

Halaman 1
Dahulu kala hiduplah seorang pengembara muda yang bijak bernama Aji Saka. Ia tinggal di negeri Majethi bersama dua abdinya yang setia, Dora dan Sembada, serta sebilah keris pusaka yang sangat ia jaga.

Halaman 2
Suatu hari sampailah kabar dari negeri Medang Kamulan. Rajanya, Prabu Dewata Cengkar, sangat rakus. Hampir semua makanan rakyat diambilnya, sehingga penduduk hidup lapar dan ketakutan setiap hari.
Halaman 3
Aji Saka memutuskan pergi menolong. Kepada Sembada ia berpesan, “Jagalah keris pusaka ini. Jangan serahkan kepada siapa pun, kecuali aku sendiri yang datang mengambilnya.” Lalu ia berangkat bersama Dora.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Di Medang Kamulan, Aji Saka menghadap sang raja. “Aku tidak takut padamu, Raja. Aku hanya minta tanah selebar ikat kepalaku.” Dewata Cengkar tertawa keras. “Selebar ikat kepala? Baiklah, ambil saja!”
Halaman 5
Aji Saka menggelar ikat kepalanya. Ajaib, kain itu melebar terus, menutupi sawah, lembah, dan bukit! Raja yang rakus terdorong mundur, mundur terus, sampai tercebur ke laut selatan. Ia berubah menjadi buaya putih dan berenang menjauh.
Halaman 6
Rakyat bersorak gembira. Aji Saka diangkat menjadi raja yang adil, dan lumbung-lumbung kembali penuh. Suatu hari ia teringat keris pusakanya. “Dora, tolong ambilkan kerisku dari Majethi,” katanya.
Halaman 7
Di Majethi, Sembada menggeleng. “Pesan tuan kita jelas: hanya beliau sendiri yang boleh mengambilnya.” Dora pun teguh. “Tapi aku juga diperintah beliau!” Jauh di Medang, Aji Saka tersadar, “Pesanku dulu dan perintahku kini bertentangan!”
Halaman 8
Aji Saka bergegas kembali ke Majethi. Di sana ia menemukan dua abdinya masih berjaga berhadapan, letih namun tetap setia memegang pesan. “Kalian berdua benar. Akulah yang keliru,” katanya sambil merangkul keduanya.
Halaman 9
Untuk mengenang kesetiaan mereka, Aji Saka menyusun dua puluh huruf: ha-na-ca-ra-ka. Huruf-huruf itu bercerita tentang dua utusan yang sama-sama kuat dan sama-sama setia memegang pesan, hingga akhir kisahnya.
Halaman 10
Huruf Jawa itu dipakai orang untuk menulis cerita indah sampai sekarang. Malam ini, bayangkan huruf-huruf itu berbaris rapi seperti anak-anak yang berbaring hendak tidur. Ikutlah berbaring, dan tidurlah nyenyak.
Legenda Aji Saka adalah cerita Jawa tentang lahirnya hanacaraka — dua puluh huruf Jawa. Setiap hurufnya menyimpan kisah: urutan ha-na-ca-ra-ka bila dibaca sebagai kalimat bercerita tentang dua utusan yang sama-sama teguh memegang pesan tuannya.
Aksara ini bukan barang museum: huruf Jawa sampai sekarang diajarkan di sekolah-sekolah di Jawa sebagai muatan lokal, dan di Yogyakarta papan nama jalan ditulis dua aksara — Latin dan Jawa. Kalau lewat sana, ajak anak mencari huruf-huruf "dari cerita" di papan jalan.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Perlu jujur: dalam versi aslinya dua abdi yang setia itu bertarung sampai keduanya gugur, dan justru itulah yang dikenang kalimat hanacaraka. Versi kami membiarkan Aji Saka tiba tepat waktu — kesetiaan mereka dikenang tanpa duka. Bahan ngobrol: keduanya benar, yang keliru adalah perintah yang bertentangan; dan pemimpin yang baik berani berkata "akulah yang salah". Itu pelajaran yang jarang ada di cerita anak.
Sampaikan pesan dengan jelas, dan hargailah orang yang setia memegang janjinya.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.