

Halaman 1
Pagi itu Ayah dan Ibu pergi ke pasar. "Tanya, jaga adikmu Vanya, ya. Jangan bermain jauh dari rumah," pesan Ibu. "Iya, Bu!" jawab Tanya. Tapi teman-temannya memanggil dari lapangan. Tanya mendudukkan Vanya di rumput, lalu berlari bermain.

Halaman 2
Ketika Tanya kembali... Vanya tidak ada! Di langit, serombongan angsa putih terbang menjauh. "Angsa-angsa ajaib!" seru Tanya. "Mereka suka membawa anak kecil ke rumah Baba Yaga, nenek penyihir tua itu!" Tanya pun berlari mengejar.
Halaman 3
Di jalan ada tungku roti berdiri sendirian. "Tungku, ke mana angsa terbang?" "Makan dulu roti gandumku, nanti kuberi tahu." "Aku sedang buru-buru!" jawab Tanya, lalu lari. Pohon apel dan sungai susu juga ia tanyai. Jawabannya sama.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Untunglah seekor landak kecil lewat. "Ikuti aku," katanya. Landak menggelinding di depan, menunjukkan jalan sampai ke rumah berkaki ayam milik Baba Yaga. Di halamannya, Vanya duduk bermain apel emas. Angsa-angsa tertidur di sekelilingnya.
Halaman 5
Tanya mengendap-endap. Pelan... pelan... Ia menggandeng tangan Vanya. "Ssst, ayo pulang." Mereka berlari! Tapi angsa-angsa terbangun. "Kwek! Kwek!" Angsa-angsa terbang mengejar dua bersaudara itu, sayapnya berkelepak keras di udara.
Halaman 6
"Sungai susu, tolong sembunyikan kami!" seru Tanya. "Cicipi dulu susuku." Kali ini Tanya mau. "Terima kasih, enak sekali!" Sungai pun menutupi mereka dengan tepiannya yang landai. Angsa-angsa lewat di atas tanpa melihat apa-apa.
Halaman 7
Angsa-angsa berputar kembali, mencari-cari. "Pohon apel, tolong kami!" "Makan dulu apel hutanku." Tanya dan Vanya memakannya — manis dan segar. Dahan-dahan pun menunduk, menyembunyikan mereka berdua. Angsa-angsa lewat lagi, lalu menjauh.
Halaman 8
Menjelang desa, angsa-angsa datang lagi, makin dekat! "Tungku, tolong sembunyikan kami!" "Makan dulu roti gandumku." "Mau! Rotimu pasti enak!" Mereka masuk ke tungku yang hangat. Angsa-angsa berputar bingung, lalu pulang dengan sayap kosong.
Halaman 9
Tanya dan Vanya berlari sampai rumah, tepat saat Ayah dan Ibu pulang dari pasar. Tanya memeluk Ibu erat-erat. "Bu, maafkan aku. Tadi aku lalai menjaga Vanya. Tapi aku sudah menjemputnya kembali." Ibu mengelus rambutnya. "Kamu berani sekali, Nak."
Halaman 10
Malam itu Vanya tidur lebih dulu, kenyang roti hangat. Tanya berbaring di sampingnya, menjaganya sampai matanya sendiri terasa berat. Langit di luar sudah kosong dan tenang. Kamu juga dijaga orang yang sayang padamu. Tidurlah dengan tenang.
"Angsa-Angsa Ajaib" (Gusi-lebedi) adalah dongeng rakyat Rusia dari kumpulan Alexander Afanasyev abad ke-19. Bagi banyak anak Rusia inilah perjumpaan pertama dengan Baba Yaga, dan strukturnya khas dongeng lisan: tiga penolong ditolak saat pergi, lalu dimintai tolong saat pulang.
Angsa dalam cerita ini angsa liar, tapi angsa jinak dekat dengan kita: di banyak kampung Indonesia angsa dipelihara sebagai penjaga halaman karena galak. Landak penunjuk jalan pun ada padanannya: landak mini yang populer sebagai peliharaan adalah kerabat landak kecil Eropa dalam dongeng ini, bukan landak berduri panjang dari hutan.
Cocok untuk usia 4–7 tahun. Aslinya sudah lembut dan versi kami mengikutinya hampir utuh; kami hanya memberi nama Tanya dan Vanya pada kakak beradik yang aslinya tak bernama, dan tidak menyebut nasib anak yang dibawa ke Baba Yaga. Bahan ngobrol: kenapa tungku, pohon apel, dan sungai baru menolong setelah Tanya mencicipi pemberian mereka? Menjaga adik itu mudah atau susah?
Tugas menjaga keluarga jangan dilupakan — dan yang mau menolong orang lain akan ditolong kembali.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.