

Halaman 1
Di hari ulang tahun, seorang anak mendapat hadiah. Sekotak prajurit timah, dua puluh lima jumlahnya! Semua gagah berseragam merah biru. Tapi prajurit terakhir hanya punya satu kaki, sebab timahnya kurang. Meski begitu, ia berdiri paling tegak.

Halaman 2
Di atas meja mainan berdiri istana kertas. Di pintunya, seorang penari kertas berdiri anggun dengan satu kaki terangkat. "Dia berdiri dengan satu kaki, sama sepertiku," pikir prajurit timah. "Dialah teman yang paling cocok untukku."
Halaman 3
Malam hari, mainan-mainan hidup dan bermain. Dari kotak pegas, meloncatlah boneka troll. "Hei, prajurit! Jangan pandangi penari itu terus!" serunya iri. Tapi prajurit timah tetap tenang, berdiri teguh, dan tidak menjawab sepatah kata pun.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Paginya, prajurit timah diletakkan di jendela. Tiba-tiba angin bertiup kencang, dan ia jatuh dari lantai tiga! Ia menancap di antara batu jalanan. Hujan pun turun deras. Prajurit timah menunggu dengan sabar, tegak seperti biasa.
Halaman 5
Dua anak lelaki menemukannya. "Ayo kita buatkan dia perahu!" Mereka melipat perahu dari koran, menaruh prajurit di dalamnya, dan melepasnya ke selokan. Perahu kertas melaju kencang, naik turun mengikuti arus air hujan yang deras.
Halaman 6
Perahu masuk ke terowongan gelap. Seekor tikus besar menghadang. "Berhenti! Mana surat izin lewatmu?!" cicitnya galak. Prajurit timah diam saja dan terus berlayar. Ia memeluk senapannya erat-erat dan berdiri makin tegak.
Halaman 7
Di ujung terowongan, air terjun kecil menanti. Byurrr! Perahu kertas basah dan tenggelam. Tepat saat itu seekor ikan besar lewat dan, hap! Prajurit timah tertelan. Di perut ikan gelap sekali, tapi ia berbisik, "Aku harus tetap teguh."
Halaman 8
Ikan itu tertangkap nelayan dan dibeli seorang ibu untuk makan malam. Waktu ikan dibuka di dapur... "Lho! Prajurit timah kita!" seru si anak. Ternyata itu rumah yang sama! Prajurit timah kembali ke meja mainan, ke dekat penari kertasnya.
Halaman 9
Prajurit timah dan penari kertas saling memandang, sama-sama berdiri dengan satu kaki. Malam itu angin bertiup dari jendela, dan prajurit timah terbawa masuk ke perapian. "Aku ikut denganmu," bisik penari kertas, lalu melayang ke sisinya.
Halaman 10
Di dalam perapian tidak ada yang sakit, hanya hangat dan terang. Mereka berdua berkilau seperti dua bintang kecil. Paginya, di antara abu, ditemukan sebuah hati timah kecil yang cantik. Cinta yang teguh tak pernah hilang. Selamat tidur, sayang.
Prajurit Timah yang Teguh adalah karangan Hans Christian Andersen tentang mainan yang setia. Prajurit timah bukan khayalan: hampir dua abad lalu itulah mainan yang paling digemari anak-anak Eropa — figur mungil yang dicetak dari timah dan dicat seragam merah biru, persis dua puluh lima prajurit dalam kotak hadiah di cerita ini.
Timah sendiri sangat dekat dengan Indonesia: logam putih mengilap ini sejak lama ditambang di Pulau Bangka dan Belitung, lalu dikirim ke seluruh dunia. Tunjukkan kedua pulau itu di peta — bahan mainan legendaris Eropa itu juga kebanggaan negeri kita.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam buku tua kisah ini berakhir di nyala perapian; versi kami menceritakannya sebagai cahaya yang hangat: prajurit dan penari berkilau "seperti dua bintang kecil", dan hati timah kecil yang ditemukan paginya juga ada dalam buku aslinya. Bahan ngobrol: teguh artinya tetap tenang dan setia walau keadaan sulit — di mana prajurit timah menunjukkannya?
Keteguhan hati membuat kita kuat melewati apa pun. Prajurit timah tidak pernah mengeluh walau perjalanannya sulit, dan hatinya tetap setia sampai akhir.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.