

Halaman 1
Dahulu di dekat Garut, Jawa Barat, tinggallah seorang janda kaya bernama Nyai Endit. Lumbung padinya penuh, peti emasnya berderet. Namun ia terkenal sangat kikir kepada siapa pun di desanya.

Halaman 2
Kalau ada tetangga meminjam beras, Nyai Endit menagihnya kembali berlipat-lipat. Sementara banyak orang kekurangan, ia berpesta sendirian di rumahnya yang besar, dikelilingi makanan yang lezat.
Halaman 3
Suatu hari Nyai Endit mengadakan pesta panen. Orang-orang miskin berdiri di depan pintunya berharap sisa makanan. “Usir mereka!” perintah Nyai Endit. “Pestaku bukan untuk orang berbaju lusuh!”
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Datanglah seorang kakek berbaju usang dengan tongkat kayu. “Nyai, bolehkah aku minta segenggam beras saja?” Nyai Endit tertawa mengejek. “Segenggam pun tidak! Pergi dari halaman rumahku!”
Halaman 5
Kakek itu tidak marah. Ia berkata tenang, “Harta yang tidak pernah dibagi, suatu hari akan hanyut.” Lalu ia menancapkan tongkatnya ke tanah. “Cabutlah, kalau bisa.” Para penjaga mencoba, semuanya gagal.
Halaman 6
Nyai Endit ikut menarik sekuat tenaga sampai terduduk. Tongkat itu tak bergeser sedikit pun. Kakek itu mencabutnya dengan ringan sekali tarik, dan dari lubangnya menyembur air yang jernih dan deras.
Halaman 7
Air naik dengan cepat. Orang-orang berlarian ke bukit. Nyai Endit malah kembali ke rumah, mendorong peti-peti emasnya. Peti itu terlalu berat, sedangkan air sudah setinggi lututnya.
Halaman 8
Dari atas rakit bambu, orang-orang yang dulu ia usir berseru, “Tinggalkan petimu, Nyai! Naiklah ke sini!” Nyai Endit melepaskan petinya dan meraih tangan mereka. Ia menangis. “Terima kasih... maafkan aku.”
Halaman 9
Dari bukit mereka melihat danau luas berkilau di tempat desa itu. Danau itu dinamai Situ Bagendit. Nyai Endit membagikan hartanya yang tersisa dan menjadi dermawan sampai akhir hayatnya.
Halaman 10
Kini Situ Bagendit tenang dan indah, rakit-rakit bambu mengapung pelan di airnya. Bayangkan rakit itu berayun lembut... berayun... pelan sekali. Seperti itulah rasanya jatuh tertidur. Selamat tidur.
Legenda Nyai Endit tumbuh di dekat Garut, Jawa Barat, untuk menjelaskan asal-usul Situ Bagendit. Ini salah satu cerita "peringatan tentang kikir" yang paling terkenal di Tanah Sunda: harta yang tidak pernah dibagi akhirnya hanyut, dan yang tersisa adalah danau.
Danaunya nyata dan mudah dikunjungi: Situ Bagendit ada di Kabupaten Garut, dan sejak dulu terkenal dengan rakit-rakit bambunya — pengunjung bisa naik rakit pelan-pelan menyusuri airnya. Rakit bambu di akhir cerita kami bukan hiasan: itulah pemandangan sehari-hari di danau ini.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi lama Nyai Endit tenggelam bersama peti-peti emasnya; dalam versi kami ia melepaskan hartanya, diselamatkan orang-orang yang dulu ia usir, dan berubah menjadi dermawan. Bahan ngobrol yang bagus: melepaskan peti demi meraih tangan orang lain — kadang kita harus memilih antara barang dan manusia. Tanyakan pada anak: apa yang paling sulit dibagi, dan bagaimana rasanya sesudah berbagi?
Harta menjadi berkah ketika dibagikan; kikir hanya membuat kita sendirian.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.