Google PlayApp Store
Sampul cerita Putri Karang Melenu

Putri Karang Melenu

10 halaman3 menit 32 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Dahulu, di tepi Sungai Mahakam di tanah Kutai, hiduplah sepasang petinggi tua di Hulu Dusun. Hidup mereka tenang dan cukup. Hanya satu yang kurang: sudah lama sekali mereka mendambakan hadirnya seorang anak.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Suatu musim, hujan turun berhari-hari. Ketika membenahi loteng, sang petinggi menemukan seekor naga kecil bertanduk mungil, meringkuk di dalam bakul rotan. “Kasihan, ia kedinginan,” kata istrinya. Mereka merawatnya seperti anak.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Naga kecil itu tumbuh cepat, panjang dan berkilau, tetapi matanya selalu lembut. Suatu malam, dalam mimpi mereka, terdengar suaranya, “Ayah, Ibu, sudah tiba waktuku turun ke sungai. Antarkanlah aku besok pagi, ya.”

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Warga kampung membantu membuat titian bambu ke tepian. Naga itu meluncur pelan, menyentuh air Mahakam, lalu menyelam. Tiba-tiba air berputar-putar, hujan rintik turun, dan cahaya lembut memancar dari tengah sungai.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Dari pusaran air, muncullah seekor hewan ajaib: badannya seperti lembu, belalainya seperti gajah, dan bersayap lebar. Itulah Lembuswana, penjaga Sungai Mahakam. Di punggungnya terangkat sebuah gong besar berwarna keemasan.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Di atas gong itu, di tengah gumpalan buih putih, terbaring seorang bayi perempuan yang bercahaya. Lembuswana berenang mendekat ke tepian, dan sang petinggi menerima bayi itu dengan tangan gemetar. “Anak kita,” bisik istrinya. “Terima kasih, sungai.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Bayi itu dinamai Putri Karang Melenu. Ia tumbuh menjadi gadis yang lembut hati dan jelita. Ia suka duduk di tepian, dan pesut-pesut selalu datang berenang di dekatnya, seakan sungai tak pernah lupa pada anaknya sendiri.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Di kampung Jaitan Layar, tumbuh pula seorang pemuda gagah bernama Aji Batara Agung. Ketika keduanya dewasa, mereka dipertemukan dan menikah. Pesta digelar, gong bersahut-sahutan. “Hidup pengantin sungai!” sorak rakyat dari perahu-perahu berhias.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Putri Karang Melenu menjadi ratu Kutai yang bijaksana, ibu para raja. “Ratu kita lahir dari buih Mahakam,” tutur para tetua kepada anak cucu. “Karena itu jagalah sungai ini baik-baik, seperti ia menjaga kita semua.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Malam ini, bunyi gong terakhir memudar di atas air, dan Mahakam mengalir tenang seperti selimut yang panjang. Biarkan alirannya membuai tempat tidurmu pelan-pelan. Tidurlah, anak sungai yang disayang. Sampai pagi.

Tentang cerita ini

Legenda ini datang dari tanah Kutai di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Putri Karang Melenu dikenang dalam tradisi Kutai sebagai ratu yang lahir dari buih sungai dan menjadi ibu para raja — kisahnya bagian dari cerita asal-usul kerajaan Kutai, salah satu nama paling tua dalam sejarah Nusantara.

Jejaknya gampang ditunjukkan: Lembuswana, hewan penjaga Mahakam yang berbelalai dan bersayap, sampai kini menjadi lambang Kutai — patungnya berdiri di Tenggarong. Di kota itu pula orang Kutai menggelar Erau, pesta adat besar yang merayakan warisan kerajaan sungai ini. Dan pesut yang berenang di dekat sang putri adalah lumba-lumba air tawar Mahakam yang sungguh ada.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Tidak ada yang menyeramkan di sini — naga kecil yang dirawat dengan sayang justru membawa hadiah terindah. Bahan ngobrol: keluarga tidak selalu dimulai dari lahir, kadang dari merawat; dan mengapa orang Kutai berpesan menjaga sungai "seperti ia menjaga kita".

Untuk orang tua

Pesan moral

Kasih sayang yang tulus kepada makhluk kecil dapat kembali sebagai hadiah yang tak terduga besarnya.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Siapa yang ditemukan sepasang petinggi di loteng rumah mereka?
  2. Apa yang terjadi ketika naga itu menyelam ke Sungai Mahakam?
  3. Siapa nama hewan ajaib yang mengangkat gong dari dalam air?
  4. Mengapa para tetua berpesan agar sungai dijaga baik-baik?
  5. Kalau kamu menemukan hewan kecil yang kedinginan, apa yang akan kamu lakukan?

Untuk kelas

petinggilotengbakultitianmeringkukmendambakan

Cerita lain: Kalimantan

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.