Google PlayApp Store
Sampul cerita Ular Dandaung

Ular Dandaung

10 halaman3 menit 29 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Dahulu, di tanah Banjar, ada kerajaan yang damai dan berkecukupan. Rajanya adil, dan ketujuh putrinya tinggal di istana. Enam putri yang tua suka berdandan dan bermanja-manja, sedangkan si bungsu rajin dan ramah kepada siapa saja.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Suatu hari datang burung raksasa membawa angin ribut. Ladang-ladang rusak dan rakyat ketakutan. Prajurit dan rakyat bahu-membahu memukul gong dan menyalakan obor berhari-hari, sampai burung itu kelelahan dan terbang pergi jauh.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Negeri itu menjadi lemah dan kering. Lalu, suatu pagi, seekor ular raksasa merayap ke halaman istana. Sisiknya kusam, tetapi suaranya dalam dan tenang. “Namaku Ular Dandaung. Aku dapat memulihkan negeri ini, tetapi ada syaratnya.”

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

“Syaratnya, salah satu putri raja bersedia menjadi istriku dan tinggal di puncak gunung.” Enam putri menjerit, “Ihh, menikah dengan ular? Tidak sudi!” Si bungsu memandang mata ular itu, teduh dan tidak jahat. “Aku bersedia, demi rakyat.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Putri Bungsu naik ke punggung Ular Dandaung, dan mereka mendaki ke puncak gunung. Di sana ada gua yang bersih dan kebun kecil. Ular itu ternyata lembut: ia membawakan buah-buahan, menemani berkebun, dan pandai sekali bercerita.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Pada suatu malam, Putri Bungsu terbangun oleh cahaya keemasan. Di sudut gua, kulit ular tergeletak kosong, dan berdirilah seorang pemuda gagah. “Akulah Dandaung,” katanya. “Aku dikutuk oleh pamanku yang iri, penyihir yang jahat itu.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

“Kutukan itu luntur karena engkau mau melihat kebaikan di balik kulitku yang buruk.” Mereka membakar kulit ular itu hingga habis, dan bersamaan dengan itu, sihir sang paman pun lenyap. Penyihir itu kabur jauh dan tak pernah kembali.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Keduanya pulang ke istana. Hujan turun membasahi ladang, sawah menghijau, dan negeri pulih seperti sedia kala. Keenam kakak menunduk malu. “Maafkan kami, adikku.” Putri Bungsu memeluk mereka. “Yang penting kita bersama lagi.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Ketika raja sudah tua, Dandaung dipilih menggantikannya, dan Putri Bungsu menjadi permaisuri yang dicintai rakyat. “Jangan menilai siapa pun dari kulitnya,” begitu pesan Raja Dandaung selalu, “sebab hati tidak terlihat oleh mata.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Malam ini, angin gunung bertiup sejuk dan seluruh negeri tidur dengan tenteram. Di kamarmu yang hangat, selimutmu selembut angin gunung. Berat sudah kelopak matamu. Turunkan pelan-pelan, dan bermimpilah yang indah malam ini.

Tentang cerita ini

Dongeng ini berasal dari tanah Banjar, Kalimantan Selatan. Ia sekeluarga dengan kisah "pengantin ular" yang dikenal di banyak negeri — kerabat jauh "Beauty and the Beast": makhluk yang tampak menakutkan ternyata terkena kutukan, dan kebaikan hatilah yang melepaskannya.

Jangkar ceritanya ada pada suara gong: warga mengusir burung raksasa dengan memukul gong beramai-ramai, dan gong memang alat musik yang hidup dalam adat Banjar hingga kini — dipukul pada upacara dan pesta. Ajak anak mendengarkan bunyinya; suara dalam dan bergema itu mudah dikenali.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Adaptasi kami menjaga semuanya tetap terang: ular berbicara tenang sejak awal, tidak ada yang dimangsa, dan keenam kakak dimaafkan. Bahan ngobrol: Putri Bungsu berani bukan karena tidak takut, melainkan karena memikirkan rakyatnya; dan pesan Raja Dandaung — jangan menilai siapa pun dari kulitnya, sebab hati tidak terlihat oleh mata.

Untuk orang tua

Pesan moral

Jangan menilai seseorang dari rupanya; hati yang tulus mampu melihat kebaikan di balik kulit yang buruk.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Mengapa putri bungsu bersedia menerima syarat Ular Dandaung?
  2. Seperti apa Ular Dandaung setelah tinggal bersama putri di gunung?
  3. Bagaimana kutukan sang paman akhirnya luntur?
  4. Apa pesan Raja Dandaung kepada rakyatnya?
  5. Pernahkah kamu keliru menilai seseorang dari penampilannya? Lalu apa yang terjadi?

Untuk kelas

kusamsyaratbahudikutuklunturpermaisuri

Cerita lain: Kalimantan

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.