Google PlayApp Store
Sampul cerita Aji Saka dan Huruf Jawa

Aji Saka dan Huruf Jawa

10 halaman3 menit 14 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Dahulu kala hiduplah seorang pengembara muda yang bijak bernama Aji Saka. Ia tinggal di negeri Majethi bersama dua abdinya yang setia, Dora dan Sembada, serta sebilah keris pusaka yang sangat ia jaga.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Suatu hari sampailah kabar dari negeri Medang Kamulan. Rajanya, Prabu Dewata Cengkar, sangat rakus. Hampir semua makanan rakyat diambilnya, sehingga penduduk hidup lapar dan ketakutan setiap hari.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Aji Saka memutuskan pergi menolong. Kepada Sembada ia berpesan, “Jagalah keris pusaka ini. Jangan serahkan kepada siapa pun, kecuali aku sendiri yang datang mengambilnya.” Lalu ia berangkat bersama Dora.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Di Medang Kamulan, Aji Saka menghadap sang raja. “Aku tidak takut padamu, Raja. Aku hanya minta tanah selebar ikat kepalaku.” Dewata Cengkar tertawa keras. “Selebar ikat kepala? Baiklah, ambil saja!”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Aji Saka menggelar ikat kepalanya. Ajaib, kain itu melebar terus, menutupi sawah, lembah, dan bukit! Raja yang rakus terdorong mundur, mundur terus, sampai tercebur ke laut selatan. Ia berubah menjadi buaya putih dan berenang menjauh.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Rakyat bersorak gembira. Aji Saka diangkat menjadi raja yang adil, dan lumbung-lumbung kembali penuh. Suatu hari ia teringat keris pusakanya. “Dora, tolong ambilkan kerisku dari Majethi,” katanya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Di Majethi, Sembada menggeleng. “Pesan tuan kita jelas: hanya beliau sendiri yang boleh mengambilnya.” Dora pun teguh. “Tapi aku juga diperintah beliau!” Jauh di Medang, Aji Saka tersadar, “Pesanku dulu dan perintahku kini bertentangan!”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Aji Saka bergegas kembali ke Majethi. Di sana ia menemukan dua abdinya masih berjaga berhadapan, letih namun tetap setia memegang pesan. “Kalian berdua benar. Akulah yang keliru,” katanya sambil merangkul keduanya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Untuk mengenang kesetiaan mereka, Aji Saka menyusun dua puluh huruf: ha-na-ca-ra-ka. Huruf-huruf itu bercerita tentang dua utusan yang sama-sama kuat dan sama-sama setia memegang pesan, hingga akhir kisahnya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Huruf Jawa itu dipakai orang untuk menulis cerita indah sampai sekarang. Malam ini, bayangkan huruf-huruf itu berbaris rapi seperti anak-anak yang berbaring hendak tidur. Ikutlah berbaring, dan tidurlah nyenyak.

Tentang cerita ini

Legenda Aji Saka adalah cerita Jawa tentang lahirnya hanacaraka — dua puluh huruf Jawa. Setiap hurufnya menyimpan kisah: urutan ha-na-ca-ra-ka bila dibaca sebagai kalimat bercerita tentang dua utusan yang sama-sama teguh memegang pesan tuannya.

Aksara ini bukan barang museum: huruf Jawa sampai sekarang diajarkan di sekolah-sekolah di Jawa sebagai muatan lokal, dan di Yogyakarta papan nama jalan ditulis dua aksara — Latin dan Jawa. Kalau lewat sana, ajak anak mencari huruf-huruf "dari cerita" di papan jalan.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Perlu jujur: dalam versi aslinya dua abdi yang setia itu bertarung sampai keduanya gugur, dan justru itulah yang dikenang kalimat hanacaraka. Versi kami membiarkan Aji Saka tiba tepat waktu — kesetiaan mereka dikenang tanpa duka. Bahan ngobrol: keduanya benar, yang keliru adalah perintah yang bertentangan; dan pemimpin yang baik berani berkata "akulah yang salah". Itu pelajaran yang jarang ada di cerita anak.

Untuk orang tua

Pesan moral

Sampaikan pesan dengan jelas, dan hargailah orang yang setia memegang janjinya.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Bagaimana cara Aji Saka mengalahkan raja yang rakus tanpa berkelahi?
  2. Mengapa Dora dan Sembada berselisih, padahal keduanya setia?
  3. Apa yang dibuat Aji Saka untuk mengenang kedua abdinya?
  4. Mengapa pesan yang jelas itu penting? Pernahkah pesanmu disalahpahami orang?

Untuk kelas

pengembaraabdipusakarakuslumbungteguh

Cerita lain: Jawa

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.