

Halaman 1
Dahulu kala hiduplah seorang gadis baik hati bernama Bawang Putih. Setelah ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dengan seorang janda yang mempunyai anak bernama Bawang Merah.

Halaman 2
Tak lama kemudian ayahnya pun meninggal dunia. Sejak itu Bawang Putih diperlakukan seperti pembantu: menyapu, memasak, dan mencuci sendirian setiap hari.
Halaman 3
Suatu pagi Bawang Putih mencuci pakaian di sungai. Tanpa sengaja selendang merah milik ibu tirinya terlepas dan hanyut terbawa arus.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayHalaman 4
“Cari sampai ketemu, jangan pulang tanpa selendangku!” bentak ibu tirinya. Bawang Putih menyusuri sungai jauh sekali sambil menahan tangis.
Halaman 5
Di hulu sungai ia bertemu seorang nenek. “Selendangmu ada padaku,” kata nenek itu. “Tinggallah seminggu dan bantu aku bekerja, nanti akan kukembalikan.”
Halaman 6
Bawang Putih bekerja dengan rajin dan tulus. Ketika hendak pulang, nenek itu menyodorkan dua labu, besar dan kecil. Bawang Putih memilih yang kecil karena merasa tidak pantas meminta banyak.
Halaman 7
Di rumah, labu itu dibelah. Betapa terkejutnya semua orang: di dalamnya penuh emas dan permata. Ibu tiri dan Bawang Merah menjadi iri hati.
Halaman 8
Keesokan harinya Bawang Merah sengaja menghanyutkan selendang lalu mencari nenek itu. Ia bekerja dengan malas dan banyak mengeluh sepanjang hari.
Halaman 9
Saat pulang, ia memilih labu yang paling besar tanpa mengucapkan terima kasih. Di rumah labu itu dibelah dengan hati berdebar-debar.
Halaman 10
Dari dalamnya keluar ular dan binatang berbisa. Ibu tiri dan Bawang Merah menyesali sifat serakah mereka, lalu meminta maaf kepada Bawang Putih.
«Bawang Merah dan Bawang Putih» paling sering disebut berasal dari Melayu Riau, tetapi ceritanya juga hidup di Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat — tanda bahwa dongeng ini sudah lama berpindah dari mulut ke mulut. Namanya diambil dari dua umbi dapur yang mirip bentuknya tetapi sama sekali berbeda rasanya.
Polanya dikenal di banyak negeri: anak yang rajin dan tulus tinggal bersama ibu tiri dan saudara tiri yang pilih kasih, lalu kebaikannya terbalas sementara ketamakan berujung buruk. Di Eropa pola yang sama melahirkan Cinderella. Bedanya, di sini hadiah datang lewat kerja dan kesediaan menerima yang kecil: Bawang Putih memilih labu yang kecil, Bawang Merah merebut yang paling besar.
Cocok untuk usia 4–7 tahun. Cerita ini enak dipakai untuk membicarakan rasa iri — mengapa Bawang Merah cemburu, dan apa yang bisa kita lakukan ketika perasaan itu datang kepada kita sendiri.
Ketulusan dan kerja keras selalu membawa kebaikan, sedangkan iri hati dan serakah hanya mendatangkan kesusahan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.