam satu malam".
Yang membuat legenda ini istimewa: nama-namanya masih dipakai sampai sekarang. Batu Ampar dan Balekambang adalah nama kampung yang nyata di kawasan Kramat Jati, dan Condet memang terkenal sebagai kampungnya salak dan duku.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Syarat "bangun dalam semalam" muncul di banyak legenda Nusantara, tetapi biasanya berakhir dengan tipu daya dan kegagalan; di sini justru sebaliknya — Astawana berhasil, dan tidak ada yang dicurangi. Bahan ngobrol: bekas luka pangeran menjadi nama panggilan yang disayang, bukan diejek — bahwa yang membuat orang dihormati adalah kebaikannya.
Kesungguhan dan kerja keras adalah cara terbaik untuk membuktikan ketulusan hati.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.