

Halaman 1
Di pegunungan Toraja, tinggallah seorang anak bernama La Dana. Ia terkenal cerdik. Akalnya berjalan lebih cepat daripada kakinya. Orang sekampung sering geleng-geleng kepala sambil tertawa, “Ada-ada saja akal si La Dana!”

Halaman 2
Suatu hari, La Dana dan Pak Rante mendapat hadiah dari pesta panen: seekor anak kerbau. “Kita bagi dua saja,” kata Pak Rante. “Aku bagian badannya, kau bagian kaki belakangnya.” La Dana mengangguk dengan senyum kecil.
Halaman 3
Kerbau itu tinggal di kandang Pak Rante. Tetapi setiap pagi La Dana datang. “Pak, kaki belakang itu milikku. Jangan sampai kena lumpur, ya!” Sorenya ia datang lagi. “Pak, tolong kaki kerbauku dicuci sebelum tidur!”
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Saat hujan turun, La Dana muncul di depan pintu. “Pak Rante, kaki kerbauku kedinginan!” Saat panas terik, ia datang berlari. “Pak, kaki kerbauku kepanasan!” Pak Rante menghela napas panjang. Ia tak bisa tenang sedikit pun.
Halaman 5
Akhirnya Pak Rante menyerah sambil tertawa. “Begini saja, La Dana. Ambillah kerbau ini seluruhnya. Sebagai gantinya, cukup beri aku sekeranjang padi.” Mata La Dana berbinar-binar. “Baik, Pak! Terima kasih!”
Halaman 6
Sejak hari itu, La Dana merawat kerbaunya sungguh-sungguh. Ia memandikannya di sungai, memberinya rumput segar, dan menambah alas kering di kandangnya. Kerbau itu tumbuh besar, kuat, dan sehat.
Halaman 7
Musim tanam pun tiba. La Dana menuntun kerbaunya ke sawah Pak Rante lebih dulu. “Bajaklah sawah Bapak sampai selesai,” katanya. “Bapak sudah baik kepadaku.” Pak Rante terkejut, lalu tersenyum lebar.
Halaman 8
Panen tahun itu melimpah ruah. La Dana mengantar padi ke rumah Pak Rante, bukan satu keranjang, melainkan tiga. “Satu untuk janjiku, dua untuk terima kasihku,” kata La Dana. Seisi kampung ikut bergembira.
Halaman 9
Malam itu ada syukuran kecil di depan rumah adat tongkonan. Pak Rante menepuk bahu La Dana. “Akalmu memang panjang, Nak. Tapi ternyata hatimu lebih panjang lagi.” Semua orang tertawa hangat di bawah bintang.
Halaman 10
Malam semakin larut di pegunungan Toraja. Di kandangnya, kerbau La Dana sudah tidur pulas. La Dana menguap dan berbaring. Seperti kerbau yang kenyang dan tenang itu, pejamkan matamu perlahan, dan tidurlah dengan hati gembira.
Cerita jenaka ini datang dari Tana Toraja, dataran tinggi Sulawesi Selatan. La Dana adalah tokoh cerdik yang terkenal dalam dongeng Toraja — perannya mirip Si Kancil di daerah lain: mengajak anak tertawa sambil berpikir. Kisah kerbau yang "dibagi dua" ini termasuk yang paling sering dituturkan.
Jangkar dunia nyatanya adalah kerbau itu sendiri. Bagi orang Toraja, kerbau bukan sekadar hewan ternak, melainkan harta yang sangat dihargai dan lambang kemakmuran keluarga; tanduk kerbau dipajang bersusun di tiang depan rumah adat tongkonan yang atapnya melengkung seperti perahu. Ajak anak melihat foto tongkonan dan mencari susunan tanduk itu.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi lama, cerita biasanya berhenti ketika La Dana berhasil mendapatkan seluruh kerbau dengan akalnya; bagian ia membalas budi kepada Pak Rante adalah pilihan kami, supaya cerdik tidak dibaca sebagai licik. Bahan obrolan: apa bedanya cerdik dan curang, dan bagaimana akal bisa dipakai untuk kebaikan.
Kecerdikan menjadi indah jika dipakai bersama kebaikan hati.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.