

Halaman 1
Dahulu kala, seorang Raja tua punya tiga putra. Ia bingung memilih penggantinya. "Baiklah," katanya. "Pergilah setahun penuh. Siapa yang membawa pulang anjing terkecil dan terlucu, dialah rajanya nanti." Ketiga pangeran pun berangkat.

Halaman 2
Si bungsu, Pangeran Denis, berkuda paling jauh. Malam turun dan hujan mengguyur hutan. Tiba-tiba ia melihat kastil putih bercahaya. Gerbangnya terbuka lebar. "Halo? Ada orang?" seru Denis. Obor-obor di lorong menyala sendiri, menuntunnya masuk.
Halaman 3
Di ruang makan, duduklah seekor kucing putih bermahkota kecil. "Selamat datang, Pangeran Denis," katanya dengan suara lembut. Denis terkejut. "Kamu bisa bicara?" "Tentu. Di sini semua kucing bisa bicara. Duduklah, makanan sudah siap."
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Setahun penuh Denis tinggal di kastil itu. Mereka berjalan-jalan di taman dan bermain petak umpet di lorong. Kucing Putih pandai bercerita dan pandai mendengarkan. "Kamu sahabat terbaikku," kata Denis suatu sore. Kucing Putih hanya tersenyum.
Halaman 5
Ketika waktunya pulang, Kucing Putih memberi Denis sebutir biji kenari. "Bukalah di hadapan ayahmu," katanya. Di istana, Denis membuka kenari itu. Keluarlah anjing mungil yang bisa menari di telapak tangan! Kedua kakaknya melongo kaget.
Halaman 6
"Bagus sekali!" kata Raja. "Tapi sekarang bawakan kain yang bisa melewati lubang jarum." Denis kembali ke kastil putih. "Aku sudah menyiapkannya," kata Kucing Putih sambil menyodorkan kacang kecil. Di dalamnya ada kain sehalus embun.
Halaman 7
Raja mengangguk kagum. "Ujian terakhir: bawalah teman yang paling baik hatinya untuk menemanimu selamanya." Denis termenung. "Aku hanya ingin bersama sahabatku," pikirnya. Ia kembali dan berkata, "Kucing Putih, maukah kamu ikut aku ke istana?"
Halaman 8
Kucing Putih menunduk. "Aku dulu seorang putri. Seorang peri menyihirku karena aku ingkar janji. Sihir ini hanya luruh jika ada yang menyayangiku apa adanya." Denis memeluknya. "Aku menyayangimu apa adanya, dan aku tidak akan ingkar janji padamu."
Halaman 9
Cahaya lembut memenuhi ruangan. Bulu putih itu berubah menjadi gaun putih, dan berdirilah seorang putri yang tersenyum. Di istana, Raja menyambut mereka dengan gembira. "Kamu membawa pulang yang paling berharga," katanya pada Denis.
Halaman 10
Di istana, lampu-lampu diredupkan satu per satu. Putri itu duduk di dekat perapian, teringat kastil putihnya yang jauh. "Selamat malam, sahabatku," bisik Denis. Selamat malam juga untukmu, sayang. Tutup matamu pelan-pelan.
Putri Kucing Putih juga karya Madame d'Aulnoy, pengarang Prancis yang dongeng-dongengnya dulu dibacakan keras-keras di ruang tamu para bangsawan. Kisahnya sekeluarga dengan dongeng-dongeng pasangan tersihir seperti Raja Katak: yang meluruhkan sihir bukan kegagahan, melainkan hati yang menerima.
Kastil putih di cerita ini penuh keajaiban khas d'Aulnoy: obor yang menyala sendiri, anjing mungil di dalam biji kenari, kain sehalus embun yang menembus lubang jarum. Di rumah, mainkan tebak-tebakan ala Kucing Putih: benda kecil apa yang bisa menyimpan "harta"? Kancing dalam kotak korek, gambar mungil dalam kulit kacang.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam dongeng tuanya sihir kucing putus dengan cara yang mengagetkan; versi kami memilih kalimat sederhana "aku menyayangimu apa adanya" — dan janji yang ditepati. Bahan ngobrol: Kucing Putih dulu disihir karena ingkar janji, dan Denis membebaskannya justru dengan berjanji. Kenapa janji kecil pun penting ditepati?
Menepati janji dan menyayangi sahabat apa adanya lebih berharga daripada hadiah apa pun.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.