

Halaman 1
Seorang petani dan istrinya memelihara seekor angsa putih di tepi desa. Hidup mereka sederhana. Setiap pagi, angsa itu berenang di kolam kecil di belakang rumah.

Halaman 2
Suatu pagi, petani menemukan sebutir telur di kandang. Telur itu berat dan berkilau keemasan. “Lihat ini!” serunya. “Telur ini... emas! Emas sungguhan!” Istrinya menutup mulut karena takjub.
Halaman 3
Sejak itu, setiap pagi angsa bertelur satu telur emas. Satu, hanya satu. Petani menjual telur-telur itu ke kota. Rumah mereka diperbaiki, lumbung terisi penuh. “Terima kasih, Angsa baik,” kata istrinya setiap hari.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Namun lama-kelamaan petani menjadi tidak sabar. “Satu telur sehari terlalu lambat,” gerutunya. “Di dalam perut angsa itu pasti ada tumpukan emas! Kalau kuambil semuanya sekaligus, kita langsung kaya raya!”
Halaman 5
“Jangan, Pak,” kata istrinya cemas. “Angsa kita sudah memberi kita banyak sekali.” Tetapi petani tidak mau mendengar. Ia berlari ke kandang dengan mata berbinar-binar. “Angsa! Berikan semua telurmu sekarang juga!”
Halaman 6
Petani mengejar angsa ke sana kemari, membalik jerami, mengguncang kandang. Angsa ketakutan. Ia mengepakkan sayapnya dan bersembunyi di sudut, gemetar. Malam itu, kandang terasa sunyi dan dingin.
Halaman 7
Keesokan paginya, tidak ada telur. Lusa, tidak ada juga. Angsa yang ketakutan berhenti bertelur sama sekali. Petani duduk lemas di depan kandang. “Apa yang sudah kulakukan...” bisiknya menyesal.
Halaman 8
Istrinya duduk di sampingnya. “Kita sudah punya cukup, Pak. Yang kurang bukan emasnya, tapi rasa syukur kita.” Petani mengangguk pelan. Ia memandang angsa yang masih meringkuk ketakutan di sudut kandang.
Halaman 9
Hari demi hari, petani merawat angsa dengan lembut. Ia membawakan rumput segar, membersihkan kolam, dan berbicara pelan-pelan. “Maafkan aku, Angsa. Kamu bukan mesin emas. Kamu keluarga kami.” Angsa pun kembali tenang.
Halaman 10
Pada suatu pagi yang cerah, di atas jerami terbaring lagi sebutir telur emas. Satu saja — dan itu lebih dari cukup. Malam ini angsa tidur nyaman di jeraminya yang hangat. Syukuri harimu yang cukup ini, dan tidurlah dengan hati yang tenang.
"Angsa bertelur emas" sampai sekarang dipakai dalam bahasa Indonesia untuk menyebut sumber rezeki yang mesti dijaga baik-baik — dan ungkapan itu lahir dari fabel Aesop ini. Tidak banyak dongeng yang moralnya begitu sering dikutip orang dewasa seperti kisah petani dan angsanya.
Alam sendiri memang bekerja seperti angsa itu: unggas sungguhan paling banyak bertelur sebutir sehari dan tidak bisa dipaksa lebih. Menunggu sesuatu tumbuh dengan sabar — telur menetas, benih berkecambah — adalah pengalaman yang bagus dicoba bersama anak.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Perlu jujur: dalam versi lama petani menyembelih angsanya dan kehilangan segalanya. Versi kami lebih lembut — angsa yang ketakutan berhenti bertelur, lalu kepercayaannya dipulihkan lewat perawatan dan permintaan maaf. Bahan obrolan: rasa cukup dan bersyukur; apa yang sudah "lebih dari cukup" di rumah kita?
Keserakahan membuat kita kehilangan hal baik yang sudah kita miliki; bersyukurlah atas yang cukup.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.