Google PlayApp Store
Sampul cerita Telaga Warna

Telaga Warna

10 halaman2 menit 53 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Dahulu di pegunungan Jawa Barat ada kerajaan bernama Kutatanggeuhan. Rajanya baik, ratunya lembut, rakyatnya hidup makmur. Hanya satu yang belum mereka miliki: seorang anak yang sudah lama dinanti.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Bertahun-tahun kemudian lahirlah seorang putri. Ia diberi nama Gilang Rukmini. Seluruh negeri bergembira. Namun karena semua keinginannya selalu dituruti, sang putri tumbuh menjadi anak yang manja.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Menjelang ulang tahun putri, rakyat mengumpulkan butiran emas dan permata terbaik mereka. Seorang empu tua merangkainya menjadi kalung yang indah, berkilau hijau, biru, merah, dan kuning keemasan.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Pada hari pesta, raja menyerahkan kalung itu. “Ini hadiah dari seluruh rakyatmu, Nak. Setiap butirnya diberikan dengan tulus.” Alun-alun hening. Semua menunggu sang putri memakai kalung itu.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Putri memandang kalung itu sekilas lalu mengerutkan dahi. “Warnanya campur aduk. Aku tidak suka!” Ia menepis kalung itu hingga jatuh, dan butir-butir permatanya berhamburan ke tanah.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Semua terdiam. Ratu meneteskan air mata, rakyat menunduk sedih. Baru saat itu putri melihat wajah mereka satu per satu, dan dadanya terasa sesak. Dari tanah tempat permata jatuh, muncul mata air.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Air yang jernih mengalir lembut mengisi lembah di bawah istana. Di dasarnya, butir-butir permata berkilau, membuat air tampak berwarna-warni: hijau, biru, dan keemasan seperti kalung itu.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Putri berlari ke tepi air, memungut sebutir permata, lalu menangis. “Maafkan aku,” katanya kepada rakyatnya. “Aku sudah menyia-nyiakan ketulusan kalian.” Raja memeluknya erat-erat.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Rakyat memaafkan putri mereka, dan sejak hari itu ia menjadi lembut dan pandai bersyukur. Telaga berwarna-warni itu masih ada di Puncak sampai kini, dan orang menyebutnya Telaga Warna.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Sore hari, warna-warna telaga meredup tenang dan kabut turun perlahan. Sebelum tidur, sebutkan dalam hati satu hal yang kamu syukuri hari ini. Lalu pejamkan matamu, dan tidurlah dengan nyenyak.

Tentang cerita ini

Legenda ini berasal dari Jawa Barat dan menjelaskan asal-usul Telaga Warna: kalung permata hadiah rakyat yang berhamburan menjadi warna-warni di dasar air. Kerajaan Kutatanggeuhan dalam cerita ini adalah kerajaan dongeng, tetapi telaganya sungguh ada.

Telaga Warna terletak di kawasan Puncak, Bogor, di tengah cagar alam yang teduh, dikelilingi kebun-kebun teh. Warna airnya memang bisa tampak berubah-ubah — kehijauan, kebiruan — tergantung cahaya. Kalau sekeluarga lewat jalur Puncak, telaga kecil dari cerita malam ini bisa dikunjungi sungguhan.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi lama, kerajaan itu tenggelam bersama seluruh isinya; versi kami memberi sang putri kesempatan meminta maaf dan berubah. Bahan ngobrol: menerima hadiah dengan hormat — bukan karena barangnya, melainkan karena ketulusan yang menyertainya. Akhir cerita mengajak anak menyebut satu hal yang ia syukuri hari ini; kebiasaan kecil ini enak dijadikan ritual sebelum tidur.

Untuk orang tua

Pesan moral

Hargailah setiap pemberian, karena di dalamnya ada ketulusan orang yang menyayangi kita.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Hadiah apa yang diberikan rakyat kepada sang putri?
  2. Apa yang dilakukan putri terhadap kalung itu, dan apa akibatnya?
  3. Bagaimana cara putri memperbaiki kesalahannya?
  4. Apa hadiah paling berkesan yang pernah kamu terima, dan siapa yang memberikannya?

Untuk kelas

kalungpermataempumanjalembahbersyukur

Cerita lain: Jawa

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.