

Halaman 1
Cerita ini datang dari Australia, negeri para kanguru. Dahulu kala, hiduplah katak raksasa bernama Tiddalik. Badannya besar. Perutnya lebih besar lagi. Dan pagi itu, Tiddalik bangun dengan rasa haus yang luar biasa.

Halaman 2
Tiddalik melompat ke kolam. Glek, glek, glek! Ia minum sampai kolamnya kering. Masih haus. Ia minum air sungai sampai habis. Masih haus juga! Ia minum air danau, air rawa, air genangan. Glek, glek! Akhirnya tidak ada air tersisa di mana-mana.
Halaman 3
Tiddalik duduk dengan perut bulat seperti gunung kecil. Ia tersenyum puas. Tapi hewan-hewan lain mulai bingung. «Airnya ke mana?» tanya kanguru. Wombat menunjuk Tiddalik. «Itu... semuanya ada di dalam perut katak itu!»
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Bunga-bunga mulai layu. Sungai berubah menjadi jalan berdebu. Wombat cepat-cepat memindahkan ikan ke genangan terakhir. Hewan-hewan berkumpul di bawah pohon. «Kita harus membuat Tiddalik mengeluarkan airnya. Tapi bagaimana?»
Halaman 5
Koala punya ide. «Kalau Tiddalik tertawa, airnya pasti tumpah keluar! Ayo buat dia tertawa.» Semua setuju. Kanguru maju pertama. Ia melompat-lompat sambil jungkir balik. Tiddalik hanya menatap. Wajahnya datar seperti batu.
Halaman 6
Wombat menari dengan kaki pendeknya, berputar-putar sampai pusing dan jatuh terguling. Kookaburra menyanyikan lagu paling lucunya. Emu berlari zig-zag dengan leher bergoyang-goyang. Tiddalik tetap diam. «Hmm,» katanya. Hanya itu.
Halaman 7
Ketika semua hampir menyerah, datanglah Belut kecil dari lumpur. «Aku belum mencoba,» katanya. Ia berdiri di atas ekornya, lalu menari meliuk-liuk. Ia memutar tubuhnya seperti tali. Lalu... ia mengikat dirinya sendiri menjadi simpul!
Halaman 8
Sudut mulut Tiddalik bergerak. Pipinya bergetar. «Hi... hihi... hahaha!» Tiddalik tertawa terbahak-bahak! Bersama tawanya — byuur! — air mengalir keluar dari mulutnya seperti air terjun. Sungai terisi. Danau terisi. Kolam-kolam penuh kembali.
Halaman 9
Hewan-hewan bersorak sambil bermain air. Ikan-ikan berenang pulang. Bunga-bunga tegak lagi. Tiddalik tersipu-sipu malu. «Maafkan aku, teman-teman. Mulai sekarang aku minum secukupnya saja.» Belut kecil mengangguk sambil melepas simpulnya.
Halaman 10
Sejak itu, Tiddalik minum sedikit demi sedikit, dan air pun cukup untuk semua. Malam ini ia duduk di tepi kolam, kenyang dan mengantuk. Air mengalir pelan, gemericik: tik... tik... Dengarkan sebentar... lalu tidurlah, seperti Tiddalik.
Tiddalik adalah salah satu cerita masyarakat Aborigin Australia yang paling dikenal anak-anak; ia paling sering dikaitkan dengan orang Gunai (Kurnai) di Victoria, tenggara Australia. Cerita ini termasuk kisah "zaman mimpi" yang menjelaskan kemarau dan banjir, dan banyak dibuat versi buku bergambarnya.
Katak penimbun air memang ada: di pedalaman Australia hidup katak yang mengisi tubuhnya dengan air lalu bersembunyi di dalam tanah selama kemarau, dan orang Aborigin dulu menggalinya untuk minum. Kanguru, wombat, koala, kookaburra, emu — semuanya hewan asli Australia. Belut yang menari bisa dicari lebih dekat: belut sawah di Indonesia sama licin dan lenturnya.
Cocok untuk usia 3–6 tahun. Dalam sebagian versi, air yang tumpah menjadi banjir besar yang menenggelamkan banyak hewan; versi kami menghentikannya pada sungai yang terisi dan Tiddalik yang minta maaf. Bahan ngobrol: berapa yang cukup? Coba hitung bersama gelas air di meja makan — kalau semua kebagian, sisanya boleh untuk siapa?
Ambil secukupnya saja — supaya semua orang kebagian.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.