

Halaman 1
Di sebuah kampung di tanah Bugis, anak-anak punya cerita seram. Namanya Nenek Pakande. Katanya ia tinggal di hutan. Katanya ia suka muncul saat senja. Hiii! Tapi jangan takut dulu — dengarkan ceritanya sampai habis.

Halaman 2
Nenek Pakande memang raksasa tua. Rambutnya awut-awutan seperti sarang burung. Tawanya “hi-hi-hi” terdengar sampai jauh. Kesukaannya ada dua: mengagetkan anak yang bermain sampai malam, dan mencuri ayam dari kandang warga.
Halaman 3
Warga kampung pusing. Ayam sering hilang, anak-anak takut tidur. Tapi ada satu anak yang tidak gentar: La Beddu si cerdik. “Tenang,” katanya. “Raksasa pun pasti punya rasa takut. Kita cari saja apa takutnya!”
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
La Beddu punya rencana: pura-pura ada bayi raksasa di kampung! Warga mengumpulkan capit udang yang besar, sebatang pohon pisang, dan gendang paling besar. “Nanti malam,” bisik La Beddu, “kita mulai sandiwaranya.”
Halaman 5
Senja turun. Nenek Pakande mengendap-endap menuju kandang ayam. Tiba-tiba dari balik rumah terdengar suara menggelegar: “OEEK! OEEK! IBU, AKU LAPAR!” Itu suara La Beddu yang berteriak dari dalam gendang besar!
Halaman 6
“Suara bayi siapa itu?!” Nenek Pakande melongok kaget. Seorang warga menunjukkan capit udang raksasa. “Ini kutu dari rambut bayi kami,” katanya. Lalu ia mengangkat batang pisang. “Dan ini sisirnya yang paling kecil.”
Halaman 7
La Beddu berseru lagi dari persembunyiannya: “IBU! AKU MAU MAIN SAMA NENEK-NENEK ITU!” Nenek Pakande gemetar. Kalau bayinya sebesar itu, seberapa besar ibunya?! “Am-ampun! A-aku pamit dulu!”
Halaman 8
Nenek Pakande lari tunggang-langgang. Selendangnya tersangkut di pagar. Sandalnya tertinggal sebelah. Tawanya “hi-hi-hi” berubah jadi “hu-hu-hu”. Ia terbirit-birit masuk hutan dan tak pernah kembali lagi.
Halaman 9
Sejak malam itu, ayam-ayam aman di kandang. Anak-anak malah suka menirukan lari Nenek Pakande sambil tertawa. “Yang besar belum tentu berani,” kata La Beddu, “dan yang kecil boleh jadi paling cerdik.”
Halaman 10
Kini Nenek Pakande hanya tinggal dongeng lucu sebelum tidur. Tak ada yang perlu kamu takutkan malam ini. Tarik selimutmu, peluk gulingmu, dan tidurlah senyenyak ayam-ayam di kandang yang aman.
Nenek Pakande adalah tokoh "penakut anak" yang terkenal dalam tradisi lisan Bugis di Sulawesi Selatan. Dahulu orang tua menyebut namanya agar anak-anak pulang sebelum gelap. Muslihat warga dalam cerita ini — capit udang raksasa, batang pisang sebagai "sisir bayi", dan suara menggelegar dari gendang — berasal dari versi aslinya yang memang jenaka.
Sesudah membaca, cerita ini enak sekali dimainkan ulang di rumah: satu orang jadi Nenek Pakande yang mengendap-endap, yang lain berteriak "OEEK! IBU, AKU LAPAR!" dari balik pintu. Lewat permainan peran seperti ini, tokoh seram berubah menjadi bahan tertawa — persis seperti yang terjadi pada anak-anak kampung di akhir cerita.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi lama Nenek Pakande memangsa anak-anak; dalam adaptasi kami ia hanya suka mengagetkan dan mencuri ayam, dan tidak ada yang terluka. Bahan obrolan: rasa takut biasanya mengecil kalau dibicarakan, dan yang bertubuh besar belum tentu pemberani.
Rasa takut bisa dikalahkan dengan akal dan keberanian, bahkan oleh yang paling kecil.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.