

Halaman 1
Seekor anjing berjalan pulang dengan riang. Di mulutnya ada sepotong tulang besar, hadiah dari tukang daging yang baik hati. Ekornya bergoyang-goyang. “Ini tulang terbesar yang pernah kudapat,” pikirnya bangga.

Halaman 2
Jalan pulangnya melewati sungai kecil. Di atas sungai itu ada jembatan kayu. Anjing berjalan pelan di atas jembatan sambil menggigit tulangnya erat-erat. Air di bawahnya jernih dan tenang, seperti cermin besar.
Halaman 3
Di tengah jembatan, anjing menunduk. Ia terkejut. Di dalam air ada anjing lain! Anjing itu juga membawa tulang — dan tulangnya tampak lebih besar! “Wah,” pikirnya, “aku mau tulang yang itu juga!”
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Anjing itu tidak tahu: yang di dalam air hanyalah bayangannya sendiri. Ia menggeram pada bayangan itu. Bayangan ikut menggeram. “Berikan tulangmu!” gonggongnya. Guk!
Halaman 5
Begitu mulutnya terbuka — plung! Tulangnya sendiri jatuh ke sungai. Tulang itu tenggelam pelan-pelan, lalu hilang di dasar yang dalam. Bayangan di air pecah menjadi riak-riak kecil.
Halaman 6
Anjing terdiam di tepi jembatan. Tidak ada anjing lain. Tidak ada tulang kedua. Yang ada hanya air yang bergoyang pelan. “Oh, tidak,” rintihnya. “Itu tadi... bayanganku sendiri.”
Halaman 7
Dengan kepala tertunduk, anjing berjalan pulang ke rumah. Perutnya kosong, hatinya juga. “Karena menginginkan yang bukan milikku,” pikirnya, “aku malah kehilangan milikku sendiri.”
Halaman 8
Di rumah, majikannya menyambut dengan senyum. “Kenapa lesu begitu?” Ia mengelus kepala anjing dan menuangkan makan malam ke mangkuknya. Anjing makan pelan-pelan. Hangatnya rumah terasa lebih berharga daripada tulang mana pun.
Halaman 9
Malam itu anjing tidur melingkar di keset kesayangannya. Besok ia akan menjaga apa yang ia punya, dan tidak lagi iri pada bayangan. Sekarang giliranmu melingkar nyaman di kasurmu. Tidur nyenyak, ya, sampai pagi.
Anjing yang kehilangan tulangnya karena menggonggong pada bayangan sendiri adalah salah satu fabel Aesop yang terpendek — dan yang paling mudah diingat anak. Tentang keserakahan, ia berkata tanpa menggurui: mengejar milik orang lain bisa membuat milik sendiri terlepas.
Bayangan di air adalah mainan sains yang murah: ajak anak becermin di ember, genangan, atau punggung sendok, lalu bergerak — kenapa "anak di dalam air" selalu ikut? Anjing sungguhan pun umumnya tidak mengenali pantulannya sendiri di cermin, jadi kebingungan si anjing di jembatan itu sangat masuk akal.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi lama berhenti pada tulang yang tenggelam; kami menambahkan kepulangan yang hangat — mangkuk makan dan keset kesayangan — supaya anak terlelap dengan rasa aman, bukan rasa kehilangan. Bahan obrolan: menjaga dan mensyukuri yang sudah kita punya.
Siapa yang serakah menginginkan milik orang lain bisa kehilangan miliknya sendiri.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.