

Halaman 1
Di sebuah kota kecil, hiduplah penjahit bertubuh mungil. Suatu pagi ia membeli selai buah dan mengolesnya di roti. Bau manisnya memenuhi ruangan. Tujuh ekor lalat datang mengerumuni rotinya, dengung, dengung.

Halaman 2
Penjahit itu mengibaskan kainnya sekali, plak! Ketujuh lalat terperangkap di bawah kain, tak satu pun lolos. "Tujuh sekali pukul!" serunya bangga, lalu melepas mereka lewat jendela. Kata-kata itu ia sulam besar-besar di ikat pinggangnya.
Halaman 3
Ia memasukkan sepotong keju dan seekor burung kecil ke dalam sakunya, lalu berangkat melihat dunia. Di puncak bukit, ia bertemu raksasa. "Halo, Kawan!" sapa penjahit. Raksasa membaca ikat pinggangnya dan mengerutkan kening.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
"Kalau kau kuat, remaslah batu ini!" kata raksasa sambil memeras batu sampai berdebu. Penjahit mengeluarkan keju dari sakunya dan memerasnya. Air keju menetes ke tanah. "Lihat, batuku sampai berair," katanya santai.
Halaman 5
Raksasa melempar batu tinggi-tinggi, sampai lama sekali jatuhnya. "Lemparanmu bagus, tapi batunya kembali," kata penjahit. Ia melepaskan burung kecil dari sakunya. Burung itu terbang jauh dan tidak pernah turun. Raksasa menganga takjub.
Halaman 6
Kabar tentang penjahit sampai ke istana. Raja memanggilnya. "Di hutan utara ada dua raksasa yang mengganggu pedagang," kata raja. "Kalau kau bisa membuat mereka pergi, kau kuangkat jadi penjahit istana." "Serahkan padaku," jawab penjahit.
Halaman 7
Di hutan, kedua raksasa sedang tidur mendengkur di bawah pohon. Penjahit memanjat dengan sekantong batu kerikil. Tok! Satu kerikil jatuh di hidung raksasa pertama. "Kenapa kau menggangguku?" bentaknya pada temannya. "Aku tidak melakukan apa-apa!"
Halaman 8
Tok, tok! Kerikil jatuh lagi, kali ini di dahi raksasa kedua. Mereka bangkit dan saling menyalahkan sambil berteriak-teriak. Akhirnya keduanya ngambek. "Aku pergi!" "Aku juga!" Mereka berjalan ke arah berlawanan, meninggalkan hutan itu.
Halaman 9
Penjahit kecil pulang ke istana. "Hutan utara sudah aman, Baginda," lapornya. "Bagaimana caramu?" tanya raja heran. "Dengan kepala, bukan dengan tangan," jawabnya. Raja pun memberinya bengkel jahit sendiri di halaman istana.
Halaman 10
Sejak itu ia tinggal di istana dan tetap menjahit setiap hari. Ikat pinggangnya masih ia pakai, walau semua orang kini tahu ceritanya. Malam ini jarum dan benang sudah beristirahat. Rebahkan kepalamu, dan tidurlah seberani penjahit kecil itu.
Si Penjahit Kecil yang Berani adalah dongeng jenaka Jerman dari kumpulan Grimm, keluarga besar cerita si kecil cerdik melawan yang besar — sepupu jauh Kancil di Nusantara. Senjatanya bukan pedang, melainkan kata-kata: "Tujuh Sekali Pukul" yang disulam di ikat pinggang.
Yang lucu, tulisan itu benar — tujuh lalat memang kena sekali kibas — tapi semua orang membacanya sebagai tujuh raksasa. Ajak anak bermain kalimat bermakna ganda, atau tunjukkan meja tukang jahit di pasar: kain, kapur jahit, dan meteran — dari meja seperti itulah pahlawan mungil ini berangkat melihat dunia.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dongeng aslinya lebih panjang dan ujiannya lebih keras; di versi kami ketujuh lalat dilepas hidup-hidup lewat jendela dan para raksasa pergi sendiri karena bertengkar. Bahan ngobrol: menang "dengan kepala, bukan dengan tangan" — kapan akal menyelesaikan masalah lebih baik daripada otot?
Tubuh kecil bukan halangan; akal dan keberanian bisa mengalahkan tantangan yang besar.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.