

Halaman 1
Di Sumatra bagian selatan, berdirilah sebuah kerajaan di tepi laut. Rajanya baik hati dan punya seorang putri yang lembut bernama Putri Jelitani. Rakyat sangat menyayanginya karena sang putri suka menolong siapa saja.

Halaman 2
Suatu masa, kemarau panjang datang. Hujan tidak turun berbulan-bulan. Sawah mengering, sungai menyusut, dan rakyat mulai kekurangan makanan. Raja sangat sedih melihat negerinya kehausan dan layu.
Halaman 3
Raja mengutus orang-orang bijak mencari jawaban. "Laut akan mengirim hujan jika ada hati yang tulus," kata seorang tetua. "Hati yang berani datang dan meminta untuk rakyatnya." Semua orang terdiam mendengarnya.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Malam itu Putri Jelitani tidak bisa tidur. Ia teringat anak-anak yang kehausan dan sawah yang retak-retak. "Aku putri negeri ini," pikirnya dalam hati. "Akulah yang harus berani melangkah untuk rakyatku."
Halaman 5
Pagi-pagi sekali, sang putri menghadap ayahnya. "Ayah, izinkan aku pergi ke laut dan meminta hujan," katanya lembut. Raja memeluknya erat. Ia khawatir, tetapi ia tahu hati putrinya sangat tulus dan teguh.
Halaman 6
Putri Jelitani berdiri di tepi laut. Ombak datang menyentuh kakinya, lembut seperti sapaan. "Wahai laut yang luas," katanya, "rakyatku kehausan. Aku datang dengan hatiku yang tulus, memohon hujan untuk mereka."
Halaman 7
Perlahan air laut bercahaya kebiruan. Dari dalam ombak terdengar suara lembut penjaga laut. "Hati yang tulus lebih berharga daripada seribu persembahan. Pulanglah, Putri pemberani. Hujan akan segera datang."
Halaman 8
Benar saja, awan kelabu berkumpul di langit. Titik-titik hujan pertama jatuh di pipi sang putri. Lalu hujan turun deras, membasahi sawah, mengisi sungai, dan rakyat berlarian keluar rumah dengan gembira.
Halaman 9
Kemarau panjang pun berakhir. Sawah kembali menghijau dan sungai mengalir jernih. Rakyat semakin menyayangi Putri Jelitani, putri yang berani dan tulus hatinya, yang melangkah sendiri ke laut demi negerinya.
Halaman 10
Malam turun di kerajaan tepi laut. Hujan rintik-rintik menyanyikan lagu tidur di atas atap. Seperti negeri yang kini tenang, hatimu juga boleh tenang. Pejamkan matamu pelan-pelan. Tidurlah yang nyenyak, sampai besok pagi.
"Putri Kemarau" adalah cerita rakyat Sumatera bagian selatan tentang kemarau panjang dan seorang putri yang berani melangkah demi rakyatnya. Intinya sederhana dan indah: hati yang tulus lebih berharga daripada seribu persembahan.
Kemarau bukan hal asing bagi anak Indonesia: setiap tahun ada musim kemarau, saat hujan lama tidak turun dan sawah menunggu air. Cerita ini enak dibacakan justru di musim itu — lalu, ketika hujan pertama akhirnya turun, anak akan ingat Putri Jelitani.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi lama, sang putri mengorbankan dirinya ke laut agar hujan turun; dalam versi kami ia cukup datang dengan hati tulus dan pulang dengan selamat. Bahan ngobrol: keberanian tidak selalu berarti melawan sesuatu — kadang berarti melangkah lebih dulu untuk menolong orang lain.
Keberanian dan ketulusan hati membawa kebaikan bagi banyak orang.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.