

Halaman 1
Ada seorang putri raja. Ia punya bola emas kecil. Setiap sore ia bermain di tepi kolam hutan. Bola itu dilempar tinggi-tinggi, lalu ditangkap lagi. Sore itu, tangannya meleset. Byur! Bola emas jatuh ke dalam kolam.

Halaman 2
Putri menangis di tepi air. Kolam itu dalam sekali. "Mengapa kau menangis?" tanya suara serak. Seekor katak muncul di atas daun. "Bola emasku hilang," isak putri. "Aku bisa mengambilnya," kata katak, "asal kau mau berteman denganku."
Halaman 3
"Aku ingin makan sepiring denganmu dan diberi bantal kecil di kamarmu," kata katak. "Baik, baik!" jawab putri cepat. Ia hanya ingin bolanya kembali. Katak menyelam, plung! Sebentar kemudian ia muncul membawa bola emas itu.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Putri menyambar bolanya dan berlari pulang. "Tunggu aku!" seru katak. Tapi kaki kecilnya terlalu lambat. "Ah, dia hanya katak," pikir putri. "Mana mungkin katak makan di meja istana?" Ia pun melupakan janjinya begitu saja.
Halaman 5
Malamnya, saat semua sedang makan malam, terdengar bunyi di pintu. Plok, plok, plok. "Putri raja, bukalah pintu! Ingat janjimu di tepi kolam," seru suara serak. Wajah putri memucat. Raja menatapnya. "Janji apa itu, Nak?"
Halaman 6
Putri menceritakan semuanya. Raja berkata tegas, "Janji tetap janji, meskipun kepada seekor katak. Bukalah pintunya." Dengan berat hati, putri membuka pintu. Katak melompat masuk, plok, plok, lalu duduk di sisi piringnya.
Halaman 7
"Dorong piringmu lebih dekat," pinta katak. Putri menuruti, walau hidungnya berkerut. Mereka makan bersama. Katak bercerita tentang kolam, tentang capung dan bunga teratai. Pelan-pelan, putri mulai tertawa mendengar ceritanya.
Halaman 8
Waktu tidur tiba. "Kau berjanji memberiku bantal kecil," kata katak. Putri menghela napas, lalu meletakkan katak di bantal sudut. "Selamat malam, Katak," katanya, kali ini dengan lembut. Ia sendiri tak tahu, ucapan itu mematahkan sebuah sihir.
Halaman 9
Pagi harinya, putri terbangun. Di sudut kamar berdiri seorang pangeran muda! "Dulu aku disihir seorang peri tua," katanya. "Hanya kata baik yang tulus bisa membebaskanku. Terima kasih sudah menepati janjimu." Putri terperangah, lalu tersenyum.
Halaman 10
Sejak itu mereka bersahabat, dan bola emas sering dilempar berdua di tepi kolam. Malam ini, kolam hutan tenang. Katak-katak kecil bernyanyi, kung, kung, kung. Tutup matamu dan dengarkan lagu mereka sampai kamu terlelap.
Raja Katak punya tempat istimewa: inilah dongeng nomor satu, pembuka kumpulan dongeng Grimm. Ia mewakili keluarga cerita Eropa tentang pangeran yang disihir menjadi hewan dan dibebaskan oleh ketulusan hati.
Katak adalah teman malam yang akrab di Indonesia: sesudah hujan, suaranya terdengar dari selokan, kolam, dan sawah. Ajak anak memasang telinga sebelum tidur — dongeng ini pun ditutup nyanyian katak di kolam hutan, kung, kung, kung. Hewan kecil pemakan nyamuk ini patut disayangi, bukan dijauhi.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Di buku tua sihirnya patah dengan cara mengejutkan — sang putri melempar katak ke dinding; versi populer memakai ciuman. Versi kami memilih ucapan lembut yang tulus. Bahan ngobrol: janji tetap janji walau diberikan kepada seekor katak — dan berteman jadi mudah begitu kita mau mendengarkan cerita orang lain.
Janji sekecil apa pun harus ditepati, dan kata-kata yang baik bisa mengubah segalanya.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.