

Halaman 1
Di pesisir timur Sumatra, ada kota bernama Dumai. Dahulu, di sana berdiri kerajaan Seri Bunga Tanjung yang dipimpin seorang ratu bijaksana bernama Cik Sima. Sang ratu punya tujuh putri yang sangat rukun.

Halaman 2
Ketujuh putri itu suka mandi di lubuk yang jernih di tepi hutan. "Airnya sejuk sekali!" seru mereka riang. Yang bungsu bernama Mayang Mengurai, terkenal paling lembut hatinya. Rambutnya panjang berkilau, dan senyumnya manis seperti madu hutan.
Halaman 3
Suatu hari, seorang pangeran dari negeri jauh lewat di tepi lubuk bernama Umai. Ia melihat para putri bermain air. "Cantik sekali gadis yang mandi di Umai itu!" serunya kagum. Kata-kata "di Umai" itu terus diingat orang: d'Umai, d'Umai.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Pangeran itu ingin segera menikahi si bungsu. Namun Ratu Cik Sima menjawab dengan lembut, "Menurut adat kami, kakak-kakaknya harus menikah lebih dulu. Bersabarlah." Sang pangeran tidak mau bersabar. Ia marah.
Halaman 5
Pangeran membawa pasukannya untuk memaksa. Ratu Cik Sima segera membawa ketujuh putrinya ke tengah hutan. Ia membuatkan tempat berlindung yang tersembunyi, dijaga pepohonan besar yang rimbun dan teduh.
Halaman 6
"Tunggulah di sini, anak-anakku. Hutan ini akan menjaga kalian," pesan sang ratu. Lalu ia kembali untuk menjaga negerinya. Ratu Cik Sima berdiri teguh, hingga akhirnya pasukan pangeran itu menyerah dan pulang.
Halaman 7
Ketika ratu kembali ke hutan, tempat itu sunyi dan damai. Konon, hutan sangat menyayangi ketujuh putri sehingga memeluk mereka menjadi bagian dirinya. Di sana kini berdiri tujuh bukit kecil yang berjajar rukun.
Halaman 8
Ratu Cik Sima sering duduk memandang tujuh bukit itu. Angin membawa harum bunga dari sana, seperti sapaan lembut putri-putrinya. Hatinya sedih, tetapi juga tenang, karena putri-putrinya damai bersama-sama.
Halaman 9
Negeri itu tumbuh menjadi kota pelabuhan yang ramai. Orang-orang menamainya Dumai, dari kata "d'Umai" sang pangeran dulu. Nama itu menyimpan kenangan tentang tujuh putri yang rukun dan ratu yang teguh.
Halaman 10
Malam turun di kota Dumai. Tujuh bukit tertidur berjajar di bawah bintang-bintang, saling menjaga seperti kakak dan adik. Kamu juga dijaga oleh orang-orang yang menyayangimu. Selamat tidur, mimpi indah.
Ini legenda asal nama kota Dumai di pesisir timur Riau: dari seruan kagum sang pangeran "d'Umai" — di lubuk Umai — yang terus diulang orang sampai menjadi nama negeri. Di baliknya ada kisah kerajaan Seri Bunga Tanjung dan ratunya yang teguh, Cik Sima.
Dumai sungguh ada dan mudah ditemukan di peta: kota pelabuhan besar di tepi Selat Malaka, tempat kapal-kapal datang dan pergi setiap hari. Seru diceritakan pada anak bahwa nama kota ramai itu lahir dari sebuah cerita tentang tujuh putri yang rukun.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi lama nasib ketujuh putri jauh lebih sedih; dalam versi kami hutan memeluk mereka menjadi tujuh bukit kecil yang berjajar rukun — sedih yang lembut, bukan yang menakutkan. Bahan ngobrol: pangeran marah karena tidak mau bersabar. Apa yang terjadi kalau kita memaksakan keinginan?
Kesabaran itu penting; memaksakan kehendak hanya membawa kesedihan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.