

Halaman 1
Di sebuah kampung nelayan di Minahasa, hiduplah sepasang suami istri. Sang istri bernama Pingkan, terkenal cantik dan cerdas. Sang suami bernama Matindas, nelayan yang rajin dan ramah.

Halaman 2
Hidup mereka sederhana dan bahagia. Matindas melaut mencari ikan, Pingkan menenun kain dan menjualnya di pasar. Sore hari mereka duduk berdua di pantai, menghitung perahu yang pulang.
Halaman 3
Suatu hari, kabar tentang Pingkan sampai ke telinga kapten perompak dari seberang. “Perempuan secerdas itu pantasnya ikut kapalku!” katanya sombong. Ia datang ke kampung tepat saat Matindas sedang melaut jauh.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Perompak mengetuk pintu. “Ikutlah aku ke kapalku!” Pingkan tidak menjerit. Ia berpikir cepat, lalu berkata tenang, “Baiklah, Kapten. Tapi di keluargaku ada dua syarat. Sanggupkah kau?”
Halaman 5
“Syarat pertama: hitung dulu semua butir jagung di lumbung ini.” Semalaman para perompak menghitung. “Sembilan ribu... eh, salah lagi!” Mereka mulai mengantuk, jagung berserakan ke mana-mana.
Halaman 6
Pagi harinya Pingkan memberi syarat kedua. “Tengoklah dulu penunggu keluargaku di sumur tua itu.” Sang kapten melongok ke sumur yang gelap. Di bawah sana ada wajah seram bermata besar — bayangannya sendiri! “HIII! Penunggunya galak!”
Halaman 7
Tepat saat itu terdengar gong dari arah pantai. Matindas dan para nelayan pulang! Obor menyala di mana-mana, sorak-sorai bersahutan. Para perompak panik, lari terbirit-birit ke kapal, dan kabur untuk selamanya.
Halaman 8
Matindas berlari memeluk istrinya. “Kau melawan mereka dengan apa?” tanyanya cemas. Pingkan tersenyum jahil. “Dengan jagung, sumur, dan kesabaran.” Keduanya tertawa sampai keluar air mata.
Halaman 9
Kampung mengadakan pesta ikan bakar di pantai. Kisah Pingkan diceritakan turun-temurun: kecerdikan mengalahkan kesombongan, dan kesetiaan membuat rumah menjadi tempat paling aman.
Halaman 10
Lihatlah, bulan sudah berjaga di atas kampung nelayan, seperti Pingkan dan Matindas yang saling menjaga. Kamu juga dijaga oleh orang-orang yang menyayangimu. Maka tidurlah dengan tenang malam ini.
Pingkan dan Matindas dikenang dalam cerita rakyat Minahasa, Sulawesi Utara, sebagai lambang kesetiaan suami istri. Nama keduanya masih hidup dan dikenal orang Minahasa sampai sekarang, dan kisah mereka biasa dituturkan sebagai cerita tentang istri yang cerdas dan rumah tangga yang saling menjaga.
Muslihat sumur dalam cerita ini bisa langsung dicoba di rumah: ajak anak melongok ke baskom atau ember berisi air di tempat remang — wajah "penunggu" yang dilihat kapten perompak hanyalah bayangannya sendiri. Percobaan kecil ini sekaligus menjelaskan kenapa orang yang sombong mudah tertipu oleh ketakutannya sendiri.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Beberapa versi lama kisah ini lebih keras — ada tokoh yang tewas dan ada pembalasan; kami menuturkan kemenangan lewat akal saja: jagung, sumur, dan kesabaran, tanpa kekerasan. Bahan obrolan: berpikir tenang saat takut, dan kecerdikan yang mengalahkan kesombongan.
Kecerdikan dan ketenangan bisa mengalahkan kesombongan tanpa perlu kekerasan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.