

Halaman 1
Di kota Palembang, mengalirlah Sungai Musi yang lebar dan tenang. Di tengah sungai itu ada sebuah pulau kecil yang hijau bernama Pulau Kemaro. Inilah kisah lama tentang asal mula pulau itu.

Halaman 2
Dahulu, hiduplah seorang putri Palembang yang lembut hati bernama Siti Fatimah. Ia bersahabat dengan Tan Bun An, saudagar muda dari negeri Tiongkok yang ramah dan suka menolong orang-orang di pasar.
Halaman 3
Tan Bun An ingin meminang sang putri. Orang tuanya di negeri jauh mengirim hadiah: tujuh guci besar yang katanya berisi emas untuk keluarga Siti Fatimah. Sebuah kapal membawa guci-guci itu menyusuri Sungai Musi.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Di atas kapal, Tan Bun An membuka sebuah guci. Ternyata isinya sayur asin! Ia kecewa dan malu sekali. "Masa aku memberi hadiah sayur asin?" katanya. Tanpa berpikir panjang, guci-guci itu dilemparnya ke sungai.
Halaman 5
Guci terakhir terpeleset dan pecah di lantai kapal. Dari dalamnya berhamburan kepingan emas berkilauan! Rupanya emas itu disembunyikan di bawah sayur asin, supaya aman dari perampok selama pelayaran jauh.
Halaman 6
Tan Bun An sangat menyesal. "Aku terburu-buru menilai," katanya sedih. Ia melompat ke sungai untuk mencari guci-guci itu. Ia menyelam dalam sekali, jauh ke dasar sungai yang tenang.
Halaman 7
Siti Fatimah menunggu di tepi kapal dengan cemas. "Aku akan menemaninya," bisiknya pelan. Ia pun menyusul ke dalam sungai yang dalam. Sungai Musi yang tenang memeluk mereka berdua dengan lembut.
Halaman 8
Tidak lama kemudian, di tempat itu muncullah gundukan tanah dari dalam sungai. Gundukan itu tumbuh menjadi pulau kecil yang hijau. "Lihat, pulau baru!" seru orang-orang di tepian. Mereka menamainya Pulau Kemaro, pulau yang tidak pernah tenggelam.
Halaman 9
Orang Palembang percaya, pulau itu menjadi rumah bagi Tan Bun An dan Siti Fatimah, tempat mereka tinggal bersama selamanya. Kini di sana pohon-pohon tumbuh rindang dan burung-burung bernyanyi setiap pagi.
Halaman 10
Malam tiba di Sungai Musi. Air mengalir pelan, membawa cerita lama tentang kesetiaan. Lampu-lampu kota berkelip seperti bintang di atas air. Biarkan kisah ini menemanimu terlelap. Sampai bertemu di mimpi yang indah.
Legenda ini berasal dari Palembang dan lahir dari sejarah kotanya: Sungai Musi sejak dulu menjadi jalur dagang, tempat orang Palembang dan saudagar Tionghoa bertemu. Kisah Siti Fatimah dan Tan Bun An menjelaskan asal pulau kecil di tengah sungai — Pulau Kemaro, "pulau yang tidak pernah tenggelam".
Pulaunya nyata dan bisa dikunjungi dengan perahu dari kota Palembang. Di sana berdiri pagoda dan kelenteng tua, dan setiap perayaan Cap Go Meh pulau kecil ini ramai sekali oleh pengunjung — warisan budaya dua bangsa yang bertemu dalam satu cerita.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi kami sungai "memeluk" kedua tokohnya dengan lembut dan pulau menjadi rumah mereka. Bahan ngobrol: Tan Bun An terburu-buru menilai isi guci — ajak anak bicara tentang tidak menilai sesuatu dari luarnya saja.
Jangan terburu-buru menilai sesuatu hanya dari luarnya saja.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.