← Kembali
Rencana kegiatan · RPPH

Putri Tujuh dan Asal Nama Dumai

Usia 3–7 · 3 menit 13 detik · 10 halaman

Identitas

Tujuan pembelajaran

Alat dan bahan

Pembukaan (10 menit)

  1. Salam, doa pembuka sesuai kebiasaan sekolah, absen.
  2. Pertanyaan pemantik: «Kapan kalian pernah menunggu giliran? Apa yang kalian kerjakan sambil menunggu?»
  3. Tunjukkan gambar halaman 2: «Tujuh kakak beradik sedang mandi di lubuk yang jernih. Coba hitung bersama: ada berapa putri?»
  4. Perkenalkan 3 kata: pesisir, lubuk, rimbun.

Inti (40 menit)

  1. Memahami: Putar atau bacakan halaman 1 sampai 4. Berhenti di akhir halaman 4, saat pangeran tidak mau bersabar dan menjadi marah. Tanya: «Menurut anak-anak, apa yang akan dilakukan Ratu Cik Sima untuk menjaga ketujuh putrinya?»
  2. Memahami: Lanjutkan halaman 5 sampai 10. Jeda sebentar, lalu tanya: «Apa jawaban Ratu Cik Sima kepada pangeran, dan mengapa pangeran menjadi marah?»
  3. Mengaplikasi: «Giliran kakak dulu»: anak duduk berbaris; selendang berjalan berkeliling. Setiap anak memakainya sebentar, lalu menyerahkannya sambil berkata «Silakan, giliranmu». Tanya: «Siapa yang memakai selendang lebih dulu? Di cerita, siapa yang menurut adat menikah lebih dulu?»
  4. Mengaplikasi: Mewarnai halaman 2 (ketujuh putri mandi di lubuk), lalu menghitung tujuh putri sambil menunjuk gambarnya.
  5. Merefleksi: Duduk melingkar. Bahas: «Coba ingat-ingat: dari kata apa nama kota Dumai berasal?», «Apa yang terjadi karena pangeran tidak mau bersabar?», «Mengapa tujuh bukit itu disebut saling menjaga seperti saudara?»

Penutup (10 menit)

  1. Recalling: Anak menyebutkan nama ratu dalam cerita dan nama kota yang lahir dari kata «d'Umai».
  2. Ulangi kata baru: pesisir, lubuk, rimbun, teguh, bijaksana.
  3. Pesan untuk di rumah: dengarkan cerita lagi bersama orang tua (kode PR dari guru), lalu ceritakan satu hal yang hari ini kamu tunggu dengan sabar.
  4. Doa penutup dan salam.

Asesmen (observasi)

Catatan untuk guru