Google PlayApp Store
Sampul cerita Nenek Pakande

Nenek Pakande

10 halaman3 menit 8 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Di sebuah kampung di tanah Bugis, anak-anak punya cerita seram. Namanya Nenek Pakande. Katanya ia tinggal di hutan. Katanya ia suka muncul saat senja. Hiii! Tapi jangan takut dulu — dengarkan ceritanya sampai habis.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Nenek Pakande memang raksasa tua. Rambutnya awut-awutan seperti sarang burung. Tawanya “hi-hi-hi” terdengar sampai jauh. Kesukaannya ada dua: mengagetkan anak yang bermain sampai malam, dan mencuri ayam dari kandang warga.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Warga kampung pusing. Ayam sering hilang, anak-anak takut tidur. Tapi ada satu anak yang tidak gentar: La Beddu si cerdik. “Tenang,” katanya. “Raksasa pun pasti punya rasa takut. Kita cari saja apa takutnya!”

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

La Beddu punya rencana: pura-pura ada bayi raksasa di kampung! Warga mengumpulkan capit udang yang besar, sebatang pohon pisang, dan gendang paling besar. “Nanti malam,” bisik La Beddu, “kita mulai sandiwaranya.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Senja turun. Nenek Pakande mengendap-endap menuju kandang ayam. Tiba-tiba dari balik rumah terdengar suara menggelegar: “OEEK! OEEK! IBU, AKU LAPAR!” Itu suara La Beddu yang berteriak dari dalam gendang besar!

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

“Suara bayi siapa itu?!” Nenek Pakande melongok kaget. Seorang warga menunjukkan capit udang raksasa. “Ini kutu dari rambut bayi kami,” katanya. Lalu ia mengangkat batang pisang. “Dan ini sisirnya yang paling kecil.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

La Beddu berseru lagi dari persembunyiannya: “IBU! AKU MAU MAIN SAMA NENEK-NENEK ITU!” Nenek Pakande gemetar. Kalau bayinya sebesar itu, seberapa besar ibunya?! “Am-ampun! A-aku pamit dulu!”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Nenek Pakande lari tunggang-langgang. Selendangnya tersangkut di pagar. Sandalnya tertinggal sebelah. Tawanya “hi-hi-hi” berubah jadi “hu-hu-hu”. Ia terbirit-birit masuk hutan dan tak pernah kembali lagi.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Sejak malam itu, ayam-ayam aman di kandang. Anak-anak malah suka menirukan lari Nenek Pakande sambil tertawa. “Yang besar belum tentu berani,” kata La Beddu, “dan yang kecil boleh jadi paling cerdik.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Kini Nenek Pakande hanya tinggal dongeng lucu sebelum tidur. Tak ada yang perlu kamu takutkan malam ini. Tarik selimutmu, peluk gulingmu, dan tidurlah senyenyak ayam-ayam di kandang yang aman.

Tentang cerita ini

Nenek Pakande adalah tokoh "penakut anak" yang terkenal dalam tradisi lisan Bugis di Sulawesi Selatan. Dahulu orang tua menyebut namanya agar anak-anak pulang sebelum gelap. Muslihat warga dalam cerita ini — capit udang raksasa, batang pisang sebagai "sisir bayi", dan suara menggelegar dari gendang — berasal dari versi aslinya yang memang jenaka.

Sesudah membaca, cerita ini enak sekali dimainkan ulang di rumah: satu orang jadi Nenek Pakande yang mengendap-endap, yang lain berteriak "OEEK! IBU, AKU LAPAR!" dari balik pintu. Lewat permainan peran seperti ini, tokoh seram berubah menjadi bahan tertawa — persis seperti yang terjadi pada anak-anak kampung di akhir cerita.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi lama Nenek Pakande memangsa anak-anak; dalam adaptasi kami ia hanya suka mengagetkan dan mencuri ayam, dan tidak ada yang terluka. Bahan obrolan: rasa takut biasanya mengecil kalau dibicarakan, dan yang bertubuh besar belum tentu pemberani.

Untuk orang tua

Pesan moral

Rasa takut bisa dikalahkan dengan akal dan keberanian, bahkan oleh yang paling kecil.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Apa yang membuat warga kampung takut kepada Nenek Pakande?
  2. Bagaimana akal La Beddu mengusir raksasa itu?
  3. Mengapa Nenek Pakande percaya ada bayi raksasa di kampung?
  4. Apakah kamu pernah takut pada sesuatu, lalu ternyata tidak seseram yang kamu kira?

Untuk kelas

gentarsandiwaramengendapmenggelegartunggangawut

Cerita lain: Sulawesi

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.