Google PlayApp Store
Sampul cerita Situ Bagendit

Situ Bagendit

10 halaman2 menit 58 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Dahulu di dekat Garut, Jawa Barat, tinggallah seorang janda kaya bernama Nyai Endit. Lumbung padinya penuh, peti emasnya berderet. Namun ia terkenal sangat kikir kepada siapa pun di desanya.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Kalau ada tetangga meminjam beras, Nyai Endit menagihnya kembali berlipat-lipat. Sementara banyak orang kekurangan, ia berpesta sendirian di rumahnya yang besar, dikelilingi makanan yang lezat.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Suatu hari Nyai Endit mengadakan pesta panen. Orang-orang miskin berdiri di depan pintunya berharap sisa makanan. “Usir mereka!” perintah Nyai Endit. “Pestaku bukan untuk orang berbaju lusuh!”

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Datanglah seorang kakek berbaju usang dengan tongkat kayu. “Nyai, bolehkah aku minta segenggam beras saja?” Nyai Endit tertawa mengejek. “Segenggam pun tidak! Pergi dari halaman rumahku!”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Kakek itu tidak marah. Ia berkata tenang, “Harta yang tidak pernah dibagi, suatu hari akan hanyut.” Lalu ia menancapkan tongkatnya ke tanah. “Cabutlah, kalau bisa.” Para penjaga mencoba, semuanya gagal.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Nyai Endit ikut menarik sekuat tenaga sampai terduduk. Tongkat itu tak bergeser sedikit pun. Kakek itu mencabutnya dengan ringan sekali tarik, dan dari lubangnya menyembur air yang jernih dan deras.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Air naik dengan cepat. Orang-orang berlarian ke bukit. Nyai Endit malah kembali ke rumah, mendorong peti-peti emasnya. Peti itu terlalu berat, sedangkan air sudah setinggi lututnya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Dari atas rakit bambu, orang-orang yang dulu ia usir berseru, “Tinggalkan petimu, Nyai! Naiklah ke sini!” Nyai Endit melepaskan petinya dan meraih tangan mereka. Ia menangis. “Terima kasih... maafkan aku.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Dari bukit mereka melihat danau luas berkilau di tempat desa itu. Danau itu dinamai Situ Bagendit. Nyai Endit membagikan hartanya yang tersisa dan menjadi dermawan sampai akhir hayatnya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Kini Situ Bagendit tenang dan indah, rakit-rakit bambu mengapung pelan di airnya. Bayangkan rakit itu berayun lembut... berayun... pelan sekali. Seperti itulah rasanya jatuh tertidur. Selamat tidur.

Tentang cerita ini

Legenda Nyai Endit tumbuh di dekat Garut, Jawa Barat, untuk menjelaskan asal-usul Situ Bagendit. Ini salah satu cerita "peringatan tentang kikir" yang paling terkenal di Tanah Sunda: harta yang tidak pernah dibagi akhirnya hanyut, dan yang tersisa adalah danau.

Danaunya nyata dan mudah dikunjungi: Situ Bagendit ada di Kabupaten Garut, dan sejak dulu terkenal dengan rakit-rakit bambunya — pengunjung bisa naik rakit pelan-pelan menyusuri airnya. Rakit bambu di akhir cerita kami bukan hiasan: itulah pemandangan sehari-hari di danau ini.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi lama Nyai Endit tenggelam bersama peti-peti emasnya; dalam versi kami ia melepaskan hartanya, diselamatkan orang-orang yang dulu ia usir, dan berubah menjadi dermawan. Bahan ngobrol yang bagus: melepaskan peti demi meraih tangan orang lain — kadang kita harus memilih antara barang dan manusia. Tanyakan pada anak: apa yang paling sulit dibagi, dan bagaimana rasanya sesudah berbagi?

Untuk orang tua

Pesan moral

Harta menjadi berkah ketika dibagikan; kikir hanya membuat kita sendirian.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Mengapa penduduk desa tidak menyukai Nyai Endit?
  2. Apa yang diminta kakek tua itu, dan bagaimana jawaban Nyai Endit?
  3. Siapa yang menolong Nyai Endit ketika air naik?
  4. Apa yang berubah pada diri Nyai Endit setelah kejadian itu?

Untuk kelas

kikirlumbungrakitpetidermawanlusuh

Cerita lain: Jawa

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.