

Halaman 1
Dahulu, di tanah Luwu, hiduplah seorang putri. Namanya Putri Tandampalik. Senyumnya ramah. Hatinya lembut. Rakyat Luwu sangat menyayanginya, dari kampung pesisir sampai kampung di kaki gunung.

Halaman 2
Suatu hari kulit sang putri sakit. Muncul bintik-bintik yang gatal, dan tabib istana tak tahu obatnya. Tabib tertua berkata pelan, “Putri perlu tinggal di pulau yang tenang, dekat angin laut, sampai kulitnya pulih.”
Halaman 3
Datu Luwu, ayahnya, melepasnya di dermaga dengan berat hati. “Jangan cemas, Ayah,” kata Putri Tandampalik. “Aku akan menjaga diri, dan aku pasti kembali.” Perahu pun berlayar, ditemani beberapa pengawal setia.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Mereka tiba di pulau yang hijau dan sunyi. Bersama para pengawal, putri membangun pondok, menanam sayur, dan memelihara ayam. Meski jauh dari istana, ia tetap rajin, sabar, dan murah hati kepada siapa saja.
Halaman 5
Pada suatu pagi, seekor kerbau putih muncul dari balik semak. Ia mendekat perlahan, lalu menjilat tangan sang putri dengan lembut. Ajaib! Hari demi hari, bintik di kulit putri memudar, lalu hilang sama sekali.
Halaman 6
“Terima kasih, kerbau putih,” bisik putri sambil mengelus kepalanya. Sejak itu ia merawatnya seperti sahabat. Ia pun berpesan, “Di pulau ini, kerbau putih tidak boleh diganggu oleh siapa pun.”
Halaman 7
Suatu malam, seorang pangeran dari Bone tersesat saat berburu. Ia melihat cahaya pelita di pondok. “Permisi, bolehkah aku meminta air?” Putri menjamunya dengan sopan. Mereka bertukar cerita sampai bulan tinggi.
Halaman 8
Pangeran pulang membawa kabar tentang putri baik hati dari pulau itu. Kabar itu terbang sampai ke Luwu. Datu Luwu segera berlayar menjemput putrinya. “Anakku,” katanya haru, “kau sembuh, dan kau makin bijaksana.”
Halaman 9
Tak lama kemudian pesta besar digelar. Putri Tandampalik menikah dengan pangeran Bone. Pulau yang dulu sunyi tumbuh menjadi kampung nelayan yang ramai. Dan kerbau putih tetap berjalan bebas, dihormati semua orang.
Halaman 10
Sekarang bayangkan pulau itu: angin laut bertiup sepoi-sepoi, ombak kecil berkejaran di pasir. Biarkan suara ombak itu menina-bobokanmu malam ini. Tidurlah setenang laut di sekeliling pulau sang putri.
Kisah ini berasal dari tanah Luwu, salah satu kerajaan Bugis tertua dalam tradisi Sulawesi Selatan. Putri Tandampalik termasuk keluarga cerita putri yang diuji kesabarannya dan ditolong hewan istimewa — di sini seekor kerbau putih yang menyembuhkan.
Nama-nama dalam cerita ini masih ada di peta: Luwu dan Bone sampai sekarang menjadi nama daerah di Sulawesi Selatan. Ajak anak mencarinya di peta pulau Sulawesi yang bentuknya seperti huruf K — dari situ mudah bercerita bahwa dahulu kerajaan-kerajaan ini saling berlayar dan akhirnya berbesanan, seperti dalam dongengnya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi lama sang putri diasingkan dari istana karena penyakit kulitnya dianggap membawa sial; kami menuturkannya lebih lembut, sebagai perjalanan penyembuhan atas saran tabib, dan ayahnya melepasnya dengan berat hati. Bahan obrolan: bersabar saat sakit, dan tetap rajin serta ramah di tempat yang baru.
Kesabaran dan hati yang baik akan menemukan jalannya untuk pulih dan berbahagia.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.